6 Strategi Law Firm dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

0
308
6 Strategi Law Firm dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

6 Strategi Law Firm dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

Lawyer harus bersifat optimis, kreatif dan fleksibel melihat peluang. Menjaga cashflow, menerapkan strategi marketing yang spesial,dan unik dan training SDM ialah kunci untuk menghadapi pandemi Covid-19.

Rabu (27/5) lalu, Kliklegal.com kembali menyelenggarakan Interactive Online Discussion Legalpreneurship The 10th Series dengan tema: “Strategi Law Firm Menghadapi Covid-19”. Diskusi yang dipandu oleh Bimo Prasetio, Partner BP Lawyers, mendatangkan pembicara Johannes C. Sahetapy-Engel, Partner AKSET Law Firm dan Hendronoto Soesabdo, Partner AFHS Law Firm.

Pada acara tersebut, Johannes C. Sahetapy-Engel yang akrab dipanggil Jo dan Hendronoto Soesabdo yang akrab dipanggil Ninot, membagikan setidaknya enam strategi law firm dalam menghadapi pandemi Covid-19. Adapun sebagai berikut:

Pertama, mengatur cashflow.

Johannes mengatakan, firma hukum merupakan suatu bisnis. Menurut Jo, memang betul lawyer merupakan suatu profesi yang mulia, yang mana fee bukan suatu hal yang wajib karena lawyer pun punya kewajiban melakukan probono dan lain-lain.

“Tapi, ketika kita sudah bergabung pada suatu firma hukum atau menjalankannya lain lagi soalnya. Di Indonesia, walaupun sering digunakan istilah firma hukum tetapi sebenarnya bentuknya adalah persekutuan perdata. Yang mana para pihak bersekutu, memberikan modal dengan satu tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Jadi, tidak usah ragu bahwa kita merupakan suatu bisnis yang profitable (mencari keuntungan). Kalau orientasinya bukan profitable dapat dilakukan melalui LBH,” katanya.

Jo menuturkan, akibat dari firma hukum mencari keuntungan, maka firma hukum harus melakukan hal-hal seperti bisnis lainnya. Dalam masa sulit sekarang (Covid-19), kata Jo, kuncinya cuma satu, yaitu cashflow.

“Buat law firm, cashflow sangatlah penting, karena kita tidak tahu berapa lama Covid-19 ini ditetapkan sebagai bencana nasional dan akibat-akibatnya seperti PSBB, Karantina Wilayah, dan lain-lain. Kita juga perlu sadar bahwa imbas dari Covid-19 ini tidak semata-mata nampak dengan mudah. Artinya, apakah jumlah volume pekerjaan berkurang atau jumlah klien yang datang berkurang, itu yang kasat mata. Tapi yang tidak kasat matanya juga ada, misalnya, kita punya pekerjaan dan klien meminta agar bayarannya di akhir tahun atau dicicil mulai Januari 2021 serta permintaan diskon,” lanjutnya.

Ia menyebutkan, di AKSET lebih banyak menangani project based, artinya ada pekerjaan kemudian dibayar. Katanya, dengan adanya Covid-19 para investor telah melakukan pengereman dan melihat keadaan dulu, serta mereka tidak bisa melakukan apa-apa sehingga AKSET terpengaruh.

“Atau kalau ada pekerjaan, mereka akan mendikte, karena membayar lawyer itu bagi klien-klien kita dengan adanya kondisi saat ini, maka kita diletakkan di nomor 27 atau 28. Sama seperti kita, mereka juga harus menjaga cashflow. Salah satu cara maintenance cashflow yaitu melihat biaya-biaya yang non-esensial. Sayangnya, bagi kebanyakan pengusaha, membayar lawyer itu bagian dari biaya nonesensial karena fee lawyer bisa dibayar belakangan. Sama juga, AKSET akan memperhitungkan apa saja biaya-biaya yang non-esensial,” ujarnya.

Jo menerangkan, hari ini berbeda dengan krisis moneter tahun 1998, 2008, dan 2010. Menurutnya, saat ini yang menjadi fokus terkait nyawa orang dalam hal ini kesehatan dan semua orang terpengaruh oleh pandemi Covid-19.

“Pada waktu 1998 dan 1999, mungkin debitur-debitur besar yang terpengaruh dan bank-bank. Tetapi, industri manufaktur masih bisa jalan. Memang kurs rupiah melemah tapi secara keseluruhan bisnis masih bisa berjalan. Berapa lama Covid ini berlangsung, kita tidak pernah tahu. Sekarang kita lebih optimis, Juni mungkin sudah bisa mulai new normal. Sekarang itu ialah dalam fase menyesuaikan dengan keadaan, jadi saat ini seperti kita mengadakan seminar online, karena keadaan yang memaksa kita seperti itu. Nanti ketika vaksin sudah ditemukan, dan 80% orang di Jakarta sudah divaksin, rasanya kita akan kembali lagi seperti biasa. Di sisi lain, yang dikhawatirkan adanya second wave. Ketidakpastian ini lagi-lagi kuncinya kembali bagaimana menjaga cashflow,” tukasnya.

Kedua, lawyer harus memiliki sifat optimis

Jo berujar, salah satu sifat dari lawyer yang harus dipegang setiap saat, yakni seorang lawyer harus bersifat optimis. Kata Jo, karena dirinya percaya setelah 25 tahun berpraktik bahwa selalu ada kesempatan untuk lawyer.

“Menurut saya kesempatan di kantor Saya itu ada di Merger dan Akuisisi. Kantor Saya yang lama di SSEK, mereka expand dua kali lipat during 1998 crisis. Tidak ada rumus yang oke kalau seperti ini, krisis melambat dan sebagainya,” tuturnya.

Jo menjelaskan, adapun kesempatan lainnya yang dapat dilihat yaitu terkait restrukturisasi melalui PKPU maupun luar pengadilan. Ia mengatakan, karena itu memang terjadi, banyak debitur tidak bisa menjalankan usahanya maka mereka harus melakukan restrukturisasi kredit dengan bank.

“Juga kesempatan litigasi baik itu di pengadilan arbitrase atau yang sekarang naik daun mediasi. Kita juga harus cari peluang secara kreatif dan positif. Ini buat kami satu kesempatan lagi melakukan apa yang dilakukan saat kita mendirikan kantor 10 tahun yang lalu. Kita akan kirim email ke semua  orang, kontak semua teman-teman kita, kita akan aktif membuat news flash. Ini bisa kita gunakan sebagai momentum untuk mengingatkan teman-teman kita di In-house counsel dan lainnya. Kita gunakan media sosial instagram, linkedin, karena sekarang konsumen atau pengguna jasa hukum mencari tahu kita melalui internet,” pungkasnya.

Jo mengatakan, lawyer harus tetap optimis karena dari jumlah penduduk Indonesia yang hampir 270 Juta orang, jumlah lawyer tidak sampai satu persen. Jo mengungkapkan, yakinlah bahwa tetap ada kesempatan untuk pekerjaan dan fokus memberikan yang terbaik pada klien.

“Ini akan jadi the best marketing tools buat teman-teman. Covid-19 ini hanya merupakan salah satu fase saja yang harus dilewati. 5-7 tahun ke depan orang-orang akan ketawa-ketawa saja lagi melihat fenomena hari ini. Sama seperti sekarang kita bicara 1998, 2008, dan 2010,” tukasnya.

Sejurus dengan Jo, menurut Hendronoto, kuncinya saat ini sebagai seorang lawyer dirinya juga harus tetap optimis. Katanya, perkara-perkara kreditur-debitur, ketenagakerjaan, dan wanprestasi kontrak akan ada terus.

“Bahkan masuk dalam strategi kita menjadi target kita ke depan. Untuk non-litigasi, kita sedang ada klien yang ancang-ancang investasi di bidang logistik besar-besaran untuk teknologi. Industri seperti logistik, e-commerce, dan perbankan tetap dinamis dan tetap butuh bantuan kita sebagai penasehat hukum,” jelasnya

Ninot menuturkan, para lawyer harus sama-sama optimis dan semangat, serta harus berbuat sesuatu yang spesial dan unik, sehingga klien melihat lawyer secara spesial dengan keunikannya.

“Satu hal lagi yang lebih religius, mari kita spesialkan yang di atas (Allah SWT), karena rezeki ini bukan dari klien atau dari mana-mana, tetapi rezeki datangnya dari Tuhan dan didukung oleh orang-orang yang selama ini kita beri rezeki juga melalui doanya,” bebernya.

Ketiga, optimalisasi digital marketing.

Selain itu, Jo menyebutkan, langkah lain yang bisa dilakukan yaitu dengan improvisasi website law firm. Menurutnya, hampir jadi kewajiban, bahwa website itu harus ada bahasan terkait Covid-19.

“Jangan cuma ada tetapi juga harus diupdate karena peraturan berkembang sangat cepat. Memang capek untuk bisa give up dengan ini, tetapi lagi-lagi kita bisa memberdayakan mereka (tim) menjual ini seperti news flash, up to date soal Covid-19.

Menurut Ninot, dulu teknologi belum se-familiar sekarang sehingga pendekatan pada saat itu akan berbeda dengan kondisi saat ini.

“Tadi mas Jo bilang website dan digital marketing. Ini terjadinya sekarang, di 2008 dan 2010 tidak semasif sekarang,” lanjutnya

Ia menerangkan, terkait marketing dalam suasana seperti ini, pada prinsipnya sama seperti sebelumnya. Bahwa pihaknya menunjukan untuk siap sedia membantu dengan bantuan yang berkualitas.

“Ada dua tipe marketing hard selling dan soft selling. Saya bukan tipe hard selling. Saya bukan tipe yang bilang “kantor loe kasih kerjaan ke kantor gue dong”. Umumnya ketika Saya melakukan itu jarang sukses. Biasanya, yang Saya lakukan kalau perlu bantuan hukum Saya lebih mengandalkan mereka-mereka yang lebih dulu kenal dan tahu kerja kita dan juga kita pastikan kita punya target market. Jadi marketing buat saya tidak semua kita kirimkan digital marketing. Saya selektif pada klien. Saya pernah punya pengalaman mengikuti konvensi lawyer sedunia, disitu yang datang 40 persen lebih lawyer-lawyer dari Afrika. Sepulang dari sana juga tidak ada klien,” tukasnya.

Keempat, mengatur manajemen law firm.

Kemudian, Jo mengungkapkan, adapun strategi berikutnya terkait biaya. Jo mengatakan, saat ini law firm harus melakukan efisiensi. Menurutnya, ada dua komponen besar soal biaya yaitu sewa gedung dan gaji karyawan profesional.

“Ini kan fix cost. Kita harus melihat hal-hal lain apa yang bisa dikurangkan. Yang kami lakukan karena tidak berkantor, maka langganan koran sementara kita berhentikan. Kemudian, tadinya kita punya rental mobil tiga kita pangkas menjadi satu. Berikutnya, kita juga menekan biaya perjalanan dan marketing. Training juga kita lihat, training seperti apa yang bermanfaat buat lawyer maupun firma. Pengurangan gaji juga merupakan suatu hal yang telah kita lakukan. Filosofinya, menurut kita daripada kita nanti di bulan September atau Oktober tiba-tiba mengurangi gaji 50 persen atau lebih itu akan lebih menyakitkan. Sehingga kita berpikir bahwa, lebih baik kita start dari awal tetapi dengan persentase yang lebih kecil. Karena buat law firm itu asetnya yang utama itu orang atau lawyer. Kita mencoba lebih manusiawi, lebih awal, dengan sedikit pengurangan, dan tetap dengan persetujuan dari teman-teman. Lebih baik kita berada dalam satu perahu yang sama daripada kita melakukan PHK,” imbuhnya.

Jo menerangkan, tak kalah penting juga soal risk management (manajemen risiko). Sebagai bisnis, kata Jo, law firm harus me-manage risk-nya.

“Kalau kita terima klien sekarang kita harus lebih selektif lagi. Ada masalah atau gugatan tidak yang bersangkutan. Sekarang bisa lihat di Sipp pengadilan untuk mengetahui itu.  Lebih baik kita punya sedikit klien rajin bayar daripada punya banyak klien tetapi bayarnya sporadis dan belum tentu,” tuturnya.

Ninot menjelaskan soal manajemen law firm, bicara soal manajemen law firm pastinya berhubungan dengan Sumber Daya Manusia (SDM). SDM artinya kata Ninot, terkait recruitment, retensi, dan peningkatan kualitas SDM.

“Bagi saya, mengurangi gaji adalah langkah paling belakang, jangan sampai terjadi. Kasarnya, mesin kantor hukum itu adalah lawyer, gimana mesin itu bisa berjalan dengan baik, kalau lawyer-nya tidak bahagia. Saat ini adalah saat kita belajar dengan men-training lawyer-lawyer. Apabila saatnya dibutuhkan oleh klien kita siap dengan kualitas,” tuturnya.

Lebih lanjut Ninot menyebutkan, manajemen law firm juga terkait fasilitas kerja kantor dan teknologi.

Kelima, investasi dan optimalisasi penggunaan teknologi.

Ninot mengatakan,  filosofi dari AFHS Law Firm lebih mengedepankan investasi pada teknologi.

“Website harus dapat diandalkan tidak bisa seadanya, tidak update. Kantor kami baru lahir 2018 pertengahan tahun, jalan satu tahun sudah ada angin-angin Covid-19 berhembus dari Wuhan. Tapi yang menarik bagi kami strategi menjadi sama saja, waktu didirikan kita itu visinya sebagai new generation a firm. Teknologi diutamakan dan itu cara kita menggerakan kantor kami di Batam, Jakarta, dan Surabaya. Covid ini bagi kami justru membantu membuat klien terbiasa dengan teknologi. Dulu pernah law firm internasional aplikasikan webinar tetapi yang datang tidak banyak. Karena orang lebih senang datang di konvensi yang pakai perjalanan, naik pesawat bisnis, dan untuk-untuk meeting skala internasional pernah mengadakan melalui internet namun juga tidak berjalan dengan baik,” ucapnya.

Menurut Ninot, pada kondisi saat ini, mau tidak mau klien akhirnya menggunakan teknologi dan pada akhirnya klien jadi lebih kenal dengan teknologi.

“Video call ini dulu sebenarnya sudah ada tapi tidak terbiasa, ada juga yang menarik, ada klien kita tetap tidak mengandalkan teknologi. Contohnya pak Haji, yang tanahnya disewakan di berbagai gedung di Jakarta, dia minta kita bantu masalah dokumentasi hukumnya. Ada klien yang maunya pakai Skype kita pakai Skype juga mau pakai Google Meet kita pakai google meet. Kita juga fleksibel  menyesuaikan dengan klien. Akhirnya komputer saya isinya ada Skype, Zoom, Google Meet,” pungkasnya.

Keenam, menciptakan pekerjaan baru.

Jo mengungkapkan, pihaknya juga mencoba menciptakan pekerjaan baru di masa pandemi Covid-19 ini.

“Jadi dari news flash yang kita bikin soal Covid, PSBB, lockdown, dan sekarang izin keluar masuk Jakarta, itu kita coba identifikasi klien-klien kita, teman-teman kita yang terpengaruh masalah ini kira-kira siapa. Kalau sudah tahu kita bikin semacam email atau surat yang lebih spesifik ke mereka. Ini kita create, kita coba ciptakan potensi pekerjaan baru,” terangnya.

Ninot mengatakan, dunia hukum bukan kali ini saja menghadapi krisis. “Kita bisa lihat dari pengalaman yang sudah-sudah sebagai komparasi. Krisis pada 1998 menyebabkan pasar modal tidak terlalu beraktifitas. Kita lihat berbagai perkara perbankan, dulu di 1998 ada kepailitan yang booming. Munculah tokoh-tokoh kepailitan. Pada tahun 2008 sampai 2010 perkara perbankan juga sangat banyak,” katanya.

Ninot menjelaskan, bahwa terjun di dunia hukum berbeda dengan terjun dengan dunia industri. Kata Ninot, di dunia hukum kita bisa dinamis mengikuti perkembangan dan bidang-bidangnya juga fleksibel. Sedangkan di dunia industri, apabila sudah terjun pada satu bidang, maka tidak mudah untuk berganti arah.

“Kalau di properti tidak mudah berubah misalnya menjadi perusahaan IT. Bisa tetapi tidak semudah law firm atau lawyer. Kemarin saya lihat rekaman 2020 yang diselenggarakan CNBC di Ritz-Carlton. Pembicaranya di awal 2020 terlihat masih optimis, termasuk Menteri Keuangan juga punya keyakinan yang sama pada saat itu. Waktu itu ada perspektif bahwa Covid-19 akan selesai dalam waktu tiga bulan. Tapi ternyata kita alami sekarang justru berbeda. Mood mereka kita lihat di media massa sekarang tidak se-optimis awal 2020,” ujarnya.

SF

Dipromosikan

TINGGALKAN JAWABAN

Masukkan komentar Anda!
Mohon masukkan nama Anda di sini

*