Fajar Reyhan, Lawyer Muda yang Mantap Memilih Jalur Litigasi

Di jalur litgasi, ia bisa mempraktikkan materi hukum acara yang dipelajarinya di bangku kuliah.

0
917
Fajar Reyhan ketika ditemui usai memaparkan dalam workshop lawyer muda di Legalo, Jakarta, Jumat (9/2). Sumber Foto: PHB/KLIKLEGAL

Advokat menjadi salah satu profesi yang diidamkan oleh para lulusan Fakultas Hukum di Indonesia. Tidak heran, pasca lulus kuliah, mereka segera menempuh pendidikan advokat, mengikuti ujian hingga magang untuk dapat memilih profesi yang terhormat (officium nobile) tersebut.

Salah seorang yang menempah jalan tersebut adalah Fajar Reyhan, seorang lawyer muda yang telah mantap memilih untuk berkarier di jalur litigasi. (Baca Juga: Paustinus Siburian, Advokat yang Berani Uji Materi UU Jaminan Produk Halal).

Fajar menceritakan ketika duduk di bangku kuliah, awalnya dirinya sempat ragu untuk berprofesi sebagai pengacara. Di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, ia memilih program kekhususan hukum administrasi negara dengan spesialisasi keuangan publik. Namun, setelah lulus kuliah, dia menemukan ketertarikannya di bidang litigasi.

Sebagai informasi, secara umum, pekerjaan advokat diklasifikasikan ke dalam dua kategori. Pertama, litigasi yang mencakup sengketa-sengketa yang diselesaikan di pengadilan, seperti kasus pidana, gugatan perdata dan sebagainya. Kedua, non litigasi yang tidak bersentuhan dengan sengketa di pengadilan, seperti isu-isu korporasi, pembuatan kontrak dan sebagainya.

Fajar mengaku mulai berkeinginan menjadi seorang lawyer untuk menjadi penolong pertama bagi keluarga terdekat yang terjerat dengan masalah hukum. Selain itu, tentunya ingin memperoleh ilmu dan pengalaman ketika berhubungan dengan aparat penegak hukum. (Baca Juga: Ini 5 Hal yang Harus Diperhatikan Ketika Menyusun Perjanjian).

“Pasti ada aja deh keluarga yang bermasalah dengan hukum, seperti masalah waris, masalah perjanjian, dan segala macam. Dan buat saya ketika kita menjadi lawyer dan pernah punya pengalaman bukan berarti saya sok pintar tetapi setidaknya pasti yang pertama kali dihubungi oleh orang tuanya yang tahu ada orang terdekat yang hukum pasti saya,” ujar Fajar kepada KlikLegal usai workshop yang diselenggarakan oleh Komunitas Lawyer Muda, Jakarta, Jumat (9/2).

“Kebetulan di keluarga saya itu yang background hukum cuma saya doang sehingga pasti mau tidak mau karena saya punya tanggung jawab untuk memberikan share pengalaman, memberikan edukasi sama orang-orang terdekat memahami tentang hukum itu bagaimana,” lanjut Fajar. (Baca Juga: Lestari Indah, Insinyur yang Berkecimpung Selama 30 Tahun di Dunia Penanaman Modal).

Lawyer dari ACS Law Firm mengaku dirinya sering mengadvokasikan kasus-kasus hukum terutama di bidang litigasi selama hampir enam tahun. Menurutnya, hal menarik saat menjadi lawyer litigasi itu adalah segala ilmu hukum acara yang dipelajari selama di perguruan tinggi dapat dipraktikkan langsung saat menangani klien.

“Jadi yang menariknya ilmu hukum acara itu ketika itu mulai dari bikin surat laporan polisi, teknis pengiriman berkas ke kejaksaan, buat saya itu di situ ilmu yang saya dapetin semua, bahkan ada ilmu-ilmu baru juga saya bisa menangani perkara itu. Memang sih uang kerugiannya enggak dikembaliin sepenuhnya tapi saya bisa mengembalikan asset-aset itu ke korban. Itu menurut saya pengalaman yang menarik. Itu kasus pertama yang dipegang dan sampai saat ini masih berkesan,” ujar Fajar.

Lebih lanjut, Fajar pun menuturkan menjadi lawyer litigasi membuat dirinya punya banyak teman. Mulai dari orang pengadilan, kepolisian, kejaksaan, dan penjabat lainnya. Bahkan, teman yang bukan pejabat juga ia tetap berkawan, seperti cleaning service, office boy, orang kantin dan sebagainya. “Bukan maksud untuk gimana-gimana ya, enggak ada salahnya kan berkawan dengan siapa pun karena suatu saat mungkin kalau ada apa-apa mereka yang bisa bantu kita. Jadi saya enggak pilih-pilih juga,” tuturnya.

Meski begitu, Fajar pun sempat merasakan suka duka menjadi lawyer litigasi. “Biasa sih pressure kerjaan dari pimpinan atau partner di lawfirm karena lumayan buat menekan kita. Sebab, kita dituntut kerja tuh seefisien mungkin dan sebisa mungkin tuh cepat gitu. Dan di kantor saya itu sebisa mungkin untuk tidak menunda-nunda pekerjaan lalu ditanamkan oleh partner kami itu,” katanya. (Baca Juga: Mufti Djusnir, Sarjana Farmasi yang Memilih Profesi Sebagai Polisi).

Ia berpesan kepada para mahasiswa yang berkeinginan untuk menjalani profesi sebagai advokat. Pertama, kalian tidak boleh menunda-nunda pekerjaan. Kedua, kalian harus gigih dan tekun. “Kadang di lapangan itu suka ada kendala-kendala, tapi di sisi lain klien pengen cepet gitu, jadi ada pressure tersendiri,” tutupnya.

(PHB)

TINGGALKAN JAWABAN

Masukkan komentar Anda!
Mohon masukkan nama Anda di sini

*