BEI Nilai Kinerja Emiten Indonesia Lebih Unggul dari Malaysia, Singapura, dan Thailand
Pendapatan emiten Indonesia dalam bertumbuh 1 persen pada kuartal I-2020 dibanding kuartal I-2019. Sedangkan, pendapatan perusahaan tercatat di Malaysia minus 5 persen, Singapura minus 16 persen, dan Thailand minus 2 persen.
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna mengatakan, BEI mencatat sebanyak 296 emiten atau setara 43 persen dari total perusahaan tercatat telah menyampaikan laporan keuangan kuartal I-2020. Menurutnya, meskipun mengalami koreksi laba bersih, rata-rata kinerja emiten Indonesia lebih unggul daripada emiten di Malaysia, Singapura, dan Thailand.
“Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, pendapatan emiten di BEI dalam denominasi rupiah bertumbuh 1 persen dan agregat laba bersih turun 19,7 persen pada kuartal I-2020 dibanding kuartal I-2019. Sementara itu, emiten di bursa efek lain mengalami koreksi pendapatan dan laba bersih yang lebih dalam. Perhitungan tersebut menggunakan denominasi dolar Amerika Serikat (AS),” katanya kepada wartawan, Minggu, (28/6) lalu.
Nyoman mengungkapkan, adapun pendapatan perusahaan tercatat di Malaysia mengalami minus sebesar 5 persen, Singapura minus 16 persen, dan Thailand minus 2 persen. Berikutnya, kata Nyoman, dari segi laba bersih, perusahaan di Malaysia mengalami minus 35 persen, Singapura minus 30 persen, dan Thailand minus 41 persen.
“Sejak 17 Juni 2020 lalu, jumlah emiten yang telah melaporkan kinerja kuartal I-2020 di Malaysia sebanyak 644 perusahaan atau 66 persen dari total emiten, sementara di Singapura sebanyak 238 perusahaan atau 34 persen dari total emiten, dan di Thailand sebanyak 698 perusahaan atau setara 86 persen dari total emiten,” lanjutnya.
Nyoman menerangkan, BEI sebelumnya telah memberikan relaksasi kepada emiten melalui perpanjangan tenggat waktu penyampaian laporan keuangan kuartal I-2020 dan laporan tahunan selama dua bulan dari waktu yang ditetapkan.
“Hasilnya nilai perhitungan kinerja emiten akan terus bergerak. Lebih lanjut dari sisi investor pasar modal, hingga Mei 2020, pertumbuhan jumlah investor sebesar 13 persen menjadi 2,8 Juta Investor. Terdiri dari investor saham, reksa dana, dan obligasi,” ujarnya.
Nyoman menyebutkan, dari sisi penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) Indonesia pada kuartal I-2020 masih terbanyak dengan 18 IPO atau 58 persen dari total 31 IPO di ASEAN. Ia mengatakan, sementara Thailand tercatat dua IPO dengan presentase 6 persen , Malaysia tercatat 6 IPO dengan persentase 19 persen, dan Singapura tercatat 5 IPO dengan persentase 16 persen dari total IPO di Asia Tenggara.
Nyoman menilai, meski pandemi Covid-19 akan membuat jumlah IPO tahun ini bakal menurun, namun jumlah IPO pasar modal Indonesia tetap yang terbaik di ASEAN.
“Hingga Juni 2020 sudah ada 28 emiten baru. Dari 21 emiten, 11 emiten merupakan perusahaan dengan skala aset besar di atas Rp250 Miliar, 8 dengan aset Rp50-250 Miliar, dan 2 dengan aset di bawah Rp50 Miliar,” tutupnya.
Sementara itu, Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi mengatakan, investor saham mengalami kenaikan sebesar 8 persen dari tahun 2019 atau mencapai jumlah 1,19 Juta investor saham berdasarkan single investor identification (SID) per Mei 2020. Menurutnya, jika dilihat dari klasifikasi usia investor, pasar modal Indonesia mulai didominasi oleh investor muda dan milenial.
“Hal itu tercermin dari tren pertumbuhan investor saham yang berada pada usia 18-30 tahun dalam 4 tahun terakhir. Di samping itu, terdapat tren positif dari pertumbuhan aktivitas investor ritel dalam tiga bulan terakhir terlihat dari lonjakan transaksi kelompok SID Ritel yang secara rata-rata naik lebih dari 50 persen selama periode April 2020 sampai Juni 2020 dibandingkan di periode yang sama pada tahun sebelumnya,” jelasnya.
Hasan menerangkan, pertumbuhan produk seperti Exchange Traded Fund (ETF) yang eksponensial membuat Indonesia menduduki peringkat pertama di ASEAN. Katanya, pada Juni 2020, telah dicatatkan 2 produk ETF baru di bursa, sehingga sampai dengan saat ini telah terdapat 45 ETF tercatat, 22 manajer investasi Penerbit ETF, dan 7 dealer partisipan ETF di Pasar Modal Indonesia.
“Nilai transaksi ETF secara keseluruhan juga terus menunjukkan peningkatan yang signifikan pada beberapa tahun terakhir dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 55 persen sejak 2016 sampai dengan 2019,” imbuhnya.
Ia menyebutkan, meskipun mengalami penurunan di Maret 2020 akibat pandemi Covid-19, rata-rata transaksi harian ETF terus meningkat sampai dengan Februari 2020 yang dicatatkan sebesar Rp 130,82 Miliar per hari.
Sebagai penutup Hasan menyatakan, pada masa pandemi Covid-19, BEI turut melakukan penyesuaian serangkaian kegiatan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat.
“Seluruh kegiatan tersebut saat ini telah dilakukan secara online, baik untuk kegiatan edukasi kepada calon investor dan investor, maupun kepada perusahaan-perusahaan yang memiliki minat untuk menggalang dana jangka panjang dari pasar modal. Selain itu, BEI tetap fokus dalam melakukan serangkaian implementasi inisiatif strategis sebagai upaya pendalaman pasar dan peningkatan perlindungan investor,” pungkasnya.
SF








































