Grace Surya: Menganyam Nalar Hukum Hingga Panggung Brand Janji Jiwa

Grace Surya: Menganyam Nalar Hukum Hingga Panggung Brand Janji Jiwa
Sumber Gambar: Kumparan.com

Grace Surya menempuh pendidikan hukum, tetapi membangun karier panjang di dunia marketing hingga dipercaya memimpin strategi brand Jiwa Group. Perjalanannya menunjukkan bagaimana lintas pengalaman membentuk cara Janji Jiwa menjaga relevansi dan kedekatan dengan konsumen.

Lulus dari Fakultas Hukum Universitas Trisakti ternyata tidak membawa Grace Surya ke jalur karier yang identik dengan ruang sidang, firma hukum, atau meja legal perusahaan. Ia justru memilih jalan yang cukup jauh dari pendidikan formalnya: marketing dan pembangunan brand. Pilihan itu kemudian membawanya melewati perjalanan profesional lebih dari 17 tahun di berbagai industri.

Karier Grace berkembang dari media, retail, FMCG, pariwisata, teknologi, hingga F&B. Namanya pernah berada di balik aktivitas marketing sejumlah perusahaan besar seperti Coca-Cola, Tourism New Zealand, Uber, Grab, Flash Coffee, hingga ALVA. Perjalanan tersebut membuat Grace bukan sekadar berpindah industri, tetapi terus berhadapan dengan tantangan yang sama: bagaimana memahami konsumen dan membuat sebuah brand tetap relevan.

Latar belakang hukum akhirnya menjadi bagian menarik dari perjalanan tersebut. Pendidikan dan profesi memang tidak selalu berjalan dalam satu garis lurus. Pada Grace, perjalanan itu justru menunjukkan bagaimana kemampuan berpikir terstruktur, membaca persoalan, dan melihat berbagai kepentingan dapat menemukan ruangnya di dunia bisnis.

Baca Juga: Potongan 4% Selama 30 Tahun, Seberapa Besar Artinya bagi Pensiunan Jiwasraya?

Belasan Tahun Membangun Brand Sebelum Janji Jiwa

Sebelum bergabung dengan Jiwa Group, rekam jejak Grace banyak diwarnai perusahaan dengan karakter konsumen yang berbeda. Ia pernah menangani marketing di Coca-Cola, memimpin brand marketing Grab, hingga menjadi Country Head of Marketing Indonesia di Flash Coffee. Setelah itu, Grace juga sempat memimpin fungsi marketing ALVA sebelum kembali masuk ke industri kopi.

Pengalaman lintas industri tersebut membuat satu hal terlihat dari perjalanan Grace: marketing bukan hanya perkara membuat kampanye yang ramai dibicarakan. Brand juga harus mampu membaca perubahan perilaku konsumen, menjaga relevansi, sekaligus memastikan strategi yang dibuat punya dampak terhadap bisnis. Kombinasi antara kreativitas dan hitungan komersial inilah yang kemudian dibawanya ke Jiwa Group.

Pada April 2025, Grace bergabung sebagai Marketing Director Jiwa Group. Posisi tersebut bahkan merupakan peran baru yang sebelumnya masih ditangani langsung oleh CEO dan Founder Jiwa Group, Billy Kurniawan. Grace kemudian dipercaya memimpin strategi marketing dan brand secara menyeluruh untuk portofolio grup.

Ketika Janji Jiwa Tak Lagi Hanya Bicara Kopi

Masuknya Grace datang ketika Janji Jiwa telah berkembang menjadi salah satu jaringan kopi lokal dengan ratusan gerai di Indonesia. Tantangannya pun berubah: bukan lagi hanya memperkenalkan produk, tetapi menjaga brand tetap dekat dengan konsumen ketika pilihan kopi semakin banyak. Dalam profil profesionalnya, Grace menyebut dirinya memimpin pembaruan strategi brand dan marketing Jiwa Group yang mendorong peningkatan brand equity sekaligus mengoptimalkan marketing ROI dan ROAS.

Arah tersebut terlihat dari cara Janji Jiwa mencoba bergerak melampaui urusan menjual segelas kopi. Melalui kampanye “Free Your Good Vibes” dan kehadiran Janji Jiwa Culture, brand ini mulai mendorong ruang yang lebih dekat dengan komunitas, kreativitas, serta ekspresi generasi muda. Grace menyebut pendekatan tersebut sebagai upaya menjadikan Janji Jiwa sebagai “teman baik” bagi komunitas.

Pendekatan berbasis komunitas itu sejalan dengan strategi yang dilekatkan pada kepemimpinan Grace di Jiwa Group. Ia disebut berperan dalam membentuk strategi brand berbasis data menuju identitas yang lebih jelas dan purpose-led, sekaligus menghadirkan kampanye yang dekat dengan Gen Z dan milenial. Fokusnya bukan sekadar mengejar perhatian, tetapi membangun hubungan yang membuat sebuah brand punya tempat dalam keseharian konsumennya.

Karier Tidak Harus Berjalan Lurus

Perjalanan Grace Surya memberi gambaran bahwa gelar pendidikan tidak selalu menentukan satu profesi sepanjang hidup. Dari bangku Fakultas Hukum, ia justru menemukan kariernya di dunia marketing dan tumbuh melalui berbagai perusahaan dengan skala serta karakter yang berbeda. Kini, perjalanan itu membawanya berada di balik salah satu brand kopi lokal yang telah dikenal luas masyarakat Indonesia.

Menariknya, Grace tidak benar-benar meninggalkan cara berpikir yang dibentuk dari perjalanan panjang sebelumnya. Dunia brand menuntut kemampuan membaca manusia, menimbang pilihan, bernegosiasi, hingga mengambil keputusan di tengah perubahan yang cepat. Skill yang barangkali tidak terasa asing bagi seseorang yang pernah belajar melihat persoalan dari berbagai sisi.

Dari Fakultas Hukum hingga memimpin marketing Jiwa Group, kisah Grace akhirnya bukan sekadar cerita seseorang yang “banting setir”. Ini adalah cerita tentang bagaimana jalur karier dapat berubah, sementara kemampuan yang dibangun di sepanjang perjalanan justru terus dibawa. Dan di Janji Jiwa, perjalanan itu kini bertemu dengan tantangan baru: membuat brand yang sudah besar tetap punya alasan untuk dipilih.

(RED)

Dipromosikan