Fathia Izzati: Melangkah dari Dispute untuk Melantunkan ‘Anything You Want’

Fathia Izzati: Melangkah dari Dispute untuk Melantunkan 'Anything You Want'
Sumber Gambar: JPNN.com Jabar

Fathia Izzati pernah menapaki dunia hukum hingga menjajal karier di firma hukum impiannya. Namun, perjalanan hidup membawanya menjadi vokalis Reality Club sekaligus seorang ibu. Dari Choice of Law hingga Choice of Life, ia membuktikan bahwa gelar bukan batas untuk menentukan masa depan.

Sebagian besar lulusan hukum bermuara sebagai pengacara, hakim, atau bekerja di perusahaan. Sebagian lagi justru menemukan panggilan hidupnya di tempat yang jauh berbeda, seperti Fathia Izzati, yang kini dikenal sebagai vokalis band Reality Club. 

Dibalik penampilannya di atas panggung, perempuan yang akrab disapa Chia ini memiliki perjalanan akademik dan profesional di bidang hukum yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Perjalanannya seolah menggambarkan salah satu judul lagu Reality Club, I’ll Do It Myself. Dari mahasiswa hukum yang aktif membuat konten YouTube, menjajal karier di firma hukum, hingga menjadi musisi sekaligus ibu, Fathia menunjukkan bahwa pendidikan tidak harus membatasi seseorang pada satu pilihan profesi.

Baca Juga: 20 Korporasi Tersangka Karhutla, Menakar Risiko Pidana dan Pencabutan Izin Usaha

Langkah Mengenal Diri

Jauh sebelum dikenal sebagai vokalis Reality Club, Fathia telah membangun popularitas melalui kanal YouTube sejak 2011. Kontennya yang membahas bahasa, berbagai aksen bahasa Inggris, dan pengalaman hidup membuatnya dikenal sebagai kreator dengan karakter yang ekspresif. 

Menariknya, kegiatan tersebut tetap dijalaninya ketika menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI). Ditengah aktivitas kreatifnya, Fathia juga menunjukkan keseriusan dalam mempelajari hukum internasional. 

Pada 2015, ia bersama tim FH UI berhasil menembus delapan besar Willem C. Vis International Commercial Arbitration Moot di Wina, Austria. Prestasi tersebut diperoleh melalui persiapan selama berbulan-bulan, termasuk latihan argumentasi, riset hukum, serta penyusunan dokumen hukum untuk simulasi sengketa komersial internasional.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa dunia hukum bukan sekadar pendidikan formal yang dijalaninya. Fathia pernah berada dalam lingkungan akademik yang kompetitif dan berhadapan dengan persoalan hukum lintas negara. Meski demikian, ketertarikannya pada dunia kreatif tetap tumbuh beriringan dengan cita-citanya berkarier di bidang hukum.

Sempat Menjajal Karier 

Setelah menyelesaikan pendidikan hukumnya pada 2018, Fathia sempat mencicipi dunia kerja di firma hukum. Berdasarkan profil LinkedIn miliknya, ia tercatat bergabung sebagai Associate Trainee di Assegaf Hamzah & Partners (AHP) selama April hingga Juni 2018. Meski periode tersebut relatif singkat, pengalaman itu menjadi bagian penting dari perjalanannya sebelum memutuskan lebih serius menekuni industri kreatif.

Dalam sebuah acara bersama mahasiswa di Bandung pada Desember 2025, Fathia mengungkapkan bahwa bekerja di firma hukum memang pernah menjadi impiannya. Namun, di saat bersamaan, ia sudah membangun karier sebagai kreator konten dan mengembangkan kecintaannya terhadap musik. Kondisi tersebut sempat membuatnya berada dalam persimpangan antara mengejar profesi pengacara atau melanjutkan perjalanan sebagai musisi.

Menariknya, Fathia tidak memandang keputusan tersebut sebagai sesuatu yang harus diambil secara terburu-buru. Ia memilih menjalani kedua bidang terlebih dahulu sampai memiliki pertimbangan yang lebih matang. Baginya, mengikuti passion tetap harus disertai sikap realistis agar pilihan karier tidak hanya didasarkan pada keinginan sesaat.

Menentukan Jalan Sendiri

Pilihan Fathia akhirnya semakin mengarah pada musik bersama Reality Club, band yang dibentuk pada 2016 bersama kakaknya, Faiz Novascotia Saripudin, dan rekan-rekannya. Melalui karya seperti Anything You Want, Alexandra, dan Is It the Answer?, Reality Club membangun basis penggemar yang luas. Perjalanan mereka bahkan membawa band tersebut tampil sebagai pembuka konser Arctic Monkeys di Jakarta pada 2023.

Di luar panggung, kehidupan Fathia juga memasuki babak baru setelah menikah dengan Randa Trihatmaja pada 2021 dan menyambut kelahiran anak pertamanya pada 2022. Kini, ia menjalani peran sebagai ibu sekaligus musisi yang terus berkarya. Sementara kanal YouTube pribadinya tidak lagi seaktif dahulu, identitas publiknya semakin lekat dengan perjalanan Reality Club.

Perubahan tersebut bukan berarti latar belakang hukumnya kehilangan arti. Justru, pengalaman akademik dan profesional itu menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk perspektif serta kemampuan komunikasinya. Ia tidak harus terus bekerja sebagai praktisi hukum untuk menunjukkan bahwa pendidikan yang pernah ditempuh tetap memiliki nilai.

Bukan Akhir Perjalanan

Kisah Fathia Izzati menawarkan sudut pandang lain tentang keberhasilan seorang lulusan hukum. Memiliki gelar Sarjana Hukum tidak selalu berarti seseorang harus menghabiskan seluruh kariernya di ruang sidang atau firma hukum. Pengetahuan, kedisiplinan, kemampuan analisis, dan pengalaman yang diperoleh selama pendidikan dapat menjadi bekal untuk berkembang di bidang lain.

Keputusannya juga mengingatkan bahwa perjalanan karier tidak selalu berbentuk garis lurus. Seseorang dapat memiliki cita-cita, mewujudkannya, lalu menemukan tujuan baru ketika pengalaman dan prioritas hidupnya berubah. Dalam perjalanan Fathia, hukum pernah menjadi jalur profesional yang dijajaki, sementara musik berkembang menjadi ruang aktualisasi yang lebih dominan.

Barangkali itulah pesan yang paling dekat dengan perjalanan hidup Fathia, dimana pendidikan memberi seseorang bekal untuk melangkah, tetapi tidak harus menentukan ke mana langkah itu berakhir. Seperti judul album keempat Reality Club, Who Knows Where Life Will Take You?, tidak ada yang benar-benar mengetahui ke mana hidup akan membawa seseorang. Hal yang terpenting adalah memiliki keberanian untuk memilih dan menjalani jalan tersebut.

(RED)

Dipromosikan