Shinta Nurfauzia: Hukum Mengasah Sensitivitas Risiko. Bisnis Mengajarkan Cara Menaklukannya

Shinta Nurfauzia: Hukum Mengasah Sensitivitas Risiko. Bisnis Mengajarkan Cara Menaklukannya
Sumber Gambar: iNews

Shinta Nurfauzia menunjukkan bahwa memahami risiko tidak selalu berarti menghindarinya. Dari lawyer, membangun Konsula, melakukan pivot, hingga melahirkan Lemonilo, setiap fase memperlihatkan bagaimana keputusan besar sering lahir saat kepastian justru belum tersedia. 

Perjalanan Shinta Nurfauzia nyatanya bukan dimulai dari dunia makanan sehat. Ia menempuh pendidikan hukum di Universitas Indonesia, kemudian melanjutkan pendidikan di Harvard Law School. Setelah itu, Shinta juga sempat menjalani profesi sebagai lawyer sebelum akhirnya memilih fokus penuh membangun bisnis.

Keputusan tersebut bukan berarti pendidikan hukumnya ditinggalkan begitu saja. Dalam wawancara dengan Suara.com, Shinta justru mengatakan bahwa belajar hukum tetap banyak membantunya dalam menjalankan bisnis. Baginya, pendidikan formal bukan tujuan akhir dan juga bukan batas seseorang untuk berkarya.

Di titik ini ada pelajaran yang menarik. Ilmu yang dipelajari seseorang tidak selalu harus berakhir menjadi nama profesinya. Kadang, nilai terbesar dari sebuah pendidikan justru baru terlihat ketika cara berpikirnya digunakan di tempat yang sama sekali berbeda.

Baca juga: RUU Ketenagakerjaan Baru: Saatnya Mengakhiri Ketidakpastian Hukum bagi Dunia Usaha dan Pekerja

Mengubah Arah

Shinta juga tidak langsung membangun Lemonilo. Bersama Ronald Wijaya dan Johannes Ardiant, ia lebih dulu menjalankan Konsula, startup yang bergerak di bidang kesehatan. Konsula mengambil pendekatan kuratif, yaitu membantu ketika seseorang sudah membutuhkan layanan kesehatan.

Namun, perjalanan mereka kemudian berubah arah. Shinta menjelaskan bahwa Konsula akhirnya dipivot menjadi Lemonilo dengan pendekatan yang berbeda. Bukan lagi berfokus pada orang yang sudah sakit, melainkan membantu orang yang masih sehat agar tetap sehat. Dari perubahan itulah Lemonilo lahir pada 2016.

Peristiwa ini barangkali lebih penting daripada cerita keberhasilannya setelah itu. Mereka tidak mempertahankan bentuk bisnis pertama hanya karena sudah telanjur membangunnya. Ketika melihat persoalan yang bisa diselesaikan dengan cara berbeda, mereka berani mengubah arah. Mengambil risiko ternyata bukan selalu soal memulai sesuatu yang baru, tetapi juga berani meninggalkan strategi lama ketika realitas menunjukkan jalan lain.

Industri Mi Instan

Setelah beralih ke Lemonilo, Shinta dan tim melihat masalah lain. Produk sehat sebenarnya sudah tersedia, tetapi menurutnya harganya relatif mahal dan aksesnya masih terbatas. Produsen kecil juga menghadapi persoalan distribusi, marketing, branding, serta keterbatasan data. Lemonilo kemudian mencoba menjembatani persoalan itu dengan produk sehat yang lebih mudah dijangkau masyarakat.

Lemonilo masuk ke industri mi instan, kategori yang sudah sangat besar dan penuh pemain mapan. Shinta bahkan menggambarkan keputusan itu sebagai sesuatu yang dari luar mungkin terlihat “cukup gila”. Saat masuk pada 2017, menurutnya mereka masih bukan siapa-siapa dan hanya membawa mimpi serta prinsip yang mereka percaya.

Di sinilah perjalanan Shinta menjadi lebih menarik dari cerita “lawyer banting setir”. Ia tidak meninggalkan kemampuan membaca risiko. Ia justru menggunakannya untuk memilih risiko yang mempunyai alasan untuk diambil. Bagi Shinta, entrepreneurship sendiri bukan semata mengejar keuntungan, tetapi soal menemukan masalah masyarakat yang layak diselesaikan.

Hukum Membaca Risiko

Latar belakang keluarga juga ikut menjelaskan mengapa masalah kesehatan menjadi personal bagi Shinta. Ia bercerita bahwa diabetes menggerogoti anggota keluarganya, termasuk kakek, nenek, paman, dan ibunya. Pengalaman itu membuatnya ingin menjadi orang pertama dalam keluarganya yang dapat menjalani hidup tanpa diabetes, sekaligus mendorong ketertarikannya terhadap gaya hidup sehat.

Karena itu, keputusan membangun Lemonilo bukan muncul dari tren semata. Ada masalah yang pernah ia lihat sendiri, bisnis pertama yang harus diubah arahnya, pasar yang belum tentu menerima produk mereka, hingga keputusan masuk ke kategori sebesar mi instan. Semua itu datang tanpa kepastian bahwa akhirnya akan berhasil.

Mungkin disitulah pelajaran paling relevan dari perjalanan Shinta. Memahami risiko tidak harus membuat seseorang selalu memilih jalan paling aman. Justru semakin memahami konsekuensinya, seseorang seharusnya semakin mampu membedakan risiko yang ceroboh dengan risiko yang memang layak diperjuangkan.

Hukum mungkin membiasakan seseorang bertanya, “Apa yang bisa salah?” Perjalanan Shinta menunjukkan bahwa dalam bisnis ada satu pertanyaan lain yang sama pentingnya, “Kalau peluang ini memang berarti, risiko mana yang siap kita ambil?”

(RED)

Dipromosikan