Berkat IE-CEPA, 8.000 Produk Indonesia Gratis Bea Masuk Ke Negara Eropa
IE-CEPA mempermudah pelaku usaha dan meningkatkan neraca perdagangan Indonesia.
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia telah mensosialisasikan perjanjian Indonesia – The European Free Trade Association (EFTA), Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). EFTA itu sendiri terdiri dari 4 negara yakni Islandia, Liechstein, Norwegia dan Swiss, Kamis (16/9).
IE-CEPA telah digodok semenjak tahun 2005 dan telah disepakati oleh Indonesia dan EFTA (Islandia, Liechtenstein, Norwegia dan Swiss) pada Desember 2018. Kemudian IE-CEPA telah diratifikasi oleh Indonesia pada Mei 2021 dan akan diimplementasikan per tanggal 1 November 2021.
Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga dalam acara sosialisasi tersebut mengatakan bahwa sampai saat ini terdapat 23 perjanjian perdagangan Indonesia dengan negara-negara lainnya yang telah ditandatangani, ratifikasi dan dalam tahap implementasi, salah satunya adalah IE-CEPA.
“Indonesia hari ini mencatat neraca perdagangan yang surplus artinya ekspor kita jauh lebih besar dari impor. Angka ekspor juga sangat besar, berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada Juli 2021 angka ekspor mencapai 14,42 miliar US Dolar dan angka tersebut merupakan rekor yang tertinggi semenjak tahun 2011.” ucapnya dalam acara sosialisasi tersebut.
IE-CEPA merupakan salah satu bentuk komitmen Kementerian Perdagangan untuk mewujudkan arahan-arahan dari Presiden RI, Joko Widodo dalam pembukaan Rapat Kerja Kementerian Perdagangan RI yakni memperluas pasar ekspor nontradisional, membantu UMKM untuk siap ekspor, mempercepat penyelesaian perundingan perjanjian perdagangan dan implementasinya.
“Ini semua sesuai dengan arahan Presiden kita, Pak Jokowi menyampaikan untuk bisa mencapai neraca perdagangan yang surplus dan hal itu kita lakukan dan kita capai. Ini merupakan hasil kerja sama kita semua, Kemendag, Lintar Kementerian Lembaga dan Pemerintah Daerah.” tambahnya.
Manfaat IE-CEPA Bagi Indonesia
Wamendag menambahkan bahwa dengan adanya IE-CEPA maka akan semakin menyuburkan neraca perdagangan Indonesia karena IE-CEPA banyak memberikan kemudahan untuk pelaku usaha.
“Salah satu manfaat adanya IE-CEPA ini ada pada cost tarif, tarif bea masuk ke negara EFTA, kurang lebih hampir mencapai 8000 produk indonesia dapat diekspor kesana dengan tarif 0%. Ini adalah sebuah kemudahan.” tegasnya.
Ketua Tim Perunding Indonesia untuk IE-CEPA Soemadi Brotodiningrat, juga turut menghadiri sosialisasi tersebut. Menurutnya, keempat negara tersebut memang memiliki populasi yang kecil namun tingkat perekonomiannya bagus bahkan Liechstein menjadi negara yang sangat kecil namun memiliki PDB per kapita yang paling tinggi di dunia.
Dalam sosialisasi tersebut dipaparkan beberapa manfaat IE-CEPA lainnya, yakni sebagai berikut:
- IE-CEPA merupakan perjanjian pertama Indonesia dengan negara-negara di Benua Eropa. Sehingga IE-CEPA menjadi “hub” atau pintu masuk untuk meningkatkan akses pasar perdagangan barang, jasa, dan investasi Indonesia. Hal tersebut dikarenakan EFTA memliki jaringan kerja sama FTA/CEPA yang paling luas di dunia termasuk Uni Eropa
- Meningkatan ekspor dan mendorong investasi. EFTA merupakan pasar yang memiliki daya beli yang tinggi dan penanaman modal asing yang besar namun belum dimanfaatkan dengan maksimal. Indonesia telah mengekspor banyak produk ke EFTA dan kian meningkat bahkan sebelum CEPA berlaku.
- Komplementaritas barang jasa dan investasi. Indonesia dan EFTA saling melengkapi bukan bersaing. Dilansir dari laman resmi Kementerian Perdagangan RI, komoditas ekspor utama Indonesia ke negara EFTA adalah emas, perhiasan, serat optik, bulldozer dan pipa sementara impor Indonesia dari EFTA antara lain adalah bahan peledak, jam dan jam tangan, perikanan serta vitamin.
- Membantu pemulihan ekonomi indonesia pasca pandemi covid-19, dengan diimplementasikan IE CEP dan adanya uu cipta kerja maka akan mempercepat pemulihan ekonomi, IE CEPA sejalan dengan UU Ciptaker
- Bersaing dengan negara tetangga, Singapura EFTA-FTA 2003 dan Filipina EFTA-FTA 2018
Soemadi menambahkan, “Maka dari itu pemerintah pusat dan pemerintah daerah diminta untuk saling bekerja sama dan menghimbau pemda untuk memaksimalkan UMKM yang ada supaya tidak berkutat di dalam negeri saja karena negara di EFTA adalah negara dengan kapasitas UMKM paling besar.”
Dalam sambutan Wamendagri, ia menutup dengan menyampaikan bahwa Indonesia harus menjadi bangsa yang mengekspor.
NR








































