Edukasi Politik ala Mens Rea Pandji Pragiwaksono

Edukasi Politik ala Mens Rea Pandji Pragiwaksono
Sumber Gambar: Instagram Pandji Pragiwaksono

Lewat Mens Rea, Pandji berusaha memberikan edukasi politik kepada masyarakat Indonesia melalui hiburan, yang menurut Keyakinan Saya, ini merupakan cara yang ringan untuk masalah yang berat, MEMILIH PEMIMPIN.

Pandji Pragiwaksono, seorang Komika, sudah melewati 4x pergantian presiden, dia menyadari pentingnya mengubah cara pandang politik sehingga menghasilkan pilihan pemimpin yang memiliki kapasitas dalam memimpin (dan mungkin membawa perubahan).

Berbagai cerita miris di negara ini (disarikan oleh berbagai media) disajikannya. Seperti kasus salah tangkap oleh polisi, rekayasa dan manipulasi pemberian bantuan kepada masyarakat untuk memilih capres dan banyak contoh lainnya.

Lewat berbagai humor satire akan kejadian di Indonesia yang dilontarkan oleh pejabat negeri ini. Menurut keyakinan saya, hal seperti ini adalah langkah kritis menyampaikan kritik dengan cara yang ringan (tapi tidak menjatuhkan).

Menurut keyakinan saya, WHY yang diangkat Pandji adalah Indonesia harus dipimpin oleh orang yang tepat sehingga masyarakat harus peduli politik dan cerdas memahami situasi politik.

Jangan sampai pemimpin yang dipilih tidak memahami tugasnya. Dia memberikan analogi ketika Wapres membuat program “Lapor Mas Wapres” yang dianggap pekerjaan customer service, padahal tugasnya adalah memberikan solusi bukan menampung masalah. 

Di sisi lain, dia memberikan ilustrasi orang rajin tidak selalu pintar. Seperti kasus tukang kuli bangunan yang memasang kloset jongkok di dinding tapi tidak memahami kesalahannya. Tanpa kapasitas, kompetensi dan “kesadaran” pekerjaan tidak bisa diselesaikan dengan baik. 

Banyak orang berpikir:

“Kalau rakyat diberi data yang benar, mereka akan memilih yang lebih baik.”

Ini asumsi legal-rasional. seperti di ruang sidang, fakta menjadi argumen hingga putusan. Masalahnya, pemilih bukan hakim.

Dalam ilmu politik ini disebut motivated reasoning:

“Manusia menyaring informasi untuk membenarkan pilihan yang sudah ada, bukan untuk mencari kebenaran baru.“

Edukasi sering hanya membuat orang lebih pintar membela pilihannya, bukan mengubahnya. Oleh karena itu, Edukasi harus menyentuh kepentingan pribadi. Karena orang jarang berubah karena demokrasi, indeks makro. teori tata kelola.

Sedangkan mereka berubah karena:

“Oh, ini merugikan usaha saya.”

“Ini bikin anak saya susah kerja.”

“Ini bikin kampung saya rugi.”

Di sisi lain, kampanye hoaks sering lebih kuat dari edukasi. Kok bisa?

Karena hoaks itu sederhana, emosional, memberi musuh, memberi rasa “kita vs mereka”

Sedangkan edukasi itu sifatnya kompleks, penuh nuansa, menuntut berpikir dan sering tidak memberi kambing hitam, melainkan jelas siapa pelakunya.

Secara evolusi otak manusia, narasi konflik selalu mengalahkan data. 

Pada akhirnya, politik bukan tentang benar–salah, tapi:

“Siapa yang paling mengancam atau melindungi hidup saya.”

Jadi, apakah edukasi sia-sia?

Tidak. Edukasi tidak bekerja seperti iklan, tapi bekerja seperti investasi jangka panjang. Ia tidak mengubah hasil pemilu ini. Ia mengubah struktur pemilih 5–10 tahun ke depan.

Negara dengan demokrasi kuat bukan karena rakyatnya pintar, tapi karena generasi demi generasi dibiasakan berpikir kritis.

Edukasi bisa mengubah pilihan politik!

Tapi hanya pada orang yang belum terkunci identitasnya, dengan pesan yang menyentuh hidupnya, dan dari orang yang dia percaya.

Itu sebabnya pekerjaan ini berat, tapi juga satu-satunya yang benar-benar berkelanjutan. Jangan sampai tertipu (lagi). 

Sekian ringkasan saya, mohon izin para intel (sebagaimana disitir dari Pandji).

Bimo Prasetio, Advokat.

Dipromosikan