Friday I’m in Law Series: Pentingnya Melindungi Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) bagi Pengusaha

0
0
Friday I’m in Law Series Pentingnya Melindungi Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) bagi Pengusaha

Friday I’m in Law Series: Pentingnya Melindungi Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) bagi Pengusaha

Pemahaman yang perlu dipahami (oleh pengusaha) adalah bahwa aspek hukum itu jangan dilihat sebagai cost, tetapi dilihat sebagai investasi jangka panjang.

Pada Jumat (24/4), KlikLegal kembali menyelenggarakan Friday I’m In Law Series yang mengangkat tema “Pentingnya Melindungi Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) bagi Pengusaha” yang diisi oleh Managing Partner BP Lawyers sekaligus Konsultan Kekayaan Intelektual, Asharyanto.

Pada kenyataannya, suatu usaha mengandung banyak Kekayaan Intelektual di dalamnya, mulai dari merek, desain industri, hak cipta, paten, hingga desain tata letak dan sirkuit terpadu. Meskipun begitu, masih banyak pengusaha yang memandang sebelah mata perlindungan kekayaan intelektual dalam usahanya. Lantas, mengapa perlindungan Hak Atas Kekayaan Intelektual menjadi penting bagi pengusaha?

Pertama-tama, perlu melihat terlebih dahulu permasalahan yang sering terjadi di lapangan. Menurut Asharyanto, pada praktiknya pengusaha sering kali tidak menjadikan perlindungan atas Kekayaan Intelektual pada usahanya sebagai skala prioritas. Akibatnya, hal ini sering kali menjadi bumerang bagi pengusaha itu sendiri.

Challenge dari hak cipta, merek, dan paten adalah pengusaha ini kalau menjalankan usaha ada dilemanya karena mungkin di awal-awal membangun bisnis itu aspek perlindungan Kekayaan Intelektual belum menjadi skala prioritas. Tapi lambat laun, ketika menjalankan bisnisnya, menjadi lupa. Lalu ketika ingin mendaftarkan, kecolongan, dan saat diketahui ternyata karyawannya sendiri,” jelas Asharyanto.

Pada kesempatan yang sama, Asharyanto juga menegaskan mengenai kekeliruan yang sering kali didengar dari pengusaha dan masyarakat, yakni menyamakan merek sebagai paten. Sebab, kita seringkali mendengar ada ungkapan “mereknya sudah dipatenkan.” Padahal, keduanya adalah jenis Kekayaan Intelektual yang jauh berbeda, begitu pula dalam hal perlindungannya.

Berdasarkan penuturannya, perlindungan merek dilakukan terhadap pada tanda di suatu produk yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa. Ia menjelaskan bahwa merek yang mendapatkan perlindungan adalah yang pertama kali didaftarkan atau first to file. Lebih lanjut, dalam hal pendaftaran merek pun terdapat tantangan-tantangannya tersendiri.

“Banyak hal yang menjadi challenge dalam proses pendaftaran merek ini adalah mengenai penelusuran mereknya karena banyak orang yang belum memahami bahwa ketika menelusuri merek itu tidak hanya di DJKI saja, tapi juga WIPO dan sumber-sumber dari luar negeri,” terang Asharyanto.

Sementara itu, paten merupakan temuan oleh seorang penemu di bidang teknologi yang tidak ada duplikasinya atau orang yang lebih dulu menemukannya. Proses pendaftarannya pun juga berbeda dari merek. Sebab, dalam pendaftarannya, seorang penemu perlu untuk menjelaskan struktur histori mengenai bagaimana ia menemukan temuan tersebut sampai bagaimana penemu melakukan penelitian.

Lebih lanjut, Asharyanto juga menjelaskan mengenai pentingnya mengkomersialisasikan kekayaan intelektual. Menurutnya, sebuah brand itu bisa membuat valuasi sebuah perusahaan menjadi lebih tinggi. Begitu pula dengan Kekayaan Intelektual lainnya. Berdasarkan penjelasannya, terdapat cara-cara yang dapat ditempuh dalam mengkomersialisasikan suatu Kekayaan Intelektuall, antara lain dengan dipakai sendiri, lisensi atau waralaba, kolaborasi, sampai dengan dijual.

“Kenapa perlu adanya Kekayaan Intelektual karena pastinya sebuah bisnis butuh reputasi, mempertahankan konsumen loyal, sampai perlu ada eksistensi. Ketika suatu bisnis memiliki Kekayaan Intelektual dan sudah besar perusahaannya, maka valuasinya bisa mendukung dari kapasitas bisnisnya,” tutur Asharyanto.

Terakhir, Asharyanto memberikan tips-tipsnya bagi pengusaha sebelum mendaftarkan Kekayaan Intelektual. Pertama, hal yang paling penting adalah pengusaha harus paham jenis Kekayaan Intelektualnya. Sebelum melakukan pendaftaran, pengusaha harus melakukan klasifikasi skala prioritas jenis Kekayaan Intelektual yang ingin didaftarkan dari produk/usahanya. Kedua, apabila dalam suatu bisnis terdapat banyak Kekayaan Intelektual, maka pengusaha perlu mengidentifikasi kebutuhan perusahaan. Apakah suatu Kekayaan Intelektual memiliki nilai ekonomi atau tidak. Terakhir, apabila pengusaha sudah memahami jenis Kekayaan Intelektual dan kebutuhan perusahaan, maka langsung lakukan pendaftaran. Asharyanto menekankan bahwa apabila pengusaha memang kesulitan, maka pengusaha dapat meminta bantuan dari konsultan agar mempermudah prosesnya sekaligus mengurangi risiko pendaftaran menjadi ditolak.

“Pemahaman yang perlu dipahami (oleh pengusaha) adalah bahwa aspek hukum itu jangan dilihat sebagai cost, tetapi dilihat sebagai investasi jangka panjang,” tegas Asharyanto.

 

NM

Dipromosikan

TINGGALKAN JAWABAN

Masukkan komentar Anda!
Mohon masukkan nama Anda di sini

*