Hadapi Persaingan P2P Lending, Pegadaian Siapkan Strategi Digital Lending

Hadapi Persaingan P2P Lending, Pegadaian Siapkan Strategi Digital Lending

Hadapi Persaingan P2P Lending, Pegadaian Siapkan Strategi Digital Lending

“Digital lending ini akan memiliki dua saluran. Pertama, secara tidak langsung dengan bekerja sama dengan P2P lending modal kerja terbesar. Ke depan, Pegadaian berencana akan menggandeng tiga hingga empat P2P lending modal kerja lain”.

PT Pegadaian Tbk tengah mengatur strategi guna menghadapi persaingan fintech peer to peer lending (P2P Lending) yang semakin berkembang di Tanah Air. Saat ini, Pegadaian telah menyiapkan produk digital lending yang memberikan pinjaman modal kerja bagi usaha menengah ke atas.

Direktur Teknologi dan Digital Pegadaian, Teguh Wahyono menjelaskan, konsepnya berupa invoice financing. Menurutnya, oleh sebab itu, pinjamannya memiliki tenor pendek dari dua hingga enam bulan. 

“Adapun besar pinjaman mulai dari Rp50 Juta hingga Rp2 Miliar. Batas pinjaman itu mirip dengan batas maksimal pinjaman yang bisa diberikan P2P lending. Saat ini produk pinjaman digital tersebut masih dalam tahapan piloting izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” katanya kepada wartawan, Senin (3/8) lalu.

Teguh menuturkan, hingga saat ini, pihaknya telah melakukan penyaluran pinjaman senilai Rp270 Miliar dengan outstanding Rp15 Miliar. Katanya, sampai sekarang, rasio pinjaman bermasalah masih di angka 0 persen.

“Digital lending ini akan memiliki dua saluran. Pertama, secara tidak langsung dengan bekerja sama dengan P2P lending modal kerja terbesar. Ke depan, Pegadaian berencana akan menggandeng tiga hingga empat P2P lending modal kerja lain,” tukasnya.

Ia menyebutkan, sejalan dengan itu, Pegadaian juga telah menggarap saluran langsung. Menurutnya, direct lending ini akan dimulai dari BUMN. 

“Jadi vendor-vendor yang sehat dan bekerja untuk BUMN bisa kami beri pinjaman langsung dari Pegadaian lewat invoice financing. Juga para UMKM yang tergabung dalam platform pasar digital (PaDI) milik Kementerian BUMN, tambah Teguh,” bebernya.

Teguh melanjutkan, untuk mendukung pengembangan teknologi ini, Pegadaian telah menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) teknologi informasi senilai Rp320 Miliar.

“Kami akan menggunakan teknologi terakhir supaya bisa bersaing. Tidak bisa dipisahkan antara capex dengan operational expenditure (opex) dengan total sekitar Rp640 Miliar. Dana itu akan digunakan untuk mengembangkan berbagai server. Lalu mengembangkan aplikasi Gadai Digital. Juga meningkatkan keamanan pada semua proses digitalisasi maupun produk digital Pegadaian,” terangnya.

Sebagai penutup Teguh mengatakan, keamanan pada setiap proses digitalisasi sangat penting. Teguh menerangkan, hal tersebut dikarenakan pada era sekarang, teknologi menjadi proses dalam proses transaksi.

“Sehingga perseroan harus bisa menyakinkan konsumen bahwa transaksi yang terjadi  benar-benar aman. Dana itu juga untuk pengembangan jaringan untuk modernisasi teknologi di cabang dan pusat,” pungkasnya.

Sebagai informasi, dilansir dari situs resminya, hingga Juni 2020, omset Pegadaian tumbuh 18,8 persen year on year (yoy), yakni menjadi Rp80,4 Triliun.

 

SF

Dipromosikan