Stimulus dan Strategi Bagi UMKM Untuk Bangkit di Era New Normal
“Dengan menyusun strategi digital, bisa membantu para pelaku UMKM untuk dapat bertahan dan juga tetap berkembang dalam kondisi saat ini”.
UMKM adalah sektor yang paling terdampak akibat pandemi Covid-19. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) per Juni 2020 setidaknya ada 163.713 UMKM terkena dampak Covid-19. Selain stimulus yang telah ada, dibutuhkan stimulus lainnya untuk mendongkrak kebangkitan UMKM terutama di era new normal ini.
Disamping itu, para pelaku UMKM juga harus bisa beradaptasi dengan situasi new normal. Yang mana banyak masyarakat mengalihkan transaksinya dari offline menjadi online. Lantas stimulus dan strategi apa yang dibutuhkan UMKM menyambut new normal ini?
Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menyampaikan dua usulan kepada pemerintah agar pelaku UMKM bisa bangkit di era new normal. Adapun usulan tersebut sebagai berikut:
Pertama, memutihkan sisa hutang para nasabah ultra mikro.
“Yang outstanding pinjamannya itu tinggal 20 sampai 30 persen, itu supaya digeser sebagai bantuan stimulus kepada nasabah ultra mikro. Kami juga mengusulkan ke pemerintah untuk outstanding ultra mikro. Kredit ultra mikro hanya sekitar Rp 5 juta. Kalau tinggal 20 sampai 30 persen paling sisa dua jutaan, kenapa pemerintah masih mau menagih? Lebih baik digeser jadi bantuan stimulus untuk ultra mikro. Kami telah menyampaikan usulan itu kepada pemerintah. Namun, pihak eksekutif masih menimbang-nimbang akan usulannya tersebut,” ” katanya kepada wartawan, Minggu (14/6) lalu.
Kedua, pemerintah harus melakukan variasi stimulus bagi UMKM.
Ia menerangkan, hal ini didasarkan karena pelaku UMKM menjadi pihak yang paling tertekan akibat pandemi Covid-19.
“Misalnya, para pelaku UMKM seperti pedagang kaki lima, pemilik kios pasar, bengkel kecil, maupun usaha di ruko-ruko, diberi stimulus berupa listrik gratis. Jika perlu, negara yang membayar tagihan listrik bagi pelaku UMKM. Bayar saja enam bulan. Saya mengusulkan karena apa, itu banyak terjadi di banyak negara. Banyak negara membebaskan, tetapi negara kepada PLN-nya bayar. Ini kan kantong kanan kantong kirinya pemerintah,” ucapnya.
Misbakhun menuturkan, dengan pembebasan tagihan listrik, Ia berharap uang yang tadinya dipakai untuk bayar listrik ini oleh pengusaha kecil, bisa dipakai untuk melangsungkan kehidupan dan usahanya.
“Sehingga penurunan usaha yang dialami bisa lebih ditekan, dengan pembebasan biaya listrik,” tutupnya.
Di sisi lain, founder The Local Enablers, Dwi Purnomo, menilai era new normal sebagai era paradigma baru dimana seluruhnya bisa menjadi peluang untuk dimanfaatkan.
Menurut Dwi, yang terpenting adalah pelaku UMKM harus bisa mengubah cara pandangnya dari fixed mindset menjadi growth mindset, yakni cara pandang melihat segala sesuatu sebagai peluang dan bukan sebagai sebuah kesulitan.
“Pada era pandemic, UMKM yang berhasil adalah UMKM yang mengubah cara berpikir, bisnis, dan yang terpenting adalah tujuannya,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Minggu (14/6) lalu.
Dwi menuturkan, dari riset sederhana yang Ia lakukan, sekitar 20 persen-30 persen UMKM yang bertahan pada era ini dan mereka adalah pelaku usaha yang melakukan perubahan tersebut.
“Misalnya, salah satu merek tas lokal berhasil bertahan karena mengubah line produksi menjadi membuat APD dan sukses. Perubahan line produksi tersebut dilakukan karena pelaku usaha bermaksud hendak menyelamatkan kehidupan para karyawannya. Keinginan tersebut kemudian mendorong dialog, memunculkan ide, sehingga proses inovasi pun berjalan,” bebernya.
Ia menjelaskan, secara umum seluruh bidang berpotensi untuk berkembang dan tumbuh pada era pandemi Covid-19 sekarang ini.
“Dengan catatan tetap didukung dengan riset dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Akibat Covid-19 bisnis akan turun. Tapi, meski profit turun sebetulnya intangible asset yang dimiliki justru meningkat karena ekosistem, jejaring, pengetahuan, dan teman-teman bertambah serta menjadi modal untuk melompat,” tutupnya.
Di tempat terpisah, founder dan sekaligus CEO Dusdusan.com, Christian Kustedi mengatakan, para pelaku UMKM harus bisa menyusun strategi digital sebagai bagian dari adaptasi untuk situasi new normal.
“Dengan menyusun strategi digital, bisa membantu para pelaku UMKM untuk dapat bertahan dan juga tetap berkembang dalam kondisi saat ini,” ujarnya di Jakarta, Minggu (14/6) lalu.
Menurut Christian, ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam merancang strategi digital untuk para UMKM. Adapun sebagai berikut:
Pertama, konten.
Ia menuturkan, para UMKM harus mampu membuat konten. Katanya, konten yang disajikan pun harus dibungkus dengan menarik dan sesuai dengan target market.
“Memanfaatkan hal yang sedang populer juga dapat meningkatkan engagement atau perhatian audience terhadap konten kita,” katanya.
Kedua, mengumpulkan dan menganalisa database.
“Karena berfungsi untuk memaksimalkan promosi kepada audience yang tepat,” ucapnya.
Ketiga, adsense atau iklan.
Christian menjelaskan, dengan membuat iklan dapat memperluas capaian konten yang dibuat melalui digital kepada user baru di luar database yang masih sesuai dengan target market.
Tak hanya itu, Christian menambahkan, pelaku UMKM juga perlu melakukan taktik atau strategi dalam digital marketing.
“Tujuannya agar bisa mempromosikan sebuah produk atau jasa untuk meningkatkan brand awareness yang pada akhirnya bisa meningkatkan jumlah pembelian,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, salah satu cara yang bisa dilakukan UMKM dalam digital marketing yaitu dengan cara merilis teaser produk, lalu membuat trailer yang berisi product knowledge, harga, hingga tanggal launching produk tersebut. Setelahnya, para pelaku UMKM bisa membuat timeline seperti pre-order dan sejenisnya.
Christian juga mengatakan, di masa seperti yang sekarang ini, penting sekali bagi para UMKM untuk melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk dapat bergerak lebih cepat dan efektif.
“Namun dalam melakukan kolaborasi perlu diingat harus mencari partner yang tepat dan sesuai dengan visi yang sama. Saya optimistis dengan keadaan new normal ini saya anggap ini permanen. Yang harus dipersiapkan UMKM untuk menghadapi new normal ini adalah mereka harus punya speed yang jauh lebih cepat,” pungkasnya.
SF








































