Sekira dua pekan lalu, Pemerintah telah mengumumkan nama yang akan memimpin Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Prof Sukoso yang merupakan Guru Besar di Fakultas Kelautan Universitas Brawijaya tersebut terpilih, diantara calon yang lain. Melihat dari rekam jejaknya, Sukoso memang aktif sebagai penggiat halal sejak masih duduk di bangku kuliah. (Baca Juga: Prof Sukoso Dilantik Sebagai Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal).
“Saya memang ada belajar terjun di bidang halal ini sejak 1988, jadi mulai dari status mahasiswa. Secara kebetulan kalau kita berbicara soal sejarah ya, meletusnya kasus lemak babi itu kan di kampus kami. Dan itu merupakan hasil riset dari guru kami. Di situlah kita sebagai mahasiswa belajar dan banyak tahu dan lain sebagainya hingga kita itu bergerak terus untuk akhirnya konsumen muslim itu harus punya hak untuk dilindungi, mendapat hak halal dan lain sebagainya. Jadi kalau runutan mengenal halal itu bukan dari satu atau dua hari kemarin,” ujarnya di Jakarta ketika ditemui KlikLegal, Kamis (10/8).
Berada di bidang halal pun memengaruhi kehidupan Sukoso, salah satunya dalam memilih makanan dia mengaku sangat berhati- hati. Jika merasa kurang aman dan nyaman mengenai makanan yang ditawarkan, dirinya mengaku lebih memilih untuk meminta air putih sambil mengajukan permohonan maaf.
“Saya sendiri suka pilih-pilih dalam hal masalah makanan. Yakin enggak yang saya makan adalah halal. Jadi saya tidak bisa tenang, karena kadang suka takut makanan ditempatkan dimana, saya akhirnya minta sudah air putih saja. Iya mohon maaf, saya tidak bisa. Artinya itu sudah masuk dalam kehidupan saya,” ujar pria yang membantu menyiapkan Malang menjadi destinasi Halal. (Baca Juga: Prof Sukoso Terpilih Sebagai Kepala BPJPH, Ini Rangkuman Pendapatnya).
Sebelum dilantik menjadi Kepala BPJPH, Sukoso merupakan Ketua Pusat Studi Halal Tayyib di Universitas Brawijaya. Saat itu Sukoso berhasil membuat kantin akademik halalan tayyiban di Universitas Brawijaya yang diresmikan oleh Sekjen Kementerian Agama. Kantin tersebut memiliki standar halal mulai dari pembuatan, bahan, dan sampai dengan akad yang digunakan. “Kami menyampaikan ini kantin dengan standar halalan tayyiban. Apa standar halalan tayyiban itu, kita punya standar operating prosedurnya, akadnya, yang mesti halal,” jelasnya.
Kemudian setelah itu, dia diminta untuk membantu membuat hotel dengan standar halal yang ada di kampus Universitas Brawijaya dan saat ini dia mengaku sedang menyiapkan untuk membuat Rumah Sakit Halal Universitas Brawijaya. Jejaknya pun kemudian diikuti oleh kalangan di luar kampus.
“Terus yang luar juga mengikuti kami, misalnya Hotel Rijen Park banyak belajar bagaimana hotel ini bisa menjadi standar halal, karena memang lagi berkembang juga. Ada juga tempat rekreasi seperti Jatimparkgo itu foodcordnya sudah kita dampangi untuk sertifikat halal, dan fasilitas halal untuk pendukung tempat ibadahnya. Jadi sudah berkembang sekali. Dari mendengar itu semua lah, kemudian saya bertemu dengan walikota untuk mempersiapkan bagaimana menjadi malang halal destinasi. Iya, Alhamdulillah kemudian terus diikuti oleh yang lainnya. Jadi insyallah entah hari apa itu harus rapat ke Bogor untuk mendukung Bogor halal destinasi. Nah, ini memang pekerjaan yg sifatnya bagaimana menumbuhkan dan mendorong masyarakat untuk sadar halal,” ungkapnya.
Mengenai isu halal di Indonesia, Sukoso sendiri yakin penerapannya dapat berhasil di Indonesia. Menurutnya, saat ini semua orang sedang menyiapkan agar produknya dapat diterima. Sehingga apabila produsen mengikuti untuk menjalankan dan menghasilkan produk yang halal maka produknya bisa menjadi nomor satu.
“Siap tidak siap Indonesia harus jalan. Buktinya sewaktu saya membuat kantin standar halalan tayyiban. Tipologi saya orangnya selalu mengatakan kerjakan, kalaupun kurang itu wajar, itu manusia nanti diperbaiki. Lakukan dulu, sehingga kita tahu kekurangan kita nanti kita perbaiki. Jadi kesiapannya sebenarnya kita (Indonesia) ini siap. Apa yang tidak siap. Marketnya jelas, orang- orang yanng sekarang yang meyuarakan tentang keharusan kehalalan itu sudah banyak, beberapa produsen secara mandiri merilis produknya secara halal. Kosmetik halal, mode fashion halal, jilbab halal, itu kan fakta bahwa masyarakat menuntut itu,” pungkasnya.
(HA)








































