Tiket.com Susun Skenario Masa Darurat dan Alihkan Fokus Dari Penjualan ke Layanan Konsumen Untuk Cegah PHK
“Kita meyakini bahwa sumber daya manusia adalah aset perusahaan yang paling besar. Seandainya perusahaan menghadapi situasi ekonomi yang lesu darah, pemangkasan jumlah karyawan adalah opsi terakhir yang akan diambil pihak manajemen”.
Perusahaan penyedia layanan aplikasi pemesanan tiket dan hotel, Tiket.com, mengemukakan strategi untuk mempertahankan karyawan di masa pandemi virus corona agar tak terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Hal ini disampaikan oleh Managing Director Tiket.com Gaery Undarsa dalam press release secara virtual, Senin (13/4) lalu.
Gaery menerangkan perusahaan telah membuat skenario dan asumsi risiko dengan berbagai opsi. Opsi pertama, perusahaan menetapkan skenario untuk masa darurat tiga bulan, opsi kedua untuk enam bulan, dan opsi terakhir untuk 12 bulan.
Selama masa darurat corona ini, Tiket.com mengalihkan fokus dari penjualan ke layanan konsumen. Hampir seluruh karyawan, kata dia, dikerahkan untuk membantu customer service melayani permintaan pelanggan yang ingin mengajukan pengembalian tiket (refund) dan penyesuaian jadwal (reschedule). “Karena aktivitas customer service kami meningkat tujuh kali lipat sejak wabah virus corona,” ucapnya.
Gaery mengakui Tiket.com sudah menyusun asumsi pemulihan seandainya penyebaran virus corona berhasil diselesaikan.
Pertama, pemulihan akan difokuskan terhadap penjualan hotel-hotel di dalam kota untuk kepentingan staycation. Ia meyakini, seusai pandemi berakhir, masyarakat mula-mula akan memilih berlibur dengan menginap di hotel-hotel dengan radius yang masih tak terlampau jauh dari rumahnya.
Kedua, pemulihan difokuskan untuk destinasi yang bisa dijangkau dengan transportasi pribadi, seperti di Bandung atau Puncak, Bogor.
Ketiga, tahap pemulihan dilakukan untuk destinasi domestik seperti Yogyakarta dan Bali. “Untuk pemulihan tujuan internasional ini bakal menjadi tahap terakhir,” terangnya.
Kendati begitu, Gaery tak menampik bahwa perusahaan saat ini tengah kehilangan omzet dalam jumlah yang jumbo. Ia menaksir, dari sisi pasar, penjualan Tiket.com telah turun hingga 75%.
“Penurunan pendapatan paling besar tercatat bersumber dari penjualan tiket pesawat dan hotel. Penurunan ini terjadi sejak kasus penyebaran virus corona terjadi di Cina hingga masuk ke Indonesia,” terangnya.
Pangkas Ongkos Marketing 90%
Untuk dapat bertahan, salah satu cara yang ditempuh Tiket.com adalah dengan memangkas ongkos operasional, seperti biaya pemasaran, hingga 90%. “Kami cut (potong) cost (biaya pengeluaran) lain dulu. Seperti dari segi marketing, kami cut 90% karena memang timing (waktunya) juga mendorong kami mengambil langkah ini,” ujar Gaery.
Gaery memastikan, hingga saat ini, perusahaan masih mempertahankan seluruh karyawannya. Bahkan kata dia, perseroan juga tidak melakukan pemotongan gaji maupun pemangkasan tunjangan.
“Kita meyakini bahwa sumber daya manusia adalah aset perusahaan yang paling besar. Seandainya perusahaan menghadapi situasi ekonomi yang lesu darah, pemangkasan jumlah karyawan adalah opsi terakhir yang akan diambil pihak manajemen,” tutupnya.
SF








































