Anika Faisal: Sarjana Hukum yang Menaklukkan Bidang Perbankan

Anika Faisal: Sarjana Hukum yang Menaklukkan Bidang Perbankan

Anika Faisal: Sarjana Hukum yang Menaklukkan Bidang Perbankan

“Sebagai sarjana hukum yang ingin sukses meniti karir di dunia perbankan, Anika Faisal menanamkan pentingnya kerja keras, persistensi, hingga pengetahuan baik di bidang hukum maupun ilmu-ilmu lain yang menunjang industri perbankan.”

Melansir laman Jago.com, Anika Faisal merupakan seorang profesional yang memiliki pengalaman lebih dari 29 tahun di dalam dunia perbankan. Dalam perjalanan meniti karirnya dalam dunia perbankan, Anika telah menduduki beberapa jabatan penting. Diantaranya Staf Ahli untuk Ketua dan Wakil Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Direktur Kepatuhan Bank Danamon, hingga Direktur Kepatuhan dan Sekretaris Perusahaan PT Bank BTPN Tbk. 

Selain jabatan-jabatan tersebut, lulusan Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia ini juga aktif terlibat dalam kepengurusan di berbagai asosiasi profesi dan industri yakni pada Ikatan Bankir Indonesia (IBI), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Persatuan Bank Nasional (Perbanas) dan Forum Komunikasi Direktur Kepatuhan (FKDKP), dengan jabatan terakhir sebagai Ketua sejak 2015 hingga 2019. 

Saat ini, beliau pun juga aktif sebagai staf ahli di Perbanas, Anggota Badan Pengelola Harian (BPH) Perbanas Institute, dan sebagai Sekretaris Jenderal Ikatan Bankir Indonesia sejak April 2019.

Terakhir, berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa tertanggal 15 November 2019, Anika Faisal pun diangkat sebagai Komisaris Bank Jago dan efektif menduduki jabatan tersebut sejak 18 Maret 2020.

Sungguh mentereng bukan jabatan-jabatan yang diduduki oleh Anika? Untuk mengetahui lebih jelas mengenai perjalanan karir serta tips bagi sarjana hukum agar sukses meniti karir di dunia perbankan, simak kisahnya berikut ini!

Masa Kuliah

Ketika masih duduk di bangku kuliah, Anika pada awalnya mengambil peminatan praktisi hukum. Peminatan itu pun mengantarnya untuk mengambil topik skripsi tentang hukum jaminan. Ia menjelaskan bahwa dalam penelitiannya, fokus utamanya adalah dalam aspek hukum acara perdatanya atau dalam hal ini “eksekusi”. 

Untuk mendukung skripsinya, Anika pun menggunakan dua bank sebagai data pendukung. Tak disangka-sangka, berangkat dari topik skripsi itu, akhirnya Anika pun mulai memahami dunia perbankan saat mengerjakan skripsi. 

Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa di sela-sela waktu kuliah, Anika juga sempat mengambil semacam kursus advokat. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah praktik di pengadilan.

Menurutnya ketertarikannya akan dunia advokat disebabkan oleh hobinya untuk membaca buku karya John Grisham, seorang advokat dari Amerika Serikat.

Kendati demikian, setelah menjalani hari-hari dalam kursus advokat tersebut, ternyata dunia peradilan di Indonesia tidak sesuai dengan ekspektasi Anika. 

“Sebenarnya, saya tuh ingin jadi pengacara yang berpraktik di pengadilan. Namun ketika melihat peradilan di Indonesia, sistemnya kok beda gapake jury kayak di luar negeri,” ungkapnya saat diwawancarai kliklegal (19/01/2023).

Disamping itu, Anika juga mengatakan bahwa dia tidak memiliki ketertarikan terhadap pidana. Sehingga, saat menyadari hal itu, ia pun memutuskan untuk memperdalam hukum bisnis. 

Pasca Lulus Sarjana Hukum

Setelah menyandang gelar sarjana hukum, Anika pada awalnya tetap ingin meniti karir sebagai lawyer. Namun demikian, ia beranggapan bahwa kalau langsung terjun ke dunia lawyer, ia khawatir ia menjadi “lawyer yang generalis”. 

Beliau pun akhirnya berpikir untuk mencoba mengambil spesialisasi, sehingga ketika suatu ketika jadi lawyer, Anika berharap menjadi lawyer yang memiliki spesialisasi. Akhirnya, sejalan dengan skripsinya yakni mengenai perbankan, Anika pun memutuskan untuk daftar ke beberapa bank. 

“Setelah mendaftar ke beberapa bank, long story short, akhirnya saya keterima di Bank Niaga sebagai trainee”.

Baca Juga: Muthia Zahra Feriani, Lawyer HKI yang Banting Setir Jadi Filmmaker

Memulai Karir di Bank Niaga

Dalam memulai karirnya di dunia perbankan, Anika Faisal diterima sebagai trainee di dalam executive program yang diselenggarakan oleh Bank Niaga selama setahun. Dalam program tersebut, ia diajarkan seluruh seluk beluk dunia perbankan seperti operation, teller, kliring, trade, foreign exchange, treasury sampai ke detail bagaimana jika bank terjadi kebakaran. 

Ditambah lagi, di dalam program tersebut, Anika juga mengikuti on the job training yang mana ia ditempatkan di cabang yang tersebar di Indonesia. Dari program tersebut, Anika merasakan bahwa ia bisa mengenyam ilmu perbankan lebih dalam. 

Setelah lulus dalam program tersebut, ia pun langsung diangkat menjadi officer/assistant manager dan ditempatkan di cabang.

Tantangan dalam Belajar Hitungan

Menurut Anika, tantangan dalam meniti karir di dunia perbankan pertama kali adalah ketika ia belajar mengenai treasury. Hal ini disebabkan karena sebagai sarjana hukum yang tidak terlalu biasa dengan hitung-hitungan, ia merasa cukup kewalahan. Bahkan, ia menyebutkan pernah mengulang salah satu modul. 

Menurutnya, hambatan baginya sebagai sarjana hukum dalam mempelajari mengenai treasury karena di dalam perkuliahan tidak ada diajarkan. Kendati demikian, menurut Anika, justru sarjana dari ekonomi dan teknik lebih diuntungkan karena mereka telah dibekali oleh mata kuliah kalkulus dan aritmatik.

Meskipun begitu, secara keseluruhan tidak semuanya hitung-hitungan. Sebut saja, dalam materi terkait operation, Anika merasa bisa karena logika yang dipelajari di fakultas hukum cukup membantunya. 

Menghandle Bank saat Krisis Ekonomi

Selama meniti karir di dunia perbankan, Anika mengatakan bahwa hal yang paling berkesan adalah ketika ia bekerja menjadi Staf Ahli Untuk Ketua dan Wakil Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). 

Menurutnya, pengalaman ini menjadi menarik karena pada saat ia menjabat, suasana krisis ekonomi melanda. Pada saat bekerja menjadi Staf Ahli di BPPN, ia harus tidak hanya memanage “bank” secara umum, melainkan, ia harus mengurus bank-bank yang sakit. 

Anika mengatakan bahwa lingkup kerjanya utamanya pada saat itu adalah mencari solusi agar bank-bank dapat disehatkan. Adapun tugas tugas yang Anika emban saat itu diantaranya adalah bagaimana engaging dengan pemegang saham dan dealing dengan International Monetary Fund (IMF). 

Dari pengalamannya di BPPN, Anika mengatakan keberkesanan dalam role tersebut disebabkan karena ia mendapat helicopter view mengenai apa yang terjadi pada Perbankan di Indonesia pada saat itu.

Privilege menjadi Bankir bergelar S.H. 

Selama berkarir di dunia perbankan, Anika merasa bahwa gelar itu merupakan fondasi yang kuat baginya. Menurutnya, segala aspek di dunia perbankan itu erat hubungannya dengan legal.

“Selama saya bekerja di dunia perbankan, menurut saya menyandang gelar sarjana hukum itu merupakan fondasi yang sangat kuat. Karena, pada faktanya dunia perbankan erat kaitanya dengan hukum dan menurut saya juga legal is a very rich profession”, ungkap Anika.

Ia menuturkan, pada dasarnya, semua industri dan aspect itu berkaitan dengan legal. Sebut saja, contract, product, minutes of meeting, decision making process dan tata kelola. Semua itu erat dengan hukum.

Anika Faisal sangat percaya bahwa berdasarkan pengalamannya selama 30 tahun di dunia perbankan, untuk bekerja di industri finansial seperti perbankan yang highly regulated, pemahaman yang kuat akan hukum akan menjadi modal dalam berkarir di dunia perbankan. 

Apalagi, Anika juga mengatakan bahwa setelah krisis ekonomi, bagi sarjana hukum kini tersedia jabatan baru yakni compliance director. Menurutnya, meskipun compliance director tidak harus diisi oleh orang legal, tapi bagi seseorang yang memiliki background hukum, akan dirasa lebih cocok dan diunggulkan. 

Lebih lanjut, Anika juga mengatakan bahwa ilmu hukum yang dimilikinya membantunya dalam memahami risiko, bagaimana bernegosiasi dengan klien, pengembangan produk, perlindungan nasabah dan pelindungan data pribadi. Selain itu, pada muaranya, ilmu hukum yang Anika miliki juga cukup membantunya dalam proses pengambilan keputusan dan proses kerja.

Sebagai sarjana hukum, Anika merasa diajarkan untuk berpikir filosofis. Menurutnya hukum bukan hanya sets of rules, dan hukum merupakan substansi dan bukan merupakan suatu “format”. 

Berbekal dari pemikiran itu, dalam berkarir, muara dari pola pikir yang selalu dianut oleh Anika  adalah “mengapa aturan yang berlaku tersebut dibuat”. 

Alasan Tidak Berkarir sebagai Lawyer

Pada dasarnya, Anika pernah mencoba berkarir di law firm. Kendati demikian, pada saat itu Anika lebih memilih untuk menjadi Staf Ahli di BPPN saat krisis ekonomi karena ia merasa bahwa ia akan memiliki experience of a lifetime. 

Selain itu, Anika juga mengatakan bahwa alasan lain yang membuatnya tidak melanjutkan karir di law firm karena ia lebih senang membuat keputusan ketimbang memberikan advis kepada client untuk membuat keputusan.

“Aku merasa lebih senang membuat keputusan ketimbang memberikan memberikan advice,” tuturnya.

Keluarga dan Karir

Sebagai wanita karir yang juga memiliki anak, cara Anika Faisal untuk membagi waktu adalah untuk benar-benar menggunakan waktu di akhir pekan dengan sebaik-baiknya. Sebagai contoh, ketika Anika di kantor, Anika sangat fokus dengan pekerjaan dan ketika weekend, waktunya terfokus dengan keluarga. 

Menurutnya, menjadi working mom adalah suatu keuntungan. Hal ini dikarenakan ketika anak-anak sudah beranjak dewasa dan sebagai working mom, Anika merasa masih bisa berkomunikasi dan relate dengan anaknya. Hal ini juga tentu didukung oleh fakta bahwa di kantor Anika memiliki rekan kerja yang masih berusia muda.

Tips Meniti Karir di Dunia Perbankan

Menurut Anika, kesuksesan setiap orang dari latar belakang apapun ditentukan oleh dirinya sendiri. Namun, terkhusus bagi sarjana hukum yang ingin meniti karir di dunia perbankan, yang terpenting adalah mereka tidak boleh merasa puas oleh status “sarjana hukum”. 

Adapun yang dimaksud Anika adalah meskipun gelarnya sarjana hukum, tapi yang paling penting adalah pengetahuannya terhadap hukum dan bagaimana menggunakannya pengetahuan itu dalam memperkaya kerja. Jika hal itu diterapkan kesempatan itu pasti akan ada. 

Selain itu, sebagai sarjana hukum yang meniti karir di dunia perbankan, mereka juga harus terbuka dengan ilmu-ilmu non-hukum. Sebagai contoh, Anika mengatakan bahwa pada awal karirnya, ia benar-benar mempelajari secara keseluruhan ilmu-ilmu penunjang industri perbankan. 

Lebih lanjut, untuk meniti karir, seorang sarjana hukum itu harus bekerja keras, tabah dan juga sabar. Menurutnya, jika memang diperlukan, bekerja long hours juga tidak masalah. Akan tetapi yang paling penting adalah pada saat mengerjakan sesuatu, harus ada passion. 

Hal ini dikarenakan Jika mengerjakan sesuai passion maka hasilnya akan jauh lebih bagus dibandingkan dengan sesuatu yang dikerjakan setengah hati. Disamping itu, kerja keras juga harus dibarengi dengan sikap “can do attitude” ,“eagerness to become a better person everyday” dan persistensi. 

Adapun, Anika Faisal menuturkan bahwa skill terpenting bagi seorang sarjana hukum dalam meniti karir di dunia perbankan sebenarnya ada dua yakni kemampuan berkomunikasi dan logika. 

Pertama, sepintar apapun seorang sarjana hukum, mereka harus memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi untuk berkomunikasi sehingga mereka dapat mengkomunikasikan pandangan dan ide secara runtut dan sistematis agar orang lain bisa memahami. 

Kedua, seorang sarjana hukum harus mematangkan logika berpikir. Dalam hal ini, mereka harus memperkaya diri dengan analytical, problem solving, critical thinking skills harus diperkuat. Hal ini dikarenakan, biasanya orang itu datang ke departemen legal membawa masalah, sehingga soft skills tersebut tentunya sangat diperlukan sebagai bekal.

RAR

Dipromosikan