Muthia Zahra Feriani, Lawyer HKI yang Banting Setir Jadi Filmmaker
Walau awalnya mendapatkan pertentangan dan mesti lewati jalan berliku, kecintaannya terhadap industri seni membuat Muthia bisa berada di titik ini.
Lulus dari Fakultas Hukum kemudian menjadi lawyer, notaris, jaksa atau profesi hukum lainnya ialah hal yang sudah lumrah. Tidak seperti lulusan fakultas hukum lainnya, Muthia Zahra Feriani atau yang akrab dipanggil Muthia memberanikan diri untuk menjadi sutradara, produser, dan juga scriptwriter.
Muthia merupakan mahasiswa S1 Fakultas Hukum Universitas Indonesia angkatan 2009 yang lulus pada tahun 2013 yang sekaligus meraih predikat Cum Laude. Ketertarikannya terhadap seni telah tumbuh sejak Ia masih duduk di bangku sekolah yang kemudian berlanjut hingga kuliah. Semasa kuliah, Muthia mulai menyutradarai pertunjukan seni di fakultasnya untuk dilombakan pada perlombaan antar fakultas. Melalui pertunjukan seninya, Muthia sering mengangkat mengenai isu-isu politik dan hukum yang dibuat dengan gaya pop dan tetap menghibur.
“Saya mengangkat isu-isu tersebut karena misi saya adalah mengkritisi dan memasukkan value-value yang justru saya dapat selama belajar di kelas Fakultas Hukum,” cerita Muthia yang saat ini juga mulai merambah ke industri musik dengan mendirikan record label bernama Arseri Music.
Pada awal kelulusannya, Muthia sempat diminta untuk menjadi Asisten Dosen untuk mengajar mata kuliah Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Selama menjadi Asisten Dosen, Muthia akhirnya banyak mempelajari mengenai hukum Hak Kekayaan Intelektual secara mendalam. Hal ini berlanjut hingga akhirnya Ia memutuskan untuk melanjutkan karirnya menjadi pengacara di salah satu kantor hukum yang banyak menangani permasalahan hukum di bidang Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
“Dari situ saya jadi tahu cara memanfaatkan produk kreatif sebagai alat dagang dan mengenai Hak Kekayaan Intelektualnya,” tutur Muthia.
Setelah beberapa bulan berkecimpung di bidang hukum Hak Kekayaan Intelektual (HKI), Muthia memutuskan untuk mengejar passion-nya di bidang kesenian. Pada awalnya, banyak orang yang menyayangkan keputusan Muthia untuk berhenti berkarier di bidang hukum, namun tidak sedikit orang juga yang mendukung keputusan Muthia tersebut.
Setelah memutuskan untuk berkarir di industri kreatif, Muthia mulai aktif mengasah kemampuannya dalam penulisan naskah dengan mengikuti pelatihan-pelatihan. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya Ia mulai dipercaya untuk membuat naskah dan menyutradarai beberapa film pendek.
Mengedepankan Etos Kerja Disiplin dan Sigap
Meskipun saat ini sudah tidak berkarir di bidang hukum, Muthia mengaku banyak mendapatkan value dan pembelajaran selama menjadi mahasiswa di fakultas hukum maupun saat menjadi seorang lawyer.
Salah satunya adalah basic pengetahuan hukum dalam penyusunan kontrak yang Ia dapatkan selama mengemban ilmu di fakultas hukum. Pengetahuan tersebut yang membantunya dalam mengembangkan bisnis-bisnisnya. Selain itu, etos kerja seorang lawyer yang harus disiplin dan sigap juga membantunya dalam menjalani profesinya.
“Selama menjadi lawyer kita pasti sering dihadapkan dengan deadline yang ketat, di situ kita akan terbiasa untuk mengerjakan sesuatu dengan cepat dan tepat. Kebiasaan fast respond juga akhirnya menjadi suatu habit. Kalau dulu saat menangani klien kita harus bisa fast respond terhadap pertanyaan-pertanyaan klien dan dapat mempertanggungjawabkannya”, ujarnya.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut yang kemudian Muthia terapkan di semua profesi yang pernah dijalaninya. Alhasil, hingga saat ini Muthia dikenal sebagai orang yang cekatan dalam mengerjakan suatu pekerjaan, sehingga Ia banyak mendapatkan kepercayaan dari klien-kliennya.
“Etos kerja yang terbentuk saat menjadi mahasiswa fakultas hukum dan lawyer itulah yang akhirnya terbawa dan menjadi kebiasaan saya hingga saat ini. Saya jadi cekatan, terjadwal, fast respond, dan disiplin dalam melakukan pekerjaan”, tambahnya.
Konsisten Sebagai Kunci
Muthia mengaku saat akhirnya memutuskan untuk menggeluti industri kreatif dan meninggalkan karirnya sebagai seorang lawyer, jalan yang dilewatinya tidak kian selalu mulus. Banyak kegagalan yang dicicipi oleh Muthia terlebih dahulu sebelum akhirnya berada di titik saat ini.
“Pesan saya tetap konsisten untuk maju ke depan. Pada awalnya pasti jalannya berliku-liku dan banyak mengalami kegagalan, tapi gunakan kegagalan tersebut untuk tetap konsisten belajar dan bekerja lebih keras lagi. Asalkan kita yakin pasti akan dibukakan pintunya”, tutupnya.
MH








































