BI Pangkas Suku Bunga, Saham Perbankan Masih Tertekan

BI Pangkas Suku Bunga, Saham Perbankan Masih Tertekan

Ketidakpastian ekonomi membuat perusahaan cenderung menahan ekspansi. Hal ini akan mengurangi penyaluran kredit perbankan sehingga penurunan suku bunga yang dilakukan oleh BI masih belum cukup untuk mendorong perekonomian.

Bank Indonesia (BI) kembali turunkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,5%. Selain itu, akibat adanya penyebaran virus corona (Covid-19), BI juga melakukan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5%-5,4% menjadi 4,2%-4,6%.

Head of Research Analyst FAC Sekuritas Wisnu Prambudi Wibowo melihat, prospek emiten perbankan untuk tahun ini masih tertekan sejalan melambatnya ekonomi karena penyebaran Covid-19. Penurunan suku bunga oleh BI juga tidak dapat menahan penurunan pasar karena investor lebih khawatir terhadap penyebaran virus corona. Terlebih lagi,  jumlah pasien yang dinyatakan positif corona kian meningkat.

Wisnu menganggap, ketidakpastian ekonomi membuat perusahaan cenderung menahan ekspansi. Hal ini otomatis akan mengurangi penyaluran kredit perbankan sehingga penurunan suku bunga yang dilakukan oleh BI masih belum cukup untuk mendorong perekonomian.

“Tentu masih kurang, untuk itu masih ada potensi diturunkan lagi suku bunganya,” imbuhnya seperti dikutip oleh Kontan.co.id, pada Minggu (22/3).

Selain itu, pelaku pasar masih menanti hasil kinerja perusahaan pada kuartal pertama tahun ini. Wisnu memproyeksi IHSG masih berpotensi untuk kembali tertekan. Karena pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia ini dinilai tak langsung berdampak terhadap penurunan bunga kredit bank. Namun, jika melihat jangka panjang, tak menutup kemungkinan penurunan suku bunga BI mampu memberikan sentimen positif.

Penurunan suku bunga bisa membuat perbankan lebih lancar dalam menyalurkan kredit dan mengurangi beban keuangan lantaran beban deposito langsung diturunkan. Sentimen positif tambahan juga berasal dari kebijakan relaksasi kredit Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai respons atas Covid-19.

“April ada laporan keuangan, dari situ kita akan melihat seberapa besar dampak dari adanya ketidakpastian yang saat ini terjadi, selain dari Covid-19, harga minyak turun, dan beberapa harga komoditas lainnya juga turun,” papar Wisnu.

Di sisi lain, Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, investor saat ini tidak murni mempertimbangkan faktor fundamental. Secara fundamental, ia beranggapan, Bank Umum berdasarkan Kegiatan Usaha (BUKU) IV masih terbilang cukup bagus. Akan tetapi, proyeksi kinerja perbankan bakal menurun pada 2020. Tetapi penurunan suku bunga BI tetap akan memberikan keuntungan bagi bank BUKU IV, sebab penyaluran kredit dari bank kategori ini memiliki dampak yang paling besar.

Wawan mengatakan, saham-saham perbankan Bank Umum berdasarkan Kegiatan Usaha (BUKU) IV seperti Bank Central Asia Tbk (BBCA), Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menarik untuk dikoleksi dalam jangka waktu yang panjang, yakni sekitar 10 tahun.

Sementara untuk jangka pendek, ia menyarankan pelaku pasar wait and see lebih dulu lantaran kondisi masih diwarnai ketidakpastian. “Untuk jangka pendek bisa ke pasar uang dan untuk jangka menengah SUN sangat menarik,” terang Wawan.

PNJ

Dipromosikan