Gelar RUPST, Astra International Angkat Presdir Baru dan Bagikan Dividen Rp8,6 Triliun
Dalam RUPST tersebut Djony Bunarto Tjondro diangkat menjadi Direktur Utama menggantikan Prijono Sugiarto yang berpindah tugas menjadi Presiden Komisaris.
Chief of Corporate Affairs Astra International, Riza Deliansyah menyampaikan, PT Astra International Tbk (ASII) telah menggelar Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Selasa (16/6) lalu. Riza menuturkan, adapun susunan acara yang dalam RUPST tersebut sebagai berikut:
Pertama, menyetujui dan menerima baik laporan tahunan untuk tahun buku 2019.
“Termasuk mengesahkan laporan tugas pengawasan dewan komisaris perseroan serta mengesahkan laporan keuangan konsolidasian dan entitas anak untuk tahun buku 2019,” katanya dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (16/6) kemarin.
Kedua, menyetujui penggunaan laba bersih untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 2019 sebesar Rp 21,7 Triliun.
“Antara lain, sebesar Rp8,6 Triliun atau 214 per saham dibagikan sebagai dividen. Artinya, rasio dividen terhadap laba berkisar 39,9 persen. Termasuk di dalamnya dividen interim sebesar Rp 57 per saham atau seluruhnya berjumlah Rp 2,3 Triliun yang telah dibayarkan pada tanggal 30 Oktober 2019, sehingga sisanya sebesar Rp 157 per saham setiap saham atau seluruhnya berjumlah Rp 6,35 triliun,” paparnya.
Ia menjelaskan, dividen tunai Rp 6,35 Triliun atau 157 per saham akan dibayarkan pada tanggal 10 Juli 2020 kepada Pemegang Saham Perseroan yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan pada tanggal 26 Juni 2020 pukul 16.00 WIB.
Ketiga, menyetujui pengangkatan anggota direksi dan perubahan susunan dewan komisaris.
“Yakni mengangkat Djony Bunarto Tjondro sebagai Direktur Utama yang sebelumnya ditempati oleh Prijono Sugiarto. Adapun Prijono Sugiarto berpindah tugas menjadi Presiden Komisaris,” tukasnya.
Dalam acara tersebut, Presiden Direktur PT Astra International Tbk terpilih, Djony Bunarto Tjondro mengatakan, dirinya memastikan seluruh jaringan anak usaha memiliki pengelolaan finansial yang sehat. Menurutnya, hal itu terlihat dari kapasitas neraca yang cukup kuat di level induk.
“Saat ini gearing ratio Astra International secara konsolidasi hanya mencapai 11 persen. Jadi, kami memiliki balance sheet yang besar, kami tidak punya kekhawatiran terhadap kewajiban jangka panjang maupun jangka pendek. Kami juga selalu melakukan monitoring terhadap seluruh unit bisnis,” katanya.
Djony menuturkan, mengelola neraca keuangan secara sehat merupakan hal penting di tengah pandemi Covid-19. Katanya, tidak ada yang dapat memprediksi secara tepat dampak wabah Covid-19 tersebut di masa mendatang.
“Astra International tidak berekspektasi akan adanya rebound atau lompatan perbaikan kinerja pada tahun ini. Namun, kami akan terus melihat peluang pertumbuhan bisnis di tengah masa krisis.Rebound sulit kami perkirakan, karena situasi ini tidak ada yang bisa perkirakan, bahkan banyak media luar negeri menyatakan kita harus siap hidup dengan pandemi ini, dalam waktu cukup lama. Tetapi, saya kira selalu ada hikmah, kalau orang Inggris bilang every cloud has a silver lining,” ucapnya.
Djony menjelaskan, saat ini pihaknya masih terus mengkaji potensi dampak pandemi Covid-19 terhadap kinerja perusahaan. Menurutnya, hal ini akan menjadi dasar apabila perseroan akan melakukan rasionalisasi target kinerja tahun ini.
“Saya tidak bisa jawab secara gamblang, tetapi, rasanya nanti bisa dibaca di result kami nantinya. Mungkin nantinya akan terlihat pada saat kami publish result untuk kuartal II/2020,” pungkasnya.
Sebagai referensi, pada perdagangan kemarin, saham emiten berkode ASII ini terus bergerak positif sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hingga penutupan sesi I perdagangan, ASII menguat 5,06 persen ke harga Rp 4.980 per saham.
Astra International mencatatkan penurunan laba sebesar 7,77 persen pada kuartal I 2020 menjadi Rp 4,81 Triliun, akibat menurunnya kinerja sektor alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi.
Sepanjang Januari sampai dengan Maret 2020, emiten berkode saham ASII ini membukukan total pendapatan sebesar Rp 54 Triliun, turun 8,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan pendapatan juga diiringi dengan beban pokok yang berkurang 10,81 persen menjadi Rp 41,91 Miliar.
Meski begitu, kinerja perseroan kian tertekan akibat kenaikan sejumlah pos beban seperti penjualan dan beban umum yang masing-masing meningkat 18,26 persen dan 7,08 persen. Selisih kurs yang diterima perseroan sepanjang 3 bulan ini juga membengkak 242,96 persen menjadi Rp 463 Miliar.
Hal ini membuat laba bersih atau laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebanyak Rp 4,81 Triliun. Jumlah ini menurun 7,77 persen dibandingkan kuartal I/2019 yang mencapai Rp 5,21 Triliun. Laba per saham juga tergusur 7,75 persen menjadi Rp 119.
Dari sisi lini bisnisnya, laba Grup Astra pada tahun ini masih dikontribusi oleh sektor otomotif dan jasa keuangan, yang masing-masing tercatat memberikan laba bersih sebesar Rp 1.93 Triliun dan Rp1.9 Triliun. Keduanya meningkat masing-masing 1,31 persen dan 1,14 persen terhadap kuartal I 2019.
Sebagai penopang utama, lini penjualan mobil Astra turun 3 persen pada kuartal I/2020 menjadi 130.00 unit, lebih rendah dari penurunan total pasar mobil sebesar 7 persen. Meski begitu, perseroan mengalami peningkatan pangsa pasar dari 53 persen menjadi 55 persen.
Sementara itu, lini bisnis kendaraan roda dua tercatat mengalami penurunan sebesar 5 persen menjadi 1,2 juta unit pada periode yang sama. Di segmen roda dua, pangsa pasar Astra juga meningkat dari 76 persen menjadi 77 persen karena penurunan penjualannya masih lebih baik dari penurunan total pasar yang mencapai 7 persen.
Namun demikian, kontribusi laba bersih dari sektor alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi tercatat menurun 42,45 persen secara tahunan menjadi Rp 1,05 triliun. Sektor ini bersama bisnis teknologi informasi menjadi dua sektor yang menurun di kuartal I 2020.
Di sisi lain, kontribusi laba dari sektor agribisnis meningkat tajam sebesar 886,67 persen menjadi Rp 296 Miliar. Bisnis infrastruktur dan logistik serta bisnis properti juga tercatat meningkat masing-masing 356,25 persen dan 166,67 persen, masing-masing menjadi Rp 73 Miliar dan Rp 40 Miliar.
SF








































