Hasjim Djalal bukan hanya nama besar dalam diplomasi Indonesia. Melalui hukum laut internasional, ia ikut memperjuangkan cara dunia melihat Indonesia sebagai negara kepulauan, sementara jejak keluarganya hidup dalam kiprah Dino Patti Djalal.
Hasjim Djalal dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah diplomasi maritim Indonesia. Namanya mungkin tidak selalu muncul dalam percakapan publik sehari-hari, tetapi jejak pemikirannya terasa dalam cara Indonesia memahami laut, pulau, dan kedaulatan. Ia adalah diplomat senior yang dikenal sebagai begawan hukum laut internasional Indonesia.
Siapa yang menyangka, Dino Patti Djalal yang dikenal sebagai diplomat Indonesia yang aktif dalam isu hubungan internasional, merupakan putra dari almarhum Prof. Hasjim Djalal. Kesamaan jejak diplomasi ini membuat hubungan Hasjim Djalal dengan Dino Patti Djalal menarik untuk dilihat sebagai bagian dari warisan intelektual keluarga.
Dalam salah satu forum mengenang pemikiran Hasjim, Dino bahkan mewakili keluarga dan menekankan pentingnya Indonesia tetap menjadi pelopor diplomasi hukum laut internasional.
Namun, posisi Hasjim Djalal tidak cukup hanya dipahami sebagai “ayah dari Dino Patti Djalal”. Justru sebaliknya, ia adalah figur besar yang turut memberi fondasi kuat bagi diplomasi Indonesia di bidang kelautan. Dari dirinya, publik bisa melihat bahwa diplomasi bukan sekadar pidato antarnegara, tetapi juga perjuangan panjang membangun pengakuan hukum atas kepentingan nasional.
Fondasi Hukum di Balik Negara Kepulauan
Hasjim Djalal dikenal andal dalam bidang hukum laut internasional, yang membahas hak dan kewajiban negara di tengah teritorial kelautan, mulai dari batas wilayah, laut teritorial, zona ekonomi eksklusif, landas kontinen, hingga prinsip negara kepulauan. Jadi, hal ini bukan sekadar ilmu tentang laut secara geografis, melainkan hukum yang menentukan sejauh mana negara dapat berdaulat dan mengelola wilayah lautnya.
Indonesia sebagai negara kepulauan, hukum laut menjadi hal yang penting. Tanpa kerangka hukum yang kuat, laut di antara pulau-pulau bisa dipandang sebagai pemisah, bukan sebagai ruang pemersatu. Di sinilah pemikiran Hasjim Djalal menjadi relevan, karena ia ikut memperjuangkan gagasan bahwa laut Indonesia adalah bagian dari kesatuan wilayah nasional.
Hasjim Djalal juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang terkait dengan perjuangan konsep negara kepulauan dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut atau UNCLOS 1982. Konsep ini memberi pengakuan internasional terhadap posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar, sekaligus memperkuat dasar pengelolaan wilayah maritimnya.
Warisan Pemikiran yang Tetap Hidup
Warisan Hasjim Djalal menunjukkan bahwa hukum tidak selalu hadir dalam bentuk sengketa di pengadilan. Dalam level negara, hukum juga bekerja melalui meja diplomasi, negosiasi internasional, dan perjuangan panjang membangun pengakuan dunia. Apa yang diperjuangkan Hasjim Djalal adalah contoh bahwa ilmu hukum bisa berdampak langsung pada bentuk kedaulatan suatu bangsa.
Dari sosoknya, kita bisa memahami bahwa laut Indonesia bukan hanya soal peta, kapal, atau sumber daya alam. Laut adalah ruang hukum, ruang ekonomi, ruang geopolitik, sekaligus ruang identitas nasional. Karena itu, membicarakan Hasjim Djalal berarti membicarakan fondasi penting tentang bagaimana Indonesia berdiri sebagai negara kepulauan.
Hubungannya dengan Dino Patti Djalal menambah sisi humanis dari cerita ini. Ada kesinambungan nilai antara generasi diplomat yang sama-sama bergerak di panggung internasional, meski dengan isu dan zaman yang berbeda. Pada akhirnya, Hasjim Djalal meninggalkan pesan penting: negara besar tidak hanya dijaga dengan kekuatan, tetapi juga dengan gagasan hukum yang kuat dan diplomasi yang konsisten.
(RED)








































