Konfederasi Serikat Pekerja Beberkan Lima Alasan Tidak Efektifnya Pelaksanaan New Normal

0
97
Konfederasi Serikat Pekerja Beberkan Lima Alasan Tidak Efektifnya Pelaksanaan New Normal

Konfederasi Serikat Pekerja Beberkan Lima Alasan Tidak Efektifnya Pelaksanaan New Normal

Salah satunya alasannya yaitu, jumlah orang yang positif Covid-19 hingga saat ini masih terus meningkat sehingga tidak efektif melaksanakan new normal pada saat ini.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal menyatakan, istilah new normal bisa membingungkan dan kurang tepat bagi para buruh serta masyarakat kecil di Indonesia.

“Sebab, istilah itu bisa dianggap sebagai pelonggaran dan bakal berisiko menambah jumlah orang terpapar Covid-19. Saat ini saja ketika masih diberlakukan PSBB banyak yang tidak patuh. Apalagi jika diberi kebebasan,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (28/5) lalu.

Menurut Said, setidaknya ada lima alasan terkait penerapan kebijakan new normal dianggap tak tepat. Adapun sebagai berikut:

Pertama, jumlah orang yang positif Covid-19 hingga saat ini masih terus meningkat. “Bahkan pertambahan yang positif, setiap hari jumlahnya masih mencapai ratusan orang,” ujarnya.

Kedua, adanya sejumlah buruh yang masih bekerja akhirnya terinfeksi dan dinyatakan positif terpapar Covid-19.

“Hal ini bisa dilihat, seperti di PT Denso Indonesia dan PT Yamaha Music, ada yang meninggal akibat positif terpapar Covid 19. Begitu juga di Sampoerna dan PEMI Tangerang, dilaporkan ada buruh yang OPD, PDP, bahkan positif,” lanjutnya.

Ketiga, saat ini sudah banyak pabrik yang merumahkan serta melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat bahan baku material impor makin menipis dan bahkan tidak ada.

Said menuturkan, seperti yang terjadi di industri tekstil, bahan baku kapas makin menipis. Kemudian, kata Said, di industri otomotif dan elektronik, suku cadang makin menipis.

“Di industri farmasi, bahan baku obat juga makin menipis. Sementara di industri pertambangan, jumlah ekspor bahan baku menurun,” tukasnya.

Said menjelaskan, fakta ini menunjukkan new normal tidak akan efektif. “Percuma saja menyuruh pekerja untuk kembali masuk ke pabrik. Karena tidak ada yang bisa dikerjakan, akibat tidak adanya bahan baku,” bebernya.

Keempat, PHK besar-besaran yang terjadi di industri pariwisata, UMKM, dan sepinya order yang diterima transportasi daring hingga kini belum ada ditemukan solusinya.

Ia mengungkapkan, bahkan di industri manufaktur, ancaman PHK terhadap ratusan ribu buruh sudah di depan mata. Katanya, menghadapi situasi dimana sedang terjadi PHK besar-besaran, yang dibutuhkan saat ini bukan new normal melainkan mempersiapkan solusi terhadap ancaman PHK, agar jutaan buruh bisa bekerja kembali. 

“Tidak dengan meminta masyarakat mencari kerja sendiri. Lagipula, bagi masyarakat yang kehilangan pekerjaan, akan kembali bekerja di mana?,” imbuhnya.

Kelima, tanpa new normal pun sebenarnya masih banyak perusahaan yang masih meminta buruhnya tetap bekerja.

“Alhasil, yang dibutuhkan para buruh dan pengusaha bukan new normal, melainkan regulasi dan strategi untuk memastikan bahan baku impor bisa masuk dan selalu tersedia di industri,” pungkasnya.

SF

Dipromosikan

TINGGALKAN JAWABAN

Masukkan komentar Anda!
Mohon masukkan nama Anda di sini

*