Konflik Rusia-Ukraina, Dari Ledakan Bom Dekat Masjid Hingga Penembakan Warga Sipil
Invasi yang dilakukan oleh Rusia kepada Ukraina menimbulkan kerugian bagi kedua belah pihak, mulai dari penculikan wali kota Melitopol, penembakan warga sipil, pergerakan menuju ibu kota Kiev, hingga upaya pengeboman yang dekat dengan lingkungan masjid di Ukraina.
Tepat hari ini invasi Rusia kepada Ukraina telah masuk hari ke-19 (14/3). Seperti pemberitaan yang telah tersebar bahwa Rusia mendapatkan kerugian dengan kehilangan salah satu pimpinan militernya, yaitu Mayor Jenderal Andrei Sukhovetsky yang tewas pada saat agresi militer yang dilakukan terhadap Ukraina. Namun, hal ini ternyata tidak sebanding dengan apa yang harus dihadapi oleh masyarakat Ukraina, baik pada penyerangan langsung terhadap warga sipil hingga penggempuran fasilitas-fasilitas publik di wilayah strategis Ukraina.
Terdapat berbagai hal yang terjadi selama seminggu terakhir penyerangan yang dilakukan oleh Rusia. Pada Jumat (12/3), Wali Kota Melitopol, Ivan Fedorov, dikabarkan telah diculik oleh tentara Rusia yang saat itu sudah menduduki kota dikarenakan Ivan menolak untuk bekerja sama dengan Rusia.
“Sebanyak 10 orang menculik wali kota Melitopol Ivan Fedorov,” ucap Parlemen Ukraina pada media sosial Twitter, dikutip AFP.
Pada penculikan tersebut Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengatakan bahwa penculikan yang dilakukan oleh Rusia adalah bentuk kelemahan yang dimiliki negara tersebut. Dengan hal tersebut, Zelensky meminta bantuan kepada kanselir Jerman dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron.
“Permintaan kami jelas: dia harus dibebaskan segera. Saya menelpon Kanselir Olaf Scholz dan saya juga bicara dengan Presiden Emmanuel Macron,” ucap Zelensky pada Sabtu (12/3).
Pasukan Rusia juga menembaki warga sipil yang sedang melakukan evakuasi dari Desa Peremoga yang bertempat di wilayah Kiev. Atas kejadian tersebut sebanyak tujuh warga sipil tewas karena ditembaki.
Penembakan ini dilakukan pada jalur evakuasi aman yang sebenarnya telah disepakati oleh Rusia dan Ukraina. Selain itu, Rusia saat ini telah mendekati Ibu Kota Ukraina, Kiev, ketika pada Sabtu (12/3) terdengar ledakan di dekat wilayah tersebut. Pemerintah Kiev menyatakan bahwa daerah utara adalah daerah yang paling bahaya, dengan wilayah yang meliputi Bucha, Irpin, dan Hostomel, serta distrik Vyshorod.
Penyerangan ini juga dilanjutkan dengan peluncuran roket Rusia yang menghantam pangkalan udara di wilayah Kiev. Serangan roket tersebut menghancurkan depo amunisi Ukraina.
Tidak hanya berhenti pada penyerangan warga sipil, Kedutaan Besar Ukraina (Kedubes Ukraina) di Jakarta menyatakan bahwa pasukan Rusia telah melakukan penyerangan pada Masjid Sultan Suleiman Mariupol, Ukraina. Hal ini disampaikan oleh Kedubes Ukraina pada akun Twitter resminya.
“Saat ini, pasukan #Rusia sedang membombardir masjid Sultan Suleiman yang Agung dan istrinya Roxolana. Banyak orang dewasa dan anak-anak bersembunyi dari penembakan di masjid, termasuk warga #Turki,” tulis Kedubes Ukraina di Twitter, Sabtu (12/3).
Namun, pemberitaan itu dibantah oleh Kepala Yayasan Masjid Sultan Suleiman yang Agung, İsmail Hacioglu. Ismail menegaskan jika masjid tidak dibom oleh pasukan Rusia. Dia menambahkan bahwa memang terdapat bom yang dijatuhkan tetapi bom tersebut masih jauh dari masjid.
“Sebuah bom dijatuhkan 700 meter dari masjid, tapi kami baik-baik saja,” katanya kepada Turkish News Portal.
Dewan Kota Mariupol merilis data secara daring yang menyatakan setidak-tidaknya terdapat 1.582 warga sipil di Mariupol tewas akibat penembakan yang dilakukan oleh Rusia. Namun, data ini masih belum dapat diverifikasi secara independen karena kondisi masih tidak memungkinkan hal tersebut.
Negara-negara barat berusaha untuk memberikan bantuan kepada Ukraina, salah satunya Amerika Serikat (AS) yang memberikan tambahan dana Rp 2,8 triliun kepada Ukraina. Presiden AS, Joe Biden, memberikan persetujuan untuk bantuan senilai US$ 200 juta atau senilai Rp 2,8 triliun untuk Ukraina.
Dengan adanya bantuan ini, Amerika Serikat dapat memberikan senjata untuk Ukraina di tengah invasi yang dilakukan oleh Rusia. Biden telah memerintahkan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken untuk mengalokasikan dana kepada Ukraina berdasarkan Undang-Undang Bantuan Asing. Saat ini invasi masih terus berlangsung dan masyarakat global sedang menunggu upaya perundingan yang mungkin akan dilakukan oleh Rusia-Ukraina.
FDW








































