Lelang Surat Utang, Pemerintah Serap Rp 19 Triliun
Pemerintah melakukan pelelangan tujuh seri Surat Utang Negara (SUN) dan menyerap dana Rp 19 triliun. Investor domestik menjadi sangat dominan dan memiliki kepercayaan yang tinggi pada pasar SBN.
Pemerintah melakukan pelelangan tujuh seri Surat Utang Negara (SUN) dan menyerap dana Rp 19 triliun dari total keseluruhan penawaran masuk sebesar Rp 61,51 triliun melalui sistem lelang Bank Indonesia (BI).
Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu) melaporkan bahwa tujuh seri SUN yang ditawarkan tersebut adalah SPN03220602, SPN12230303, FR0090, FR0091, FR0093, FR0092, dan FR0089.
“Pemerintah melaksanakan lelang Surat Utang Negara pada tanggal 1 Maret 2022 untuk seri SPN03220602 (new issuance), SPN12230303 (new issuance), FR0090 (reopening), FR0091 (reopening), FR0093 (reopening), FR0092 (reopening) dan FR0089 (reopening) melalui sistem lelang Bank Indonesia,” tulis DJPPR dalam siaran pers.
Dari setiap seri SUN yang dilelang tersebut, SPN12230303 mendapatkan penawaran tertinggi diantara yang lain dengan total nilai mencapai Rp 24,1 triliun. SUN selanjutnya adalah FR0091 dengan nilai Rp 15,9 triliun dan SPN03220602 sebesar Rp 8.1 triliun.
Seri FR0092 mendapatkan jumlah nominal terbesar dengan total Rp 4,15 triliun dari penawaran Rp 6,95 triliun sehingga imbal hasil rata-rata tertimbang ditetapkan sebesar 6,89988%. Untuk seri FR0090, jumlah nominal yang terserap adalah Rp 1,75 triliun dari total penawaran Rp 3,05 triliun dengan yield rata-rata tertimbang ditetapkan 5,3496%.
DJPPR juga mencatat jumlah nominal yang dimenangkan dari FR0093 sebesar Rp 1,7 dari penawaran Rp 2,62 triliun dan ditetapkan yield rata-rata sebesar 6,50994 persen. Selanjutnya adalah SPN03220602 dengan dana yang diserap Rp 1 triliun dari jumlah penawaran Rp 8,18 triliun dan imbal hasil rata-rata tertimbang ditetapkan 2,174 persen. Nominal terkecil berasal dari FR0089 yaitu Rp 700 miliar dari penawaran masuk Rp 1,31 triliun dengan yield rata-rata tertimbang sebesar 6,89964%.
Head of Fixed Income Sucorinvest Asset Management, Dimas Yusuf menjelaskan bahwa faktor utama minimnya partisipasi dari jumlah penawaran adalah isu perang antara Rusia dan Ukraina.
Investor asing cenderung untuk tidak mengikuti penawaran kali ini dengan partisipasi hanya mencapai Rp 4,37 triliun atau 7,10% dari total penawaran yang masuk. Walaupun demikian, Dimas melihat investor domestik menjadi sangat dominan dan memiliki kepercayaan yang tinggi pada pasar SBN.
“Ada kemungkinan investor justru masih berharap yield bisa naik kembali agar entry point bagi mereka bisa lebih menarik lagi,” ucap Dimas.
FDW








































