Manuver Impor Pemerintah Untuk Turunkan Harga Daging yang Melonjak Tinggi
Ketergantungan impor dari Australia masih menjadi titik lemah Indonesia.
Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong (Gapuspindo) menyambut keputusan Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk melibatkan importir swasta terkait dengan adanya pembelian sapi dan kerbau bakalan dari Brasil dan Meksiko. Rencana ini akan dilaksanakan mulai paruh kedua tahun 2022.
Kepala Bapanas Arief Prasetyo melaksanakan tindakan ini setelah melihat harga daging sapi dan kerbau melonjak mengikuti harga beli dari Australia semenjak kuartal akhir tahun 2021. Kenaikan ini juga didasarkan atas ketergantungan Indonesia pada pasokan impor tunggal dari Australia. Hal ini berakibat pada naiknya harga daging walaupun ketersediaan di dalam negeri masih dalam keadaan surplus mencapai 2.736,7 ton sampai Mei 2022 nanti.
“Dengan Australia saat ini mereka naikan harga sampai US$4,4 per kilogram sementara kita tidak bisa apa-apa, kita harus keren begitu loh, kita negara hebat untuk menghadapi asing itu kita harus punya kedaulatan pangan supaya mereka tidak semena-mena dengan kita,” kata Arief.
Perluasan izin impor yang dilakukan oleh pemerintah untuk swasta diharapkan mampu menjaga stabilitas harga daging di dalam negeri, termasuk untuk menyambut masa Ramadhan nanti. Penambahan alternatif negara importir akan memberikan daya saing harga sehingga swasta tidak lagi berfokus pada satu pemasok semata.
“Semester kedua kita akan buka buat swasta juga kita akan cari yang terbaik tapi BUMN juga tetap ada supaya negara ini punya stok, tentu BUMN harus lebih baik dari swasta ya misalnya swasta dapat harga Rp60.000 BUMN harus bisa Rp55.000, pedagang kecil ini harus diayomi BUMN,” ucap Arief.
Arief juga menyatakan bahwa negara tujuan impor harus memenuhi standar tertentu, termasuk bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK), bebas PMK tanpa vaksinasi, dan telah memenuhi sertifikasi halal.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Gapuspindo Djoni Liano mengatakan bahwa rencana yang dilakukan oleh Bapanas dapat secara efektif mengurangi ketergantungan swasta terhadap daging dari Australia.
“Kami mendukung rencana tersebut dan harus membuka negara tersebut untuk mengurangi ketergantungan dengan Australia yang selama 32 tahun sebagai pemasok tunggal,” kata Djoni.
Gapuspindo mencatat, harga impor sapi bakalan jantan dari Australia pada bulan November tahun lalu masih berada di angka US$ 3,65 per kilogram atau setara dengan Rp 56.574 per kilogram. Hanya dalam kurun waktu 3 bulan harga tersebut melonjak hingga US$ 4,53 per kilogram atau setara dengan Rp 70.413 per kilogram.
FDW








































