Masa Depan Ekonomi Berbasis Syariah Pasca Merger 3 Bank
Dengan adanya peran aktif masyarakat dalam berdirinya Bank Syariah di Indonesia artinya kita juga membantu pemulihan ekonomi nasional dan untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
Pasca adanya merger 3 Bank Syariah, yaitu Bank Syariah Mandiri, Bank BNI Syariah, dan BRI Syariah, Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia (ILUNI FHUI) mengadakan Webinar yang bertemakan “Tonggak Sejarah Perbankan Syariah Indonesia: Masa Depan Ekonomi Berbasis Syariah.” Dalam webinar kali ini mengundang Sri Mulyani Indrawati selaku Menteri Keuangan Republik Indonesia sebagai Keynote Speaker, serta dua pemateri lainnya, yaitu Henri Gunardi selaku Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, dan Adiwarman Azwar Karim selaku Pengamat Ekonomi Syariah.
Sri Mulyani memberikan gambaran tentang harapan dengan adanya Bank Syariah Indonesia (BSI) masyarakat dapat turut ambil bagian dalam industri perbankan syariah. Dengan adanya peran aktif masyarakat dalam berdirinya Bank Syariah di Indonesia artinya kita juga membantu pemulihan ekonomi nasional dan untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
“Presiden mengajak kita bekerja keras menjadikan indonesia sebagai pusat gravitasi ekonomi syariah di tingkat global. Bank syariah Indonesia yg baru terbentuk diharapkan akan menjadi salah satu instrumen yg dapat memberikan kontribusi pembangunan ekonomi syariah, yang tujuanya untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia dan keadilan sosial,” tegasnya Sri Mulyani, Rabu (10/02).
Sri Mulyani menegaskan adanya kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia hal ini tidak hanya menjadi tantangan di bidang kesehatan, namun memberikan dampak yang luar biasa di bidang sosial, ekonomi, dan keuangan. Pertumbuhan ekonomi kita mengalami tekanan yang sangat dalam. Pada kuartal ke II pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 mengalami kontraksi pertama kali semenjak terjadinya krisis ekonomi dan keuangan tahun 1998.
Adiwarman Azwar Karim melihat adanya kontraksi pertumbuhan ekonomi karena pandemi covid-19 tersebut menjadi hal yang menarik untuk dijadikan sebuah peluang berdirinya Bank Syariah di Indonesia sekarang ini sebagai jalan keluar pemulihan ekonomi Nasional.
“Ini menarik sih, dulu pada tahun 1998 ketika Bank Muamalat menjadi melejit, menjadi hebat, itu kejadianya pada saat krisis juga. Jadi ketika krisis, Bank Syariah jadi malah lebih keren. Karena transaksi syariah selalu ada Underlying Transaction. Adanya sektor riil yg mendasarinya.” Ujar Azwar.
Bank Syariah tentu diharapkan menjadi jalan keluar untuk pemulihan dan peningkatan perekonomian Nasional ditambah Sri Mulyani memberikan visi untuk Bank Syariah Indonesia 5 tahun ke depan dapat menjadi pemain tingkat global. Akan tetapi Adiwarman Azwar menegaskan berdirinya Bank Syariah tidak menempatkan Bank Konvensional sebagai musuh.
“Kita jangan melihat Bank Konvensional itu sebagai musuh, tetapi kita harus melihat bank konvensional itu sebagai teman berkolaborasi,” Ucap Azwar..
Azwar menjelaskan bahwa memang secara ideologi berbeda, memakai syariah dan memakai konvensional, tetapi kemenangan menurutnya bukan ketika Bank Syariah menjadi lebih besar daripada bank konvensional. Kemenangan yang sesungguhnya, yaitu ketika Bank Syariah bisa mewarnai Bank Konvensional, sehingga produk-produk Bank Konvensional lebih mendekati nilai-nilai Islam.
“Dengan postur BSI yang besar ini, saya lihat ini kita punya kapasitas untuk memberikan inspirasi kepada industri perbankan Nasional, gak jadi syariah semuanya gak apapa. Tapi paling tidak praktek-praktek Bank Konvensional terinspirasi dan semakin dekat dengan nilai-nilai syariah yang kita junjung,” tambah Azwar.
Henri Gunardi sebagai Direktur BSI sepakat dengan pendapat Azwar. Bahwa dengan konvensional, market-market tertentu yang ingin masuk ke syariah, karena beberapa kesempatan terlihat bahwa ada memang satu tren ingin hijrah, akan tetapi hingga saat ini belum ada bank syariah yang memadai sesuai dengan yang diharapkan nasabah, mereka ingin memiliki relationship perbankan syariah, misalnya Private Banking. Umumnya nasabah-nasabah yang ingin hijrah tidak tahu akan dibawa kemana, karena tidak ada satupun bank syariah yang menyediakan layanan yang komprehensif maupun pelayanan Private Banking dan tentunya ini menjadi potensi untuk sinergi antara Bank Konvensional dan Bank Syariah.
“Terkadang nasabah Bank konvensional memiliki account di bank syariah, akan tetapi account di bank syariah bukan untuk aktivitas transaksi tapi digunakan untuk melakukan bakal sedekah, infak dan lain sebagainya, jadi selama ini aktivitas syariah dikonotasikan yang sosial-sosial padahal bank syariah adalah tetap lembaga keuangan yang profesional yang juga ujung-ujungnya untuk mengembangnkan bisnis kedepan, jadi dalam hal ini tidak ada kompetisi akan tetapi saling melengkapi sesuai dengan segmen masing-masing, yang tidak bisa diambil oleh konvensional akan diambil oleh syariah, dan tentunya ekosistemnya akan lebih baik” Ujar Hendri.
Meskipun berbasis syariah, Henri juga menjelaskan bahwa BSI tetap menjaring semua masyarakat sebagai nasabah baik muslim dan non muslim untuk menjadikan BSI menjadi Bank yang lebih universal.
“Nasabah tidak akan dibedakan, secara sistem pelaksanaan akan tetap sama, prinsip bagi hasil akan tetap dilaksanakan,” Jelas Hendri.
Henri menambahkan bahwa yang perlu digaris bawahi customer akan melihat competitivenes sebuah perbankan tidak ada urusan konvensional maupun syariah, siapapun banknya, sepanjang bisa memberikan atau menyediakan layanan dari sisi pricing, dari sisi fitur atau produknya yang dapat memenuhi kebutuhan nasabahnya yang disupport digitalnya yang baik, maka akan membuat nasabahnya dari manapun datangnya akan kesana, dari sisi lain tidak hanya dalam produk akan tetapi misalnya pelayanan.
Henri juga memaparkan Rencana BSI ke depan, yaitu melakukan digitalisasi industri. Selain itu juga pengoptimalan pada segmen generasi muda, strategi yang akan dilakukan salah satunya adalah branding. Kemudian strategi berikutnya adalah teknologi service yang dimana dalam aplikasinya akan banyak menggunakan sistem pembayaran yang terintegrasi. Program yang akan dibangun adalah membuat suatu program milenial yang menggunakan brand ambassador dari kaum milenial itu sendiri.
“Contohnya kedepan BSI dapat menjalin kerjasama dengan Link Aja, untuk membangun sistem pembayaran berbasis syariah” ucapnya.
Henri berharap masyarakat dapat mempercayakan transaksi keuangannya di BSI. Sehingga kedepannya penetrasi perbankan syariah akan lebih optimal.
RW








































