Memiliki Utang Rp 760 Triliun, Apakah Kebangkrutan Sri Lanka akan Berdampak ke Indonesia?

Memiliki Utang Rp 760 Triliun, Apakah Kebangkrutan Sri Lanka akan Berdampak ke Indonesia
Image Source by reuters.com

Memiliki Utang Rp 760 Triliun, Apakah Kebangkrutan Sri Lanka akan Berdampak ke Indonesia?

“Krisis ekonomi yang terjadi di Sri Lanka sejak tahun 2019 silam kini semakin memuncak dengan menipisnya ketersediaan bahan bakar dan kebutuhan pokok masyarakat di sana.”

Sejak tahun 2019, Sri Lanka diketahui telah memiliki utang luar negeri yang sangat banyak. Keadaan tersebut diperburuk dengan adanya pandemi Covid-19 yang berpengaruh terhadap beberapa sektor, seperti berhentinya sektor pariwisata di Sri Lanka. Hingga tahun 2021, utang tersebut diketahui mencapai US$ 50 miliar atau sebesar Rp 760 triliun. Tidak hanya sektor pariwisata, banyaknya utang tersebut mengakibatkan adanya inflasi, pemadaman listrik, krisis pangan, dan krisis bahan bakar berkepanjangan di negara tersebut.

Dilansir dari kompas.com, Ranil Wickremesinghe, seorang politikus yang saat ini sedang menjabat menjadi Presiden Sri Lanka mengatakan bahwa Sri Lanka akan menghadapi kesulitan pada tahun 2023 mendatang. Lebih lanjut, Wickremesinghe menjelaskan bahwa saat ini pembahasan mengenai keadaan Sri Lanka sedang didiskusikan bersama International Monetary Fund (IMF) dan keputusannya akan bergantung pada penyelesaian rencana restrukturisasi utang dengan kreditur pada Agustus.

“Kami sekarang berpartisipasi dalam negosiasi sebagai negara bangkrut,” ucap Wickremesinghe dikutip dari afp.com.

“Karena keadaan kebangkrutan negara kita, kita harus menyerahkan rencana keberlanjutan utang kita kepada mereka secara terpisah. Hanya ketika (IMF) puas dengan rencana itu kita bisa mencapai kesepakatan.” tambah Wickremesinghe sebagaimana dikutip dari afp.com

Melihat situasi dan kondisi negara Sri Lanka yang diambang kebangkrutan, lalu bagaimana pengaruhnya terhadap Indonesia?

Kamrussamad selaku Anggota Komisi XI DPR Fraksi Gerindra kini telah mewanti-wanti Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, untuk dapat terus mewaspadai dampak ekonomi yang sekiranya akan terjadi di Indonesia.

“Sejak awal saya termasuk yang melihat krisis ekonomi di Sri Lanka akan diikuti krisis politik. Dan, saat ini terjadi. Meski tidak ada dampak langsung, tetap ada risiko dampak tidak langsung yang perlu diwaspadai. Yaitu meluasnya krisis ke negara lain,” ujar Kamrussamad dilansir dari kontan.co.id (12/07/2022).

Dengan demikian, Krisis yang terjadi di Sri Lanka tidak memberikan dampak secara langsung kepada Indonesia. Hal itu dikarenakan Sri Lanka tidak memberikan dampak besar terhadap hubungan bilateral kedua belah negara yang berpengaruh secara langsung ke devisa negara maupun neraca perdagangan Indonesia. Dalam aspek ekspor, Sri Lanka telah berkontribusi sebesar 0,16% pada tahun 2021.

Di samping itu, dari aspek impor Sri Lanka telah berkontribusi sebesar 0,03% pada tahun 2021. Kendati Demikian, Indonesia tetap harus mewaspadai keadaan yang sedang terjadi di Sri Lanka karena hal tersebut berawal dari adanya krisis kelangkaan bahan bakar dan kenaikan harga bahan pokok pokok dan keadaan tersebut saat ini sedang terjadi di Indonesia. 

 

FMJ

Dipromosikan