Meta Bakal PHK 10 Persen Karyawan, Awal Kebangkitan Bubble Burst?
“Bubble burst terindikasi dari kontrasnya kondisi bisnis startup yang sebelumnya mengalami pertumbuhan usaha yang sangat pesat tetapi tersebut justru melakukan PHK atau bahkan hingga likuidasi.”
Dikutip dari The Wall Street Journal, platform layanan Meta Platform Inc. diketahui telah berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya. Hal ini diungkapkan Mark Zuckerberg usai adanya laporan kemerosotan pendapatan yang terjadi pada perusahaan.
“Meta Platforms Inc. berencana untuk memotong pengeluaran setidaknya 10% dalam beberapa bulan mendatang, sebagian melalui pengurangan staf, karena raksasa media sosial menghadapi pertumbuhan yang terhenti dan meningkatnya persaingan, menurut orang-orang yang mengetahui rencana perusahaan,” dikutip Wall Street Journal, Jumat (23/09/2022).
Juru Bicara Meta, Tracy Clayton, menjelaskan bahwa perusahaan harus merealokasi sumber daya perusahaan menuju prioritas perusahaan saat tekanan meningkat pada bisnis. Perusahaan juga diketahui melakukan pemotongan proyek dari divisi Reality Labs, yang telah kehilangan 10 miliar dolar AS pada 2021. Lusinan kontraktor Meta yang dipekerjakan oleh perusahaan luar juga baru-baru ini diberi tahu bahwa pekerjaan mereka telah dieliminasi.
Sebagaimana diketahui, fenomena ini sempat terjadi beberapa waktu belakangan ini dengan sebutan bubble burst. Ekonom Institute of Development of Economics and Finance (Indef), Didik J. Rachbini, mengatakan bahwa fenomena bubble burst terindikasi dari kontrasnya kondisi bisnis startup dimana sebelumnya startup-startup mengalami pertumbuhan usaha yang sangat pesat tetapi startup-startup tersebut justru melakukan PHK atau bahkan hingga likuidasi.
Baca juga: Benarkah Gelombang Bubble Burst Melanda Startup di Indonesia?
Dikutip dari Kumparan, sebelumnya Meta mengalami penurunan saham besar-besaran hingga 200 miliar dolar AS. Saham induk perusahaan rontok pada perdagangan Februari 2022 lalu merosot 26,4 persen.
Rontoknya saham Facebook hingga lebih dari 26 persen itu disebut Bloomberg sebagai yang terburuk yang pernah terjadi di pasar saham Amerika Serikat (AS).
Adapun kemerosotan pendapatan ini juga diduga terjadi karena adanya perubahan kebijakan privasi Apple dan persaingan ketat di dunia media dengan kehadiran Tik Tok. Pengguna aktif harian Facebook secara global pada kuartal IV 2021 turun dari kuartal sebelumnya, yakni dari 1,930 miliar jadi 1,929 miliar. Di sisi lain, aplikasi lain di bawah naungan Meta seperti Instagram dan WhatsApp dilaporkan tidak mengalami kenaikan signifikan pada kuartal terakhir.
AA








































