Optimis, Waskita Karya Akan Divestasi 30% Saham Tol Becakayu

Optimis, Waskita Karya Akan Divestasi 30% Saham Tol Becakayu

Optimis, Waskita Karya Akan Divestasi 30% Saham Tol Becakayu

PT Waskita Karya (Persero) Tbk optimis program divestasi ini akan akan memangkas utang perseroan sekitar Rp20 Triliun hingga Rp21 Triliun.

PT Waskita Karya (Persero) Tbk resmi menyatakan akan melakukan divestasi terhadap ruas tol yang dimilikinya yaitu Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu). Emiten berkode saham WSKT tersebut mengatakan bahwa langkah divestasi ini dilakukan untuk mengurangi utang di tengah pandemi covid-19.

Direktur Keuangan Waskita Karya Taufik Hendra Kusuma mengatakan keberhasilan transaksi divestasi ruas tol ini nantinya akan memangkas utang sekitar Rp20 Triliun hingga Rp21 Triliun. Ia mengatakan bahwa transaksi ini membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu mencapai 6 bulan.

“Prosesnya divestasi ruas tol membutuhkan waktu lama karena investor harus melakukan due diligence dan ada persyaratan good governance yang harus dipenuhi. Namun kami optimis program divestasi ini akan berhasil sehingga kinerja tahun depan akan lebih baik,” ungkap Taufik dalam keterangannya di Jakarta pada Minggu (6/9).

Adapun Perjanjian Pengikatan Jual-Beli (PPJB) telah dilakukan oleh  anak perusahaan PT Waskita Karya (Persero) Tbk yaitu PT Waskita Toll Road (WTR) pada 31 Agustus 2020 untuk pelepasan 30 persen kepemilikan pada ruas Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu). Dari PPJB ini terhitung nominal transaksi senilai Rp550 Miliar.

“Kami targetkan finalisasi transaksi di September atau Oktober tahun ini”, ungkap Taufik.

Melalui keterangannya, Taufik mengatakan bahwa Waskita Karya mencatatkan perolehan pendapatan usaha sebesar Rp8,04 Triliun pada laporan keuangan 30 Juni 2020. Walaupun mengalami penurunan signifikan dibandingkan laporan keuangan 30 Juni 2019, pendapatan usaha tersebut merupakan yang tertinggi apabila dibandingkan dengan tiga perusahaan konstruksi pelat merah lainnya.

“Dari sisi operasional, Waskita membuktikan tetap dapat mempertahankan profitabilitas di tengah pandemi,” katanya.

Taufik Hendra juga mengatakan Laba Sebelum Beban Bunga, Pajak, Depresiasi dan Amortisasi (EBITDA) yang diterima oleh perseroan sebesar Rp1,2 Triliun. Di sisi lain,  emiten berkode saham WSKT juga mencatatkan rugi bersih sebesar Rp1,1 Triliun. Kerugian ini disebabkan beban bunga investasi jalan tol yang membengkak di tahun ini.

“Siklus bisnis jalan tol itu memang di awal masa operasi akan mencatatkan loss (rugi), karena Lalu Lintas Harian Rata-Ratanya (LHR) masih rendah dan bunga pinjaman mulai dibebankan. Selain upaya peningkatan realisasi LHR, strategi divestasi ruas tol yang sudah beroperasi kepada investor merupakan upaya yang sedang dilakukan agar beban keuangan menurun,” ujarnya.

Perlu diketahui PT Waskita Karya (Persero) Tbk memegang kepemilikan atas 16 ruas jalan tol di Indonesia. Berdasarkan kepemilikan tersebut, terhitung total investasi yang diperkirakan dapat mencapai nominal Rp150 Triliun.

Pada Desember 2019 PT Waskita Toll Road (WTR) telah resmi melepas divestasi atas ruas Tol Solo-Ngawi yang dioperasikan PT Jasa Marga Solo Ngawi (JSN) sebesar 40% dan saham pada ruas Tol Ngawi-Kertosono- Kediri yang dioperasikan PT Jasa Marga Ngawi Kertosono Kediri (JNK) sebesar 40%. Kepemilikan saham itu diberikan kepada investor asal HongKong, Kings Key Limited. Terhitung perolehan keseluruhan mencapai hingga Rp 2,5 Triliun. 

Tidak hanya itu, pada tahun 2020 ini beberapa ruas tol milik PT Waskita Karya (Persero) Tbk tengah dalam proses divestasi, diantaranya ruas Tol Cibitung-Cilincing, dan beberapa ruas Tol Trans Jawa yaitu Kanci-Pejagan dan Tol Pejagan-Pemalang. Divestasi ini diperkirakan mencapai nominal Rp7 Triliun hingga Rp8 Triliun. 

 

AR

Dipromosikan