Pendapatan AirAsia Indonesia Turun 55% di Semester 1 2020
PT AirAsia Indonesia Tbk rugi 55,1% pada semester 1-2020 pemicunya operasional perusahaan terdampak pandemi covid-19.
Tercatat laporan keuangan perusahaan berkode saham CMPP atau PT AirAsia Indonesia Tbk mengalami kerugian yang cukup besar. Berdasarkan laporan keuangan semester 1-2020 CMPP hanya mendapatkan rugi bersih senilai Rp1,34 Triliun atau turun 55,1% dari pendapatan periode yang sama tahun lalu Rp2,99 Triliun. Hal ini sesuai dengan prediksi yang diungkapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (21/8) yang memperkirakan rugi bersih perusahaan akan mengalami penurunan 51-75 persen lantaran operasional perusahaan terdampak pandemi covid-19.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan pada Rabu (2/9) rugi usaha yang ditanggung oleh perusahaan senilai Rp1,05 Triliun atau naik dari kerugian usaha yang ditanggung pada semester 1-2019 senilai Rp37,8 Miliar. Salah satu pemicunya berasal dari penyusutan beban usaha semula Rp 3,03 Triliun menjadi Rp 2,39 Triliun per 30 Juni 2020.
Adapun pendapatan usaha dari penerbangan berjadwal penumpang turun senilai Rp1,09 Triliun yang pada tahun lalu mencapai nominal Rp2,47 Triliun. Hal ini diikuti oleh penerbangan berjadwal bagasi yang turun Rp121,5 Miliar dari Rp332,1 Miliar pada 30 Juni 2019.
Meskipun demikian, penurunan ini tidak terjadi pada pendapatan usaha dari penerbangan berjadwal kargo. PT AirAsia Indonesia Tbk mengantongi pendapatan senilai Rp51 Miliar naik dari Rp30 Miliar pada semester 1-2019.
Sampai 30 Juni 2020, jumlah kas dan bank yang dimiliki oleh CMPP berjumlah Rp34,4 Miliar dari Rp311,8 Miliar pada awal tahun. Jumlah ini berbanding terbalik dengan jumlah kas yang dimiliki pada 31 Desember 2019 berjumlah Rp318,6 Miliar dari Rp140,4 Miliar pada awal tahun 2019.
Dari sisi beban gaji dan tunjangan, tercatat AirAsia Indonesia mengeluarkan dana sejumlah Rp307 Miliar berbeda dengan catatan tahun 2019 yaitu Rp347 Miliar. Pengurangan ini akibat kebijakan AirAsia Indonesia pada April 2020 yang memangkas gaji sementara karyawannya dari range 15%-75% akibat operasional perusahaan terdampak pandemi covid-19.
Di sisi lain, total aset CMPP tercatat Rp 6.8 Triliun meningkat 164% dibandingkan total aset pada periode 31 Desember 2019 yang tercatat sebesar Rp 2,6 Triliun. “Peningkatan pada aset ini disebabkan oleh adanya peningkatan pada pos kewajiban sewa pembiayaan atas penerapan PSAK 73 dan peningkatan pada instrumen derivatif di tahun 2020,” ungkap Manajemen PT AirAsia Indonesia Tbk dari keterbukaan informasi pada Rabu (2/9).
Adapun, total liabilitas naik 241 persen dari 31 Desember 2019 menjadi Rp8,21 Triliun per 30 Juni 2020. Kenaikan itu disebabkan peningkatan pos kewajiban sewa pembiayaan atas penerapan PSAK 73 dan peningkatan instrumen derivatif pada 2020.
Untuk total liabilitas dan ekuitas CMPP per 30 Juni 2020 mencapai nominal Rp6,8 Triliun. Sedangkan untuk total liabilitas dan ekuitas per 31 Desember 2019 mencapai nominal Rp2,6 Triliun.
AR








































