Siap Karantina Wilayah, Pelaku Usaha Tekankan 2 Hal Ini
“Kalau masalah dampak ekonominya nanti bisa sambil berjalan apabila virusnya tereliminir, tapi jika virus tidak teratasi maka masyarakat juga tidak berani untuk beraktifitas”
Pemerintah saat ini masih menggodok dan melakukan kajian untuk melakukan karantina di wilayah DKI Jakarta untuk memutus rantai penyebaran virus corona (Covid-19). Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan telah mengirim surat kepada Presiden Jokowi, meminta pemberlakuan karantina wilayah di DKI Jakarta dan Jabodetabek. Permintaan ini diajukan terkait penyebaran virus corona di Ibu Kota.
Hal ini pun dibenarkan oleh Menko Polhukam Mahfud MD yang mengakui telah menerima surat permintaan dari Anies tersebut. “Ya, suratnya bernomor 143 tertanggal 28 Maret 2020. Diterima tanggal 29 Maret 2020 sore. Isinya minta pertimbangan pemberlakuan karantina wilayah,” ujar Mahfud.
Hal ini tentunya sangat berpengaruh tak hanya bagi para pelaku bisnis di sektor logistik, perdagangan, energi, industri, perbankan dan lain sebagainya namun juga sangat berdampak bagi para pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM).
Dengan adanya Pandemi Covid-19 ini, Dewan Penasehat Himpunan Peritel dan Penyedia Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Tutum Rahanta berpendapat beberapa sektor tertentu pasti menurun. Terlebih dengan sudah ditutup sementara pusat-pusat perbelanjaan.
Namun, Ia menegaskan saat ini fokus utama ada pada dua hal. Pertama bagaimana memenuhi kebutuhan pokok masyarakat dan kedua beriringan disiplin memutus rantai penyebaran Covid-19.
“Yang jelas kita bantu upaya pemerintah apapun keputusan kita dukung. Utama gimana kita bantu putuskan rantai ini, kalau tidak disiplin akan lama penyelesaian ini tidak bisa main-main,” jelasnya.
Adapun menyoal berapa kerugian sektor ritel, Tutum belum dapat menyampaikan. Saat ini beberapa pusat perbelanjaan sudah dilakukan penutupan sementara namun, untuk penyedia kebutuhan bahan pokok sendiri tetap buka.
“Potensi kerugian berapa, mana bisa sekarang. Yang jelas pasti merugi, berapa belum bisa. Kita yang penting dukung keputusan pemerintah buat putus rantai dulu penyebaran,” ungkap Tutum.
Ia juga tak menampik adanya penjualan dari anggotanya via online karena memberikan kemudahan dalam berbelanja. “Muncul kreatifitas teman-teman, karena keterbatasan orang buat keluar. Sekarang kalau kayak gini pasti kepikiran dalam benak belanja baju online aja,” kata Tutum.
Menurut Hariyadi Sukamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) juga menilai bahwa efek karantina bagi pebisnis UMKM apabila direalisasikan maka sebetulnya tidak ada bedanya dengan apa yang sudah dirasakan saat ini efeknya. “Tentunya menurut saya sudah tidak ada bedanya dari seminggu ini, besok kalau jadi juga pastinya akan sepi,” katanya.
Menurutnya juga tak ada pilihan lagi yang bisa dilakukan kecuali pemerintah mengkarantina wilayah DKI Jakarta. Ia bilang, hal ini memang tak ada pilihan lagi, mengingat angka positif dan angka kematian Covid-19 juga terus bertambah.
Saat ini, Hariyadi mengatakan hal yang harus diutamakan adalah bagaimana cara menangani penyebaran virus terlebih dahulu. Untuk dampak perekonomiannya menurutnya bisa dilakukan dan dipikirkan setelah virus ini mereda. “Kalau masalah dampak ekonominya nanti bisa sambil berjalan apabila virusnya tereliminir, tapi jika virus tidak teratasi maka masyarakat juga tidak berani untuk beraktifitas,” ujarnya.
PNJ








































