Sri Mulyani Beberkan Sektor Industri yang Cuan dan Amsyong Saat Covid-19
Industri tekstil menjadi salah satu sektor yang mendulang keuntungan di tengah wabah Covid-19. Sebaliknya, sektor pariwisata menjadi sektor industri yang paling telak menerima dampak dari Covid-19 ini.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, ditengah wabah Covid-19 banyak sektor industri dalam negeri yang menderita kerugian (amsyong). Namun, menurutnya juga ada sektor industri yang mendulang keuntungan (cuan) akibat wabah Covid-19 ini.
“Ada sektor yang mengalami booming yang diperkirakan bisa mendapatkan potensial atau manfaat dari Covid-19 ini. Sektor tersebut yaitu: jasa logistik, jasa telekomunikasi elektronik, makanan dan minuman, farmasi, hingga tekstil,” kata Sri Mulyani dalam rapat kerja bersama Komisi XI di Jakarta, Senin (6/4) lalu.
Sri mencontohkan, untuk perusahaan tekstil pastilah mendapatkan cuan. Menurutnya, hal ini terjadi karena mereka tengah didorong untuk memproduksi Alat Pelindung Diri (APD) yang saat ini sangat dibutuhkan oleh para dokter dan tenaga medis dalam jumlah banyak.
“Karena subtitle dan tekstil ini di Indonesia terasa sekali waktu kita bicara tentang produksi APD dari masker di mana seluruh industri di Indonesia sekarang dalam situasi yang menjadi konsen adalah bahan baku,” katanya
Namun demikian, Sri menuturkan, bukan berarti industri-industri tersebut tidak mengalami masalah. Bendahara negara itu menyebutkan, bahwa saat ini banyak perusahaan yang mengalami kekurangan bahan baku. Bahkan, di dalam sidang kabinet dipaparkan bahan baku untuk berbagai peralatan kesehatan yang diimpor dari Korea Selatan akan habis dalam waktu dua pekan ke depan.
Untuk itu, pemerintah dan pelaku industri tengah berupaya untuk bisa memproduksi bahan baku lokal yang mampu memenuhi sertifikasi serta standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
“Karena seluruh negara termasuk Amerika Serikat hari ini sangat kekurangan APD, masker, dan ventilator sehingga itu jadi komoditas yang menjadi rebutan di seluruh dunia,” ujarnya.
Kemudian, Sri berujar, adapun beberapa sektor industri yang sudah dipastikan bakal terimbas pukulan dari Covid-19 ialah sektor industri pariwisata, UMKM, transportasi, hingga sektor tambang.
“Sektor tambang pun mengalami tekanan lantaran harga komoditas yang terus menurun. Adapun sektor keuangan kemungkinan akan mengalami second round effect setelah sektor riil dan rumah tangga mengalami penurunan aktivitas yang memungkinkan kenaikan NPL. Kemudian UMKM, yang mana di tahun 1998-1999 relatif memiliki ketahanan karena krisis berasal dari sektor keuangan besar dan korporasi. Namun, di Covid-19 mereka terdepan terkena dampak karena tidak ada kegiatan sosial,” tutup Sri Mulyani.
Sebelumnya, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kemenperin, Putu Juli Ardika menyebutkan, terdapat industri otomotif di dalam negeri yang dapat memproduksi alat bantu pernapasan atau ventilator yang dibutuhkan dalam penanganan pandemi Covid-19 di Tanah Air dan siap memenuhi permintaan pemerintah.
Dia menjelaskan, produsen otomotif tersebut sedang menindaklanjuti kerja sama dengan industri komponen untuk melakukan reverse engineering dalam pengembangan prototipe ventilator.
“Perusahaan itu juga telah mengidentifikasikan ada beberapa tim di lembaga pendidikan dan penelitian yang sedang bekerja mengembangkan ventilator,” katanya kepada wartawan, Senin (6/4) lalu.
Sementara itu, Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi menyatakan, dalam upaya mendorong para anggotanya untuk memproduksi ventilator, pihaknya meminta kepada pemerintah agar menyediakan rekanan kompeten.
Ia menjelaskan, pendamping tersebut akan sangat membantu, mulai dari menjabarkan cetak biru terkait teknis pembuatan ventilator, alih teknologi, sampai memodifikasi fasilitas perakitan mobil yang ada saat ini.
“Kemudian, mitra yang sudah berpengalaman itu menentukan standar bahan baku kepada pemasok, kami hanya membantu menjahitkan,” ujarnya.
Sebaliknya, pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terpukul dengan merebaknya virus corona di Indonesia. Menurut Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), Budijanto Ardiansjah mengungkapkan, virus tersebut sampai membuat operasional travel agent hanya tinggal 20 %.
“Memang dampaknya besar sekali di industri pariwisata baik di hotel, restoran, maupun di biro perjalanan. Biro perjalanan sekarang rata-rata itu tinggal 20% operasionalnya. Hanya tinggal 20%. Kalau dibiarkan terus menerus ya bisa setop semua,” kata Budijanto, Selasa (18/3) lalu, dikutip dari galamedianews.com.
Budijanto mengatakan angka 20% itu rata-rata hanya didapatkan dari wisatawan domestik. Tak heran, kondisi tersebut membuat biro perjalanan harus pintar-pintar memutar otak untuk menyiasatinya.
“Sekarang banyak kawan-kawan melakukan langkah-langkah efisiensi,” ujar Budijanto.
Berikutnya, Ia menerangkan, secara praktis dengan kondisi tersebut, pengusaha pun akan melakukan efisiensi. Langkah itu diambil agar usahanya tetap dapat bertahan ditengah kondisi yang terjadi sekaligus menghindari terjadinya gelombang PHK seperti yang dikhawatirkan pemerintah.
“Hari kerja dikurangi menjadi lima hari, ada juga yang bergantian masuknya, tapi ada juga yang mulai minggu ini meliburkan total karyawannya sampai akhir bulan ini. Mungkin mencapai 50% perusahaan yang melakukan tapi masih kami data,” ujarnya
Selama diliburkan, Budijanto mengatakan, para pengusaha tetap berupaya memberikan hak karyawan berupa gaji pokok. Namun, ada beberapa yang melakukan pemotongan secara proporsional berdasarkan kehadiran yang rata-rata maksimal potongan 25% dari gaji pokok.
Keputusan tersebut, diakui Budijanto cukup berat untuk diambil. Apalagi langkah efisiensi tersebut tidak bisa terlalu lama dilakukan. Hal ini mengingat kemampuan dari perusahaan masing-masing. Akan tetapi, beberapa anggota menyebutkan, hanya dapat bertahan sampai enam bulan mendatang apabila tidak juga ada perubahan sebelum akhirnya gulung tikar.
“Makanya kami sangat mengharapkan peranan pemerintah karena yang terkena dampak Corona ini tidak hanya hotel, restoran, manufaktur, tetapi juga kami perusahaan perjalanan wisata. Harapannya bisa meringankan dari sisi pajak, dengan penghapusan PPN dan PPh, serta relaksasi dari perbankan karena yang menggunakan dana bank otomatis akan kesulitan memenuhi kewajibannya karena bisnis tidak berjalan,” tuturnya.
Budijanto mengakui kondisi tersebut memang tidak bisa dihindari karena dampak virus corona sudah menyebar ke seluruh dunia. Wisatawan mulai berpikir ulang untuk bepergian ke suatu negara karena takut terpapar virus tersebut.
“Sekarang umrah sudah tutup, Timur Tengah tutup, Palestina tutup, Eropa juga sudah banyak kan. Jadi kekhawatiran orang. Kemudian dalam negeri juga tidak aman,” ungkap Budijanto.
Meski begitu, Budijanto menegaskan pihaknya tidak hanya ingin tinggal diam. Saat ini ASITA sedang menggalakkan kampanye slogan ‘be healthy, keep traveling’. Ia berharap semua pihak ikut membantu menenangkan atau menjaga kondusifitas. Sehingga masyarakat tidak panik dan bisa perlahan beraktivitas.
“Enggak mungkin kita terus berdiam diri terus, harus digerakkan paling tidak di domestik dulu yang bisa berjalan,” tutup Budijanto.
SF








































