Strategi dan Kebijakan Industri Kosmetik Halal Wardah dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

Strategi dan Kebijakan Industri Kosmetik Halal Wardah dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

Strategi dan Kebijakan Industri Kosmetik Halal Wardah dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

Berkah pembelajaran dari training yang diikuti oleh Nurhayati 2 tahun lalu sebelum terjadinya wabah Covid-19. Saat itu, trainer mengungkapkan suatu strategi antisipasi perusahaan dengan cara menyiapkan tabungan  untuk jangka waktu paling sedikit untuk waktu 6-12 bulan.

Kamis, (23/4) lalu, Program Doktor S3 Perbankan Syariah Fakultas Hukum Universitas Islam Negeri  Syarif Hidayatullah Jakarta (FH UIN Jakarta), mengadakan webinar dengan tema “Kebijakan & Strategi Industri Halal dalam Menghadapi Covid-19”. Pada kesempatan itu, CEO PT Paragon Technology and Innovation (Wardah Cosmetic) Nurhayati Subakat, menceritakan sejarah dan lika-liku dirinya membangun brand Wardah kosmetik menjadi kosmetik halal nomor satu di Indonesia serta mengungkapkan kebijakan & strategi perusahaannya dalam menghadapi wabah Covid-19.

“Dengan latar belakang farmasi dan lima tahun bekerja di Industri kosmetik, saya beranikan diri untuk mulai merintis usaha pada tahun 1985. Waktu itu masih home industri  dengan dua orang karyawan, tapi alhamdulillah saat ini  kita sudah memiliki sekitar 12 Ribu karyawan,” katanya.

Nurhayati mengatakan sejak tahun 1995 ketika wardah lahir sebagai pioneer (pelopor) kosmetik halal di Indonesia, yang mana pada waktu itu penjualan produknya tidak langsung sukses.

“Dimana pesantren awalnya menjadi market kita, tapi santri-santri waktu itu tidak pakai kosmetik,” tuturnya.

Seiring waktu, Nurhayati dan tim merubah strategi dagang dan menerapkan value dalam membangun perusahaan. Adapun valuenya yaitu: ketuhanan, keteladanan, kekeluargaan, tanggung jawab, fokus pada pelanggan, dan inovasi. Dengan hal tersebut, perusahaannya pun bisa berjaya. 

Nurhayati menerangkan, puncaknya pada tahun 2009 saat hijabers booming, di saat itu pula Wardah melakukan relaunching.

“Bisa disebut itu pertolongan Allah, dimana momentumnya pas, terjadi loncatan penjualan, karena satu-satunya kosmetik yang bisa menjawab kebutuhan hijabers adalah wardah. Kemudian, kita mengembangkan kosmetik milenial melalui brand EMINA, karena milenial tidak mau pakai kosmetik seperti emak-emak. Alhamdulillah 3 Tahun berturut-turut wardah menjadi kosmetik nomor satu di Indonesia,” ucapnya.

Berikutnya, sehubungan dengan wabah Covid-19 ini Nurhayati mengatakan, pihkanya telah memberikan CSR berupa bantuan APD kepada 130 Rumah Sakit (RS) senilai 40 Milyar.

“Dana ini sebenarnya buat beasiswa tapi karena ini panggilan kemanusiaan, akhirnya dana CSR buat cadangan itu kami berikan untuk memenuhi kebutuhan Rumah Sakit berupa APD,” tukasnya.

Nurhayati menuturkan, secara terus terang sebetulnya penjualan pada perusahaannya turun di atas 50%. Hal ini menurutnya, disebabkan oleh konsumen (karyawan) yang sudah tidak lagi memakai  kosmetik karena banyaknya arahan untuk bekerja dari rumah. Namun demikian, Nurhayati mengatakan sudah menyiapkan strategi untuk perusahaannya.

“Alhamdulillah sebetulnya, saya merasa lega sekarang, dua tahun yang lalu kami mendapat training, kemudian si trainee ini bilang, kenapa sih perusahaan harus punya tabungan untuk jangka waktu paling sedikit 6-12 bulan. Waktu itu disampaikan ada bencana alam, salah satunya beliau sampaikan kalau ada wabah penyakit (epidemi/pandemi). Saya waktu itu tidak kebayang wabah penyakit seperti apakah yang menyebabkan kita punya dana cadangan segitu besar. Saya menyadari itu, setelah pandemi Covid-19 meluas penyebarannya di Indonesia. ” ucapnya.

Nur menerangkan, efek Covid-19 terkait keberlangsungan perusahaan jauh lebih besar dari bencana alam.

“Kalau saya merasakan. Karena wabah Covid-19 ini kita tidak tahu kapan mau selesai ya.  Tapi saat ini alhamdulillah, kami punya dana cadangan untuk 6 bulan ke depan. Makanya dengan kondisi seperti ini yang paling penting sekarang untuk perlunya tabungan.

Kemudian Nur mengungkapkan terkait kebijakan perusahaannya dalam menghadapi wabah Covid-19 sebagai berikut:

Pertama, mengutamakan kesehatan dan keselamatan paragonian (baca: sebutan untuk stakeholder perusahaannya).

“Ini adalah karyawan kami, anak saya yang nomor tiga dokter sangat-sangat konsen dengan kesehatan. Akhirnya langsung diputuskan di tanggal 16 begitu Covid mencuat, supaya karyawan tetap sehat, maka jam kerjanya dikurangi dan  mengikuti protol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Alhamdulillah sampai saat ini dari 12 ribu karyawan tidak satupun yang terinfeksi Covid-19,” ucapnya.

Kedua, fokus pada kegiatan yang mendukung penjualan dan menghasilkan cash

“Dicari lagi, apalagi barang-barang yang dibutuhkan selain kosmetik karena kosmetik turun. Sehingga satu minggu lalu, kami akhirnya keluarkan berbagai produk antiseptik, hand wash, dan hand sanitizer. Permintaannya cukup banyak. Mudah-mudah bisa mengganti penjualan,” terangnya.

Ketiga, tekan biaya serendah mungkin. “Promosi di TV dan segala macam itu dihapus,” katanya.

Keempat, mengalihkan penjualan produk melalui online (online market)

Kelima, selalu berdoa dan berdoa dan bergotong royong dan saling mendukung satu sama lain.

“Mohon doanya semoga kami bisa menyelamatkan perusahaan dengan 12 ribu  karyawan. Semangatnya kami tidak ingin ada PHK di perusahaan ini, tapi ya putus kontrak tentu harus ada ya. Kita naik di satu kapal bagaimana kita memikirkan kapal ini tidak tenggelam,” tutupnya.

SF

Dipromosikan