Terlilit Utang Sebesar Rp35 Triliun, Angkasa Pura I Rencanakan Program Restrukturisasi Operasional dan Finansial
PT Angkasa Pura I (Persero) dikabarkan sedang merencanakan restrukturisasi perusahaan akibat kondisi keuangan yang mencekam. Pasalnya, Angkasa Pura I tengah terlilit utang sebesar Rp35 Triliun dan mengalami kerugian sekitar Rp200 miliar per bulannya.
Dalam Rapat Kerja Komisi VI DPR RI (2/12), Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo menyebutkan “Memang Angkasa Pura tekanannya berat sekali. Kondisi keuangan mereka mencapai Rp35 triliun, dan kalau kira rate, loss bulanan mencapai Rp 200 miliar. Setelah pandemi utang bisa bertambah jadi Rp38 triliun.”
Berdasarkan keterangan Direktur Utama Angkasa Pura I, Faik Fahmi, saat ini Angkasa Pura sedang dalam proses perancangan program restrukturisasi yang diharapkan dapat rampung pada Januari 2022.
Faik juga menyampaikan bahwa rencananya restrukturisasi finansial akan dilakukan melalui asset recycling, intensifikasi penagihan piutang, dan mengajukan restitusi pajak untuk menekan beban perusahaan.
Selain itu, Persero juga akan mendorong efisiensi operasional seperti layanan bandara berbasis trafik, penyederhanaan organisasi, menunda program investasi, hingga mendorong anak usaha untuk menambah sumber pendapatan.
Sedangkan restrukturisasi operasional akan dilakukan melalui peningkatan kerja sama mitra strategis untuk beberapa bandara, yaitu Bandara Hang Nadim Batam, Bandara Dhoho Kediri, dab Bandara Lombok Praya. Terhadap lahan tidak produktif pun akan nantinya dilakukan pemanfaatan kembali.
Restrukturisasi akan ditujukan untuk memperkuat profil keuangan perusahaan terutama untuk menambah pendapatan cash in, efisiensi biaya, dan upaya fundraising.
Target perseroan dari rangkaian restrukturisasi adalah dana tambahan sebesar Rp3,8 Triliun, peningkatan efisiensi biaya sebesar Rp704 miliar, dan perolehan fundraising sebesar Rp 3,5 triliun.
Adapun tunggakan utang dan kerugian yang dialami Angkasa Pura I ini diantaranya disebabkan oleh keadaan bandara yang sepi akibat pandemi COVID-19.
Persero juga masih dalam proses pengembangan dan pembangunan berbagai bandara baru yang mana membutuhkan biaya triliunan rupiah. Namun, pembangunan ini tidak diikuti dengan peningkatan lalu lintas penerbangan.
Selama masa pandemi, tercatat penurunan drastis trafik penumpang khususnya pada 15 bandara Angkasa Pura I. Sebagai informasi, trafik penumpang pada tahun 2019 mencapai 81,5 juta penumpang. Sedangkan pada tahun 2020 trafik menurun menjadi 32,7 juta penumpang.
PNW








































