Lippo Group resmi melepas kendali Cinemaxx setelah Cinepolis mengambil alih penuh bisnis bioskop tersebut di Indonesia. Di balik ekspansi besar ini, proses akuisisi ternyata menyimpan risiko hukum, utang tersembunyi, hingga potensi persoalan persaingan usaha.
Cinepolis, jaringan bioskop asal Meksiko, kini resmi mengendalikan seluruh bisnis bioskop di Indonesia setelah mengakuisisi penuh PT Cinemaxx Global Pasifik. Ini menandai berakhirnya kemitraan dengan Lippo Group yang telah berlangsung selama tujuh tahun.
Sejak 2019, Cinepolis telah mengakuisisi sebagian saham Cinemaxx, namun kini, melalui Cinepolis International Holding, S.L. yang berbasis di Spanyol, perusahaan ini memegang kendali penuh. Langkah ini tentu saja menandai era baru bagi industri bioskop Indonesia, mengingat Cinepolis telah memperluas jangkauannya jauh melampaui pusat perbelanjaan milik Lippo Group, termasuk membuka cabang pertama di Papua di Paragon Square Mall Sorong.
Pada awalnya, Lippo Group menjadi mitra strategis dalam operasional Cinemaxx, namun seiring berjalannya waktu, Cinepolis mengambil alih peran dominan, memperkuat posisinya di pasar hiburan Indonesia.
Akuisisi ini membuka peluang besar bagi Cinepolis untuk berekspansi lebih luas dan menghadirkan konsep bioskop yang lebih segar dengan fasilitas dan teknologi yang lebih maju. Kini, Cinepolis tidak hanya hadir di pusat perbelanjaan Lippo Malls, tetapi juga menjangkau daerah-daerah yang lebih terpencil, memperluas akses hiburan berkualitas bagi masyarakat Indonesia.
Baca juga: Pemkot Surabaya Berbenah Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) 2026
Pemahaman Akuisisi Dalam Dunia Bisnis
Akuisisi merupakan proses dimana sebuah perusahaan membeli saham atau aset dari perusahaan lain untuk mengambil alih kendali atas perusahaan tersebut. Dalam kasus ini, Cinepolis mengakuisisi Cinemaxx untuk memperoleh kendali penuh atas jaringan bioskop di Indonesia.
Akuisisi semacam ini sering terjadi di dunia bisnis untuk memperluas pangsa pasar, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat posisi perusahaan di pasar yang kompetitif. Bagi pelaku usaha, menghadapi akuisisi membutuhkan kesiapan baik dari segi finansial, operasional, maupun mental.
Sebelum melakukan akuisisi, perusahaan yang menjadi target harus mempertimbangkan beberapa faktor penting, seperti nilai perusahaan, proses integrasi, dan kultur organisasi.
Misalnya, Cinepolis harus menyesuaikan operasional dan budaya kerjanya dengan tim yang sebelumnya berada di bawah naungan Lippo Group. Proses transisi ini bisa menjadi tantangan yang membutuhkan strategi matang agar tidak mengganggu kelancaran operasional dan mempertahankan loyalitas pelanggan.
Selain itu, akuisisi juga memberikan peluang besar untuk ekspansi yang lebih luas. Bagi perusahaan yang melakukan akuisisi, mereka harus menjaga agar integrasi berjalan lancar, tidak hanya dari segi administrasi, tetapi juga dalam aspek hubungan dengan pelanggan dan mitra bisnis. Hal ini sangat penting dalam menghadapi potensi perubahan pasar yang mungkin terjadi akibat peralihan kepemilikan.
Pentingnya melakukan Uji Tuntas sebelum Akuisisi
Sekar Ayu Primandani, selaku partner dari kantor hukum BP Lawyers mengemukakan pandangannya:
“Sebelum melakukan akuisisi, menjadi penting bagi perusahaan yang melakukan pengambilalihan untuk sebelumnya melakukan Uji Tuntas (Due Diligence) terhadap perusahaan yang akan diambil alih (perusahaan target). Uji Tuntas dilakukan dengan tujuan mendapatkan data dan informasi yang akurat dan paling baru mengenai perusahaan target, termasuk hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang dimiliki perusahaan target baik berupa aset maupun utang”
Lebih lanjut Sekar menjelaskan kalau pada umumnya, Uji Tuntas terbagi menjadi 3 jenis:
- Uji Tuntas Keuangan (Financial Due Diligence)
- Uji Tuntas Pajak (Tax Due Diligence)
- Uji Tuntas Hukum (Legal Due Diligence)
Uji Tuntas Keuangan dan Uji Tuntas Pajak dilakukan untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan target secara akurat dan paling baru melalui dokumen pembukuan serta perpajakan perusahaan. Apabila langkah ini tidak dilakukan, terdapat risiko bahwa perusahaan target memiliki kewajiban-kewajiban yang belum dipenuhi, dan tanggung jawab untuk memenuhi kewajiban tersebut jatuh ke tangan perusahaan yang mengambil alih. Kewajiban ini dapat diantisipasi apabila ditemukan ketika Uji Tuntas dilakukan.
Uji Tuntas Hukum dilakukan untuk memeriksa dan menguji status hukum perusahaan target, beserta dokumen-dokumen pendukungnya. Mulai dari status perusahaan sebagai badan hukum, pengurus dan pemegang saham perusahaan, penyetoran modal perusahaan, perjanjian-perjanjian perusahaan dan kewajiban yang mengikat, dokumen alas hak atas aset berwujud dan tidak berwujud, dokumen alas kewajiban atas utang, hubungan ketenagakerjaan antara perusahaan dan karyawan, sampai status perkara atau sengketa yang dihadapi perusahaan beserta pihak-pihak yang terkait dengannya.
Untuk akuisisi yang dilakukan terhadap perusahaan target yang bergerak di sektor usaha yang sama seperti akuisisi Cinemaxx oleh Cinepolis, perlu dipertimbangkan juga untuk melakukan Uji Tuntas Hukum khusus terkait dengan kepatuhan terhadap hukum persaingan usaha di Indonesia, untuk mencegah adanya monopoli dan memastikan kewajiban terkait persaingan usaha sehat dilakukan secara tepat waktu dan sesuai dengan prosedurnya.
Era Baru Bioskop Indonesia Dimulai
Perubahan besar yang dilakukan oleh Cinepolis dengan mengambil alih seluruh kendali bisnis bioskop Indonesia menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan pasar hiburan tanah air. Langkah ini membuka peluang baru dalam hal ekspansi bioskop di berbagai daerah yang sebelumnya belum tersentuh oleh jaringan bioskop besar.
Dengan lebih banyak cabang yang tersebar di luar kota besar, Cinepolis diharapkan bisa memperkenalkan standar bioskop internasional kepada lebih banyak penonton di Indonesia.
Namun, bagi pelaku industri bioskop lainnya, perubahan ini juga menjadi sinyal bahwa persaingan di pasar bioskop Indonesia semakin ketat. Perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang yang sama harus menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut dan mencari cara untuk bersaing di pasar yang kini dikuasai oleh pemain besar seperti Cinepolis.
(RED)








































