Desta Resmi OUT: Eratnya Persahabatan Tak Mengaburkan Kewajiban Founder Agreement

Desta Resmi OUT: Eratnya Persahabatan Tak Mengaburkan Kewajiban Founder Agreement
Sumber Gambar: Viva

Desta memilih keluar dari Vindes setelah membangun bisnis bersama Vincent Rompies. Di balik keputusan founder untuk melanjutkan jalan berbeda, ada satu hal yang kerap terlupakan: bagaimana nasib kepemilikan, aset, kewenangan, dan bisnis ketika salah satu pendiri pergi? 

Bisnis yang dibangun bersama sahabat, apakah selalu bisa berjalan bersama sampai akhir? Pertanyaan tersebut kembali muncul setelah Desta mengumumkan dirinya tidak lagi menjadi bagian dari perjalanan Vindes Corp yang sebelumnya dibangun bersama Vincent Rompies. Keputusan tersebut menjadi perhatian publik karena Vindes selama ini dikenal sebagai bisnis yang lahir dari hubungan pertemanan dan chemistry kuat antara dua figur publik tersebut.

Terlepas dari alasan personal di balik keputusan tersebut, keluarnya seorang founder merupakan dinamika yang dapat terjadi dalam dunia usaha. Sebuah perusahaan tidak hanya dibangun melalui kedekatan personal, tetapi juga melalui visi, peran, kepemilikan, serta keputusan bisnis yang terus berkembang seiring waktu.

Bagi banyak pelaku usaha, kisah seperti ini menjadi pengingat bahwa hubungan baik antarpendiri memang menjadi modal awal yang penting. Namun, ketika bisnis semakin besar, diperlukan aturan yang jelas agar perusahaan tetap memiliki arah ketika suatu saat para founder memiliki pilihan yang berbeda.

Baca juga: MUSINSA Gandeng MAP Melalui Exclusive Distribution Agreement

Ketika Founder Berubah Arah

Banyak bisnis dimulai dari rasa percaya. Teman dekat, pasangan, atau rekan kerja sering kali menjadi orang pertama yang diajak membangun usaha karena merasa sudah saling mengenal. Masalahnya, membicarakan kemungkinan berpisah ketika bisnis baru dimulai sering terasa seperti sesuatu yang terlalu jauh untuk dipikirkan.

Menurut Sekar Ayu Primandani, justru pada titik inilah pentingnya founder agreement. “Saat bisnis masih kecil, rasanya membicarakan apa yang terjadi kalau salah satu orang pergi itu seperti mendoakan perpisahan,” ujarnya. 

“Padahal, hal-hal yang terasa tidak enak dibicarakan ketika hubungan masih baik justru perlu disepakati sejak awal, mulai dari kontribusi masing-masing pihak, kepemilikan, kewenangan, hingga kemungkinan salah satu founder keluar dari bisnis,” tukas Partner dari BP Lawyers ini.

Kesepakatan tersebut menurut Sekar perlu diterjemahkan secara jelas dalam perjanjian. Founder agreement dapat mengatur kontribusi modal maupun aset, struktur kepemilikan, hak suara, pengambilan keputusan, pembagian keuntungan, hingga mekanisme pengalihan saham atau founder exit. Dengan begitu, ketika kondisi berubah, para pihak tidak perlu memulai perdebatan dari nol mengenai siapa berhak atas apa.

Perubahan komposisi founder juga dapat menyentuh hal-hal yang lebih besar daripada sekadar kepemilikan saham. Merek, aset digital, teknologi, jaringan bisnis, hingga hasil karya yang dibangun bersama perlu memiliki kejelasan mengenai siapa yang berhak menggunakan dan mengelolanya. Karena itu, kontribusi masing-masing founder sebaiknya sudah dipetakan sejak awal dan disepakati secara tertulis.

Tidak kalah penting, perjanjian juga perlu menentukan apa yang terjadi ketika salah satu pihak melakukan wanprestasi atau ingin mengakhiri kerja sama. Mekanisme valuasi, pengalihan saham, hak membeli saham founder yang keluar, sampai penyelesaian perselisihan dapat disiapkan agar perubahan tersebut tidak mengganggu keberlangsungan perusahaan.

Bisnis Tetap Berjalan Ketika Founder Berubah

Perjalanan bisnis tidak selalu berjalan dalam pola yang sama seperti saat pertama kali dibangun. Founder yang memulai bersama belum tentu selalu memiliki tujuan yang sama bertahun-tahun kemudian. Hal tersebut bukan berarti hubungan atau kerja sama sebelumnya gagal, tetapi merupakan bagian dari dinamika dalam membangun perusahaan.

Kisah Vindes menjadi refleksi bahwa bisnis membutuhkan lebih dari sekadar kepercayaan antarpendiri. Ketika hubungan personal didukung dengan struktur hukum yang jelas, perusahaan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi perubahan tanpa harus mempertaruhkan keberlangsungan bisnis.

Pada akhirnya, founder agreement bukan tentang memprediksi kapan seorang founder akan pergi. Perjanjian tersebut justru menjadi cara untuk memastikan bahwa ketika kehidupan, prioritas, atau arah bisnis berubah, perusahaan tetap tahu harus berjalan ke mana.

(RED)

Dipromosikan