Gagal Bayar Evergrande dan Potensi Pelemahan Rupiah, Bagaimana Kebijakan Bank Indonesia
Per tanggal 20 Juli 2021 sampai dengan 17 September 2021 terdapat aliran modal asing masuk hingga 15 miliar Dollar AS menjadi kesempatan mempertahankan perekonomian nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Mega perusahaan properti asall China, Evergrande gagal membayar utang sehingga berpotensi menimbulkan ketidakpastian pasar keuangan global termasuk Indonesia. Evergrande memiliki kewajiban utang sebesar 300 miliar dollar As atau setara dengan Rp 4.260 triliun (dengan kurs Rp 14.200) karena terdampak pandemi.
Salah satu potensinya adalah kurs Rupiah akan mengalami tekanan.
Sebagaimana dikutip dari Kontan, Senior Economist Samuel Sekuritas, Fikri C Permana menyampaikan, kemungkinan besar dampak Evergrande terhadap Rupiah minim karena bank sentral China (PBoC) tidak ingin mengambil risiko apalagi mendiamkan masalah Evergrande.
“Terdapat dua opsi yang akan diambil oleh bank sentral China yakni melakukan bail out Evergrande dan opsi kedua adalah menjaga harga properti agar tidak anjlok,” lanjutnya.
Menerka lebih jauh, jika tidak dilakukannya bail out Evergrande maka likuidasi akan bergejolak dan disaat yang bersamaan pertumbuhan ekonomi secara agregat di China juga sedang rapuh.
Bersamaan dengan itu Chief Investment Officer Rockefeller Global Family Office, Jimmy Chang menilai adanya risiko penularan bila masalah Evergrande di China tidak terselesaikan. “Saya pikir akan ada perusahaan pelat merah dengan kondisi keuangan yang baik yang bakal mengambil alih”, sebagaimana dikutip melalui Kompas.
Dengan demikian potensi risiko terganggunya perekonomian di beberapa negara dapat dikendalikan.
Tidak hanya kurs Rupiah yang akan terganggu namun juga pasar modal Indonesia yang murni berasal dari kondisi eksternal ini.
Relatif Aman
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengungkapkan potensi pasar modal Indonesia bisa terpengaruh. Maka dari itu kondisi pasar modal Indonesia lebih dipengaruhi oleh kondisi fundamental seiring dengan perkembangan ekonomi yang terus membaik di dalam negeri, daripada terpengaruh kondisi teknikal di pasar keuangan global.
Pada sisi internal, Perry menyatakan bahwa kondisi perekonomian Indonesia relatif aman pada level positif yang direfleksikan dari beberapa indikator seperti indikator defisit transaksi berjalan dan nilai tukar Rupiah yang menguat pada beberapa sesi perdagangan terakhir.
Sekalipun akan berpengaruh pada kondisi moneter Indonesia, akan tetapi potensinya tidak terlalu besar. hal ini disebabkan aliran modal asing masih masuk ke Indonesia. Per tanggal 20 Juli 2021 sampai dengan 17 September 2021 terdapat aliran modal asing masuk hingga 15 miliar dollar AS.
Lantas bagaimana kebijakan Bank Indonesia saat ini untuk menghadapi inflasi yang rendah, dan tetap menjaga stabilitas perekonomian di tengah ketidakpastian pasar keuangan global?
Saat ini Bank Indonesia kembali mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate pada 3,5 persen. Keputusan itu sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan, di tengah perkiraan inflasi yang rendah dan upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Beberapa inisiatif yang dilakukan dalam rangka mempertahankan suku bunga ini antara lain:
- Mendorong intermediasi melalui penguatan kebijakan transparansi suku bunga dasar kredit (SBDK) dengan penekanan pada perkembangan premi risiko dan dampaknya pada penetapan suku bunga kredit baru di berbagai segmen kredit;
- Mendukung ekspor melalui perpanjangan batas waktu pengajuan pembebasan Sanksi Penangguhan Ekspor (SPE), dari semula berakhir 29 November 2020 menjadi sampai dengan 31 Desember 2022, untuk memanfaatkan momentum peningkatan permintaan negara mitra dagang dan kenaikan harga komoditas dunia;
- Memfasilitasi penyelenggaraan promosi perdagangan dan investasi serta melanjutkan sosialisasi penggunaan Local Currency Settlement (LCS) bekerja sama dengan instansi terkait. Pada Juli dan Agustus 2021 akan diselenggarakan promosi investasi dan perdagangan di Jepang, Amerika Serikat, Swedia, dan Singapura.
DAS








































