HET Minyak Goreng Kemasan Dicabut, Harga Minyak Goreng Kemasan Melonjak
“Kebijakan mengenai penyesuaian harga minyak goreng kemasan tersebut dilakukan sehubungan dengan harga pasok energi dan pangan naik serta langka, termasuk ketersediaan CPO untuk minyak goreng.”
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan bahwa harga minyak goreng kemasan akan menyesuaikan dengan harga nilai ekonomi yang mana harga akan menyesuaikan harga pasar dan tidak lagi aturan mengenai harga eceran tertinggi (HET).
“Terkait harga kemasan lain akan menyesuaikan nilai keekonomian sehingga diharapkan minyak sawit akan tersedia di pasar modern dan tradisional,”ujarnya dikutip dari CNN Indonesia (17/3).
Kebijakan mengenai penyesuaian harga minyak goreng kemasan tersebut ditetapkan setelah Airlangga Hartarto melihat perkembangan global. Dimana terjadi ketidak pastian menyebabkan harga pasok energi dan pangan naik serta langka, termasuk ketersediaan CPO untuk minyak goreng.
Selain daripada menyesuaikan harga minyak goreng kemasan, Pemerintah juga menaikkan HET minyak goreng curah. Awal Februari kemarin merujuk pada Peraturan Menteri Perdagangan No. 6 Tahun 2022 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Minyak Goreng Kelapa Sawit, harga minyak goreng curah dibanderol sebesar Rp11.500/liter. Sedangkan saat ini harga minyak goreng curah menjadi Rp14.000/liter yang mulai berlaku pada Rabu (16/3) kemarin.
“Pemerintah memutuskan bahwa akan mensubsidi minyak kelapa sawit curah sebesar Rp14.000/liter dan subsidi akan diberikan berbasis kepada dana dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit,” ujar Airlangga Hartarto (15/3).
Harga minyak goreng melonjak
Setelah Pemerintah mengumumkan kebijakan untuk menyesuaikan harga minyak goreng kemasan, harga minyak goreng diperkirakan akan langsung mengikuti harga tren. Melonjaknya harga tersebut diperkirakan akan terjadi di retail modern dan tradisional.
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) juga telah memulai menjual minyak goreng kemasan dengan harga di atas Rp23.000/liter. Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh Corporate Affair Director Alfamart.
“Nanti pengiriman baru udah baru harganya. Perkiraannya diatas Rp23.000/liter lah ya. Kalau saya lihat ya. Karena modalnya sudah Rp21.000/liter ditambah pajak dan sebagainya,”ujarnya dikutip dari CNN Indonesia (17/3)
Kepala Badan Pangan Nasional (Bappenas) Arief Prasetyo menyatakan bahwa produsen minyak goreng itu mengalami kerugian yang cukup besar lantaran diwajibkan untuk menjual ketetapan HET sedangkan bahan baku sesuai dengan domestic prices obligation tidak berjalan efektif.
Arief Prasetyo memperkirakan harga baru minyak goreng kemungkinan diantara Rp23.000/liter sampai Rp24.000/liter.
“Supermarket kemungkinan besar hari ini akan mendapatkan harga baru dari semua produsen, distributor harga baru itu kemungkinan dekat-dekat Rp23.000/liter sampai Rp24.000/liter kemasan ini tidak lagi Rp14.000/liter,” ujarnya dikutip dari Bisnis.com (17/3).
Dengan demikian ketika harga pasokan minyak goreng dari produsen dan distributor kembali normal seiring dengan dicabutnya kebijakan HET.
Tanggapan dari industri
Menanggapi kebijakan Pemerintah mengenai HET minyak goreng kemasan, Wakil Ketua MUI, Anwar Abbas menyatakan bahwa jika harga minyak goreng semakin mahal dan sulit untuk mengaksesnya.
“Dalam jangka dekat atau dalam beberapa minggu atau bulan ke depan, harga minyak goreng tentu diperkirakan akan melonjak tinggi karena jumlah supply tentu akan lebih rendah dari jumlah permintaan. Hal tersebut tentu jelas-jelas akan sangat memukul kehidupan rakyat kecil,” ujarnya dikutip dari CNN Indonesia (17/3).
Berbeda dengan Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Arsjad Rasjid yang menyatakan bahwa minyak goreng tidak hanya langka di Indonesia namun juga langka di dunia. Hal tersebut disebabkan konflik antara Rusia dan Ukraina yang menyebabkan tidak bisanya melakukan ekspor sehingga ketersediaan minyak menipis sedangkan permintaan semakin banyak.
“Tiba-tiba kelapa sawit bisa naik karena ada yang namanya minyak sunflowers yang diproduksi Rusia dan di Ukraina tidak bisa diekspor. Akhirnya beralilah itu kepada namanya minyak sawit. Makanya apa yang terjadi permintaan sawit naik,” ujarnya dikutip dari kontan.co.id(17/3).
VWS








































