Indonesia Terapkan LCS, Pengusaha Untung Banyak!
Penerapan Local Currency Settlement (LCS) antara Indonesia dengan Cina sebagai upaya minimalisasi ketergantungan terhadap Dollar Amerika Serikan dan merupakan angin segar kepada pelaku usaha.
Analis Eksekutif Bank Indonesia Perwakilan Beijing, Fiman Hidayat menyampaikan bahwa transaksi bilateral Indonesia menggunakan mata uang lokal atau yang kerap disebut dengan Local Currency Settlement (LCS) dengan Thailand, Malaysia, Jepang, dan Cina terus menunjukkan peningkatan yang baik.
“Perkembangan transaksi LCS di Indonesia terus meningkat. Tren dari 2018 sejak inisiatif LCS dimulai sampai dengan 2021 terus meningkat,” ucapnya.
Dia menyampaikan bahwa kerja sama penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi akan mengurangi ketergantungan terhadap Dollar Amerika Serikat (USD). “Ini bisa menjadi diversifikasi eksposur mata uang selain USD sehingga tidak terlalu bergantung pada mata uang USD,” jelas Firman.
Dia pun menyampaikan bahwa kerja sama LCS dengan Cina menjadi sesuatu yang sangat penting, mengingat Cina merupakan negara tujuan ekspor utama Indonesia, sekaligus negara asal impor bahan baku/penolong yang dibutuhkan oleh industri di Indonesia. Terlebih lagi, Cina menargetkan menjadi negara berpenghasilan tinggi (high income country) dan meningkatkan nominal produk domestic bruto menjadi dua kali lipat pada tahun 2035.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Hariyadi Sukamdani mendukung implementasi kesepakatan LCS antara Indonesia dengan Cina yang sudah efektif sejak September 2021 ini. Ia mengatakan bahwa implementasi LCS antar kedua negara ini sudah ditunggu sejak lama oleh kalangan pengusaha karena dapat membuat transaksi kedua negara menjadi lebih efisien. Dengan demikian, ia berharap terjadi peningkatan kerja sama perdagangan hingga investasi antara Indonesia dan Cina seiring penerapan LCS kedepannya.
“Untuk menjaga perdagangan kita lebih efisien dan pertumbuhan ekonomi ke depan menjadi stabil,” tutur Haryadi.
Haryadi menambahkan bahwa implementasi kerjasama ini terlihat sudah mengoptimalkan kemitraan dagang dan investasi kedua negara dalam beberapa waktu terakhir.
Sementara itu, setali tiga uang dengan Hariyadi, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan, Kasan Muhri mengatakan penggunaan kesepakatan LCS diharapkan mampu menghasilkan efisiensi dalam transaksi karena pelaku usaha tidak perlu melakukan konversi mata uang berkali-kali. Dengan adanya kerja sama ini akan memberikan kepastian dalam dunia usaha. Bukan tanpa alasan hal ini dikarenakan nilai mata uang menjadi indikator penting dalam menentukan kalkulasi usaha. Semakin fluktuatif nilai mata uang, akan menimbulkan ketidakpastian dan berimplikasi pada tingginya biaya transaksi.
ARPP








































