Konflik Rusia-Ukraina, Potensi Pembebanan APBN dan Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Bagi Indonesia
Perang antara Rusia dan Ukraina dapat menyebabkan beban triliunan Rupiah terhadap APBN dan terjadinya pelemahan nilai tukar Rupiah. Walaupun secara nyata Indonesia tidak bergantung pada Rusia untuk melakukan impor minyak, tetapi perang Rusia-Ukraina akan tetap memberikan dampak kepada Indonesia.
Agresi militer yang dilakukan Rusia kepada Ukraina tidak hanya berdampak pada kedua negara yang berada dalam konflik tetapi juga berdampak pada negara-negara lain, salah satunya adalah Indonesia.
Lab 45, lembaga kajian yang menyelaraskan ilmu pengetahuan dan praktik empiris di bidang peramalan strategis memberikan pandangan terhadap dampak yang akan dialami oleh Indonesia. Riset LAB 45 menyatakan bahwa perang antara Rusia dan Ukraina dapat menyebabkan beban triliunan Rupiah terhadap APBN dan terjadinya pelemahan nilai tukar Rupiah.
Menurut LAB 45, harga minyak global akan naik setelah Rusia melakukan invasi terhadap Ukraina karena Rusia adalah salah satu produsen dan juga eksportir minyak mentah terbesar di dunia. Walaupun secara nyata Indonesia tidak bergantung pada Rusia untuk melakukan impor minyak, tetapi perang Rusia-Ukraina akan tetap memberikan dampak kepada Indonesia.
“Hal ini dikarenakan konflik Ukraina berpotensi memicu kekhawatiran dan spekulasi para pelaku pasar energi akibat ketidakpastian global selama pandemi, yang dapat membuat harga minyak global semakin naik. Peningkatan harga minyak mentah akan diikuti laju harga listrik mengingat sebagian pembangkit listrik menggunakan BBM,” kata LAB 45 pada riset resmi yang dilakukan, Kamis (24/2).
Konflik Rusia-Ukraina memiliki potensi besar terhadap pelemahan nilai tukar Rupiah. Hal ini terjadi sebab terdapat ancaman untuk mengeluarkan Rusia dari sistem pembayaran global SWIFT, sehingga terdapat kemungkinan Rusia akan melakukan penarikan dana.
“Dampak terhadap posisi finansial dunia karena penarikan dana Rusia di keuangan global, ini menyebabkan volatilitas nilai tukar. Apabila kondisi tersebut berlanjut, jumlah subsidi BBM 2022 berpotensi mencapai 17,77 triliun atau naik sekitar Rp6,47 triliun dibandingkan target APBN 2022,” kata LAB 45.
Kementerian ESDM menyatakan bahwa serangan militer yang dilakukan Rusia kepada Ukraina mempengaruhi harga komoditas dunia, termasuk dengan minyak mentah. Harga minyak mentah Indonesia (ICP) semenjak awal pandemi sudah dipatok pada US$20 per barel pada April 2020 lalu, kini sudah naik empat kali lipat menjadi US$85,9 per barrel per Januari 2022.
“Asumsi ICP dalam APBN 2022 hanya sebesar US$$63 per barrel. Tren akan semakin meningkat setelah konflik terbaru Rusia dan Ukraina,” ungkap Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi.
Untuk informasi, harga minyak mentah dunia meroket tajam semenjak serangan Rusia ke Ukraina terjadi. Harga minyak berjangka Brent sudah menembus US$100 per barrel. Kementerian ESDM juga akan terus melakukan monitoring pada pergerakan harga minyak dunia akibat konflik Rusia-Ukraina, mengingat sebagian minyak mentah dan BBM Indonesia masih impor.
FDW








































