Lima Fakta Pembatasan Merek yang Terjadi di Beberapa Negara

Sumber : https://pixabay.com/

Kebijakan yang diinisiasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengenai pembatasan merek (brand restriction) sudah marak diberlakukan pada beberapa negara di dunia. Implementasi pembatasan merek tersebut dilakukan dengan berbagai cara seperti peringatan merek, label peringatan pada makanan, pajak untuk makanan berlemak, dan lain sebagainya.

Berikut adalah fakta pembatasan merek yang terjadi di beberapa negara yang diperoleh Klik Legal dari hasil Forum Group Discussion Asosiasi Konsultan Hak Kekayaan Intelektual (AKHKI) bersama Asosiasi Merek International (International Trademark Association/ INTA).

Pertama, Afrika Selatan. Peraturan di Afrika Selatan pada tahun 2007 (diatur dalam Foodstuffs, Cosmetics, and Disinfectants Act, 1972) mengharuskan bahwa label pada minuman beralkohol harus mencantumkan satu dari beberapa jenis peringatan kesehatan, seperti contohnya konsumsi alkohol berbahaya bagi kesehatan, alkohol dapat membuat ketagihan, alkohol penyebab utama kekerasan, kejahatan, dan lain-lain.

Peringatan kesehatan tersebut harus dapat dilihat, dibaca, dan menempati setidaknya 1/8 (seperdelapan) dari luas label produk minuman beralkohol tersebut. Peringatan tersebut harus dicetak dalam huruf hitam di atas background putih, di area khusus pada kemasan yang ditunjukan sebagai peringatan.

Kedua, Chile. Pada desember 2013, Chile menerbitkan peraturan No. 20,606, yang dinamakan sebagai Low on the Nutritional Composition of Food and its Advertising. Peraturan ini mengharuskan makanan yang memiliki komposisi tinggi kalori, lemak, gula, garam, atau bahan lain, untuk diberi label Tinggi Kalori, Tinggi Garam, dan sebagainya.

Tiga tahun setelah itu, pada Juni 2016, Chile mengimplementasikan peraturan baru dalam pemberian label stop sign pada makanan yang mengandung gula, kalori, sodium, atau lemak jenuh yang tinggi. Selain itu, pemerintah juga melarang penjualan produk-produk tersebut di sekolah.

Tiga, Kanada. Obat-obat yang mengandung acetaminophen, biasanya ditemukan pada paracetamol, harus menampilkan label peringatan yang menyorot potensi kerusakan ginjal karena konsumsi. Peringatan tersebut ditampilkan dengan teks berwarna merah dan tebal pada bagian kanan kemasan. Peraturan diberlakukan mulai Juni 2015 untuk obat khusus resep dokter.

Keempat, Perancis. Semenjak diperkenalkannya peraturan kemasan polos di Perancis pada Januari 2017, Lembaga Bea dan Cukai Perancis (L’administration des Douanes) mendapatkan bahwa penjualan produk tembakau tidak menurun sejak dimulainya peraturan kemasan polos. Menteri Kesehatan Perancis, Agnes Buzyn, juga turut menyatakan hal yang serupa pada saat debat di French National Assembly, bahwa pembatasan tersebut tidak mengurangi angka penjualan rokok.

Kelima, Denmark. Denmark mencanangkan kenaikan pada pajak untuk makanan dan minuman tidak sehat yang memiliki lebih dari 2,3% lemak jenuh. Akan tetapi pajak ini dibatalkan akibat efek negatif  yang ditimbulkan seperti inflasi dan naiknya angka kehilangan pekerjaan bahkan menaikkan angka pembelanjaan di luar negara serta menimbulkan bengkaknya biaya administrasi tambahan lain. Pajak ini juga dianggap tidak sukses dalam mengurangi konsumsi lemak warga Denmark.

PHB

Dipromosikan