Asosiasi Financial Technology Indonesia (AFTECH) menerbitkan ‘Catatan Industri Fintech 2017’ yang dirilis akhir tahun lalu. Catatan tersebut merupakan hasil survey dan wawancara anggota AFTECH. Saat ini, anggota AFTECH berjumlah 118 perusahaan start up dan 23 lembaga keuangan.
Salah satu poin penting dalam Catatan tersebut adalah prediksi pertarungan perusahaan-perusahaan fintech pada tahun 2018 ini. (Baca Juga: Pelaku Usaha Fintech Cukup Puas dengan Dukungan Regulator Keuangan).
Merujuk kepada Catatan yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif AFTECH Ajisatria Suleiman kepada KlikLegal, Rabu (28/2), para responden diberikan satu pertanyaan tentang masa depan perusahaan fintech di Indonesia. “Seberapa yakin Anda terhadap peluang perusahaan-perusahaan berikut ini untuk mendominasi sektor keuangan digital Indonesia di masa depan?” demikian pertanyaan yang diajukan.
Atas pertanyaan itu, para responden menjawab secara beragam. Pertama, ada 55 persen responden yang yakin bahwa perusahaan platform fintech independen yang akan mendominasi setor keuangan digital Indonesia. Kedua, ada 60 persen responden yang yakin bahwa industri fintech pada 2018 akan dirajai oleh platform fintech dari e-commerce. (Baca Juga: Pencegahan dan Penanggulangan Kehilangan Uang Kreditur dalam Siklus Peer to Peer Lending (AILRC)).
Selanjutnya, ketiga, ada 77 persen responden yang yakin bahwa platform fintech dari aplikasi transportasi yang akan berjaya tahun ini. Keempat dan kelima, secara berturut-turut, ada 27 persen responden yang memilih lembaga keuangan konvensional dan 34 persen responden yang memilih platform internet atau teknologi global.
Terakhir, keenam, ada 27 persen responden yang yakin bahwa pemain infrastruktur teknologi (termasuk telco) yang akan mendominasi sektor keuangan digital di Indonesia. (Baca Juga: Beberapa Kegiatan Fintech yang Tunduk dalam Rezim Sistem Pembayaran Bank Indonesia).
Membangun Infrastruktur IT
Selain itu, Catatan AFTECH 2017 juga memaparkan bahwa pelaku usaha fintech di Indonesia perlahan-lahan telah mulai membangun infrastruktur information technology (IT)-nya sendiri. Berdasarkan catatan tersebut, ada 49 persen perusahaan mengaku membangun sendiri atau mengeluarkan belanja modal (capex) untuk mengembangkan solusi keamanan data.
Selanjutnya, ada 23 persen perusahaan yang membangun sendiri atau mengeluarkan belanja modal (capex) untuk mengembangkan solusi tanda tangan digital. Sedangkan, 34 persen perusahaan membangun sendiri atau mengeluarkan belanja modal (capex) untuk mengembangkan solusi penyimpanan data (data warehousing).
(PHB/ASH)








































