Pendiri dan CEO Sustainable Indonesia (SustaIN) Nadia Sarah menuturkan bahwa ada berbagai macam jenis risiko yang dihadapi oleh perusahaan sehingga dapat terhalang untuk mencapai tujuan perusahaan, dan salah satu yang sering dilupakan adalah risiko kecurangan.
“Ada risiko secara finansial, misalnya modalnya habis, kemudian dari rencana yang kita susun ternyata tidak tercapai misalnya,” ujarnya dalam public training bertema “Anti Corruption Training Every Business Need” yang diselenggarakan pada Rabu (15/11) di Jakarta.
Nah, lanjut Nadia, banyak perusahaan yang kerap melupakan risiko kecurangan. Risiko ini luput diperhatikan sehingga pada akhirnya di dalam perusahaan tersebut ada pihak-pihak yang melakukan tindak pidana korupsi. “Terkadang orang suka lupa ada risiko kecurangan yang tidak di-assess oleh dia,” ujar Nadia. (Baca Juga: Korupsi Merupakan Salah Satu Problem Utama Berbisnis di Indonesia).
Nadia menjelaskan agar risiko kecurangan ini bisa dihindari, maka perlu diberlakukan manajemen risiko kecurangan yang berkelanjutan dan menyeluruh. Ia mencatat ada beberapa langkah yang perlu dilakukan. Pertama, menetapkan kebijakan pengelolaan resiko kecurangan sebagai bagian dari tata kelola organisasi. Kedua, melakukan penilaian yang komperhensif terhadap resiko kecurangan.
Setelah itu, ia menyarankan agar perusahaan segera memilih, mengembangkan, dan menyebarkan pencegahan dan deteksi aktivitas kontrol kecurangan. Selanjutnya, membuat proses pelaporan kecurangan serta pendekatan yang terkoordinasi terhadap investigasi dan tindakan perbaikan. Terakhir, memantau proses manajemen resiko kecurangan, melaporkan hasil dan memperbaiki prosesnya. (Baca Juga: Sektor Perizinan Masuk Urutan Pertama Penyuapan di Indonesia).
Dalam hal pencegahan terhadap risiko kecurangan, Nadia mengusulkan prinsip yang dirasa paling mudah untuk dilakukan. Nadia mengatakan, apabila ada peluang terjadinya kecurangan, maka perusahaan perlu mengurangi peluang tersebut. “Celah kesempatan itu perlu ditutup,” ujar Nadia.
Selain itu, Nadia juga mengatakan bahwa apabila ada insentif ataupun keuntungan yang bisa didapatkan oleh individu dalam suatu perusahaan, maka perusahaan perlu mengurangi keuntungan-keuntungan tersebut. “Kemudian berikanlah hukuman, denda dan lain-lain.” ujarnya. (Baca Juga: Memahami Langkah Efektif dalam Membangun Integritas Bisnis Perusahaan).
Nadia berpesan bahwa salah satu yang dapat dijadikan sebagai strategi pencegahan tindakan kecurangan adalah dengan memperkenalkan partisipasi yang transparan, berintegritas, dan memiliki akuntabilitas. “Inilah kuncinya,” pungkasnya.
(LY/PHB)








































