Sempat Menjadi Pengamen, Marulam Hutauruk Ceritakan Perjalanan Karirnya Menjadi Praktisi KI

Sempat Menjadi Pengamen, Marulam Hutauruk Ceritakan Perjalanan Karirnya Menjadi Praktisi KI
Image Source by aspirasipublik.com

Sempat Menjadi Pengamen, Marulam Hutauruk Ceritakan Perjalanan Karirnya Menjadi Praktisi KI

“Marulam menceritakan perjalanan karirnya yang minim akan perencanaan tetapi di sisi lain berujung akan beragam kesuksesan yang membuatnya hingga bisa menjadi seperti saat ini.”

Masyarakat mungkin masih teringat dengan penyanyi cilik Farel Prayoga yang tampil bernyanyi pada acara peringatan HUT ke-77 RI di Istana Negara. Berawal dari seorang pengamen yang bernyanyi keliling jalanan bersama ayahnya, siapa sangka anak kecil tersebut dapat menggapai kesuksesannya dengan memiliki kesempatan untuk bernyanyi di depan Presiden Republik Indonesia serta mendapatkan beasiswa pendidikan hingga kuliah.

Marulam J. Hutauruk, seorang konsultan hukum sekaligus Founding Partner dari MJH Law Office ini nyatanya memiliki cerita perjalanan karir yang mirip dengan Farel. Kepada KlikLegal, Marulam menceritakan perjalanan karirnya dari seorang pengamen jalanan di Surabaya hingga menjadi seorang praktisi dan konsultan hukum.

Memasuki Dunia Hukum

Bukan menjadi pilihan pertama, Marulam menceritakan bahwa awalnya Ia berencana untuk menjadi seorang insinyur. Ia menuturkan bahwa pada saat dirinya lulus SMA dan hendak memilih universitas, Ia berkeinginan untuk melanjutkan studi di Jurusan Planologi Institut Teknologi Bandung (ITB). Siang malam dirinya persiapkan dan pelajari segala materi yang dibutuhkan untuk kebutuhan seleksi masuk ITB tersebut, namun alhasil dirinya tidak diterima di kampus tersebut.

“Saya kejar ikut bimbingan tes yang bisa hampir tiap hari itu pulang malam tidak karu-karuan begitulah. Luar biasa. Sudah sekolah, sekolah lagi, tetapi saya tidak masuk ITB (jurusan) planologi,” ujarnya saat diwawancarai KlikLegal, Senin, (15/08/2022).

Bagai sedang diterpa ujian, pada kurun waktu tersebut ayahanda dari Marulam pun juga meninggal dunia karena penyakit kanker hati. Peristiwa itu membuat dirinya menjadi seseorang yang tidak lagi memiliki kedua orang tua karena Ibunda Marulam juga telah meninggal dunia lima tahun sebelumnya.

Ia kemudian teringat kata-kata orang tuanya yang pernah mengatakan bahwa dirinya memiliki kecerdasan dibawah rata-normal. Hal ini juga dikonfirmasi langsung oleh dokter psikologi yang memeriksanya disaat kecil yang mengatakan bahwa Ia memiliki IQ 99 sementara ambang batas untuk seorang manusia dengan kecerdasan normal adalah 100.

Marulam juga menceritakan mengenai ayahnya sendiri yang bahkan mengatakan bahwa dirinya tidaklah mungkin untuk bisa menjadi seorang advokat. Sebab, sebagaimana yang diketahui, profesi ini sangatlah kental dengan orang-orang yang memiliki latar belakang suku Batak yang memiliki intelegensi yang tinggi.

Atas dasar tersebut, Ia memberanikan diri untuk mencoba mendaftar di Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair), Surabaya setahun setelah kegagalannya. Setelah mengikuti seleksi UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), Marulam pun berakhir di terima di kampus tersebut. 

Menjadi Seorang Musisi Amatir

Pada tahun-tahun pertama Marulam menjadi seorang mahasiswa hukum di Unair, Ia menceritakan bahwa dirinya pada saat itu cukup mengalami kekurangan dari segi finansial. Setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya dan keluarga pada saat itu terlilit oleh cukup banyak utang. Hal ini yang membuat Marulam pada saat kuliah harus memutar otak untuk mencari tambahan penghasilan demi menyambung hidup, salah satunya dengan menjadi musisi jalanan.

“Saya keliling di jalanan-jalanan sambil menyewa Jeep Willys. Teman-teman saya naik, tutup gang disitu dan taruh kursi-kursi bakso disitu. Saya juga sebar buku (musik) nya karena dulu kan belum ada google, jadi itu saya sebar buku yang berisikan lagu-lagu dan itu ada tarifnya. Dulu cara ngamen-nya saya dulu seperti itu,” ujarnya

12 tahun menjalani kesibukan menjadi seorang musisi amatir, Marulam mengungkapkan bahwa apa yang dilakukannya pada saat itu membuatnya mendapatkan berbagai kesempatan pekerjaan untuk menyanyi di sejumlah restoran, club, hingga festival musik.

Namun, pada tahun 2002 saat itu terjadi peristiwa yang membuat karir musisinya terhenti, yaitu peristiwa Bom Bali. Berbagai tempat hiburan yang sebelumnya sering mengadakan pertunjukan musik kemudian tidak ada lagi yang menyelenggarakannya akibat kejadian tersebut. Hal ini berdampak pada karir Marulam sebagai seorang musisi yang tidak lagi mendapatkan pekerjaan pada saat itu. Lantas, hal inilah yang mengawali perjalanan karirnya menjadi seorang praktisi hukum.

Membangun Firma Hukum Sendiri

Pernah menekuni kehidupan lawyering selama 9 bulan di Bali, Marulam sempat merasa tidak cocok dengan pekerjaannya pada saat itu. Hal ini dikarenakan oleh banyaknya praktik ‘kotor’ yang kerap dilakukan advokat pada saat itu yang mana membuatnya merasa tidak nyaman dalam menjalankan pekerjaannya.

“Praktik lawyering yang saya lihat saat itu buruk. Saya mengalami hal-hal yang menurut saya tidak semestinya penegak hukum lakukan seperti itu. Seperti suap bribe itu kan kelihatan sekali dipertontonkan di dunia itu. Sehingga, saya mundur dari dunia pengacara dan memilih tetap menyanyi,” tuturnya.

Akan tetapi, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, peristiwa Bom Bali pada saat itu mengharuskannya untuk mencari pekerjaan lain agar dirinya dapat memiliki pemasukan keuangan. Atas pertimbangan itu, Marulam memutuskan untuk berangkat ke Jakarta dan bergabung dengan firma hukum Lubis, Santosa, & Maulana.

Menangani berbagai kasus litigasi, oil & gas dan telekomunikasi media di kantor tersebut, Marulam pada saat itu sama sekali tidak mengurusi persoalan-persoalan yang berkaitan dengan karirnya sekarang, yaitu Kekayaan Intelektual (KI). Ia menceritakan bahwa ketertarikannya di dunia KI ini dipicu semenjak ia melihat adanya divisi lain pada kantor hukumnya yang menangani persoalan-persoalan KI tersebut. Ia merasa bahwa KI ini merupakan salah satu hak yang sangat dekat dengan kehidupan manusia.

“Disini ada soal copyrights, musik kan juga masuk kesitu. Saya sangat melihat bahwa ini bagus sekali. Hal ini membuat saya berpikir bahwa selama ada manusia, maka IPR itu selalu ada. Setiap ada kreativitas pasti ada IPR, pasti itu. Jadi saya ingin pada suatu saat nanti menjadi lawyer HKI,” jelas Marulam.

Melanjutkan karir menjadi seorang General Manajer di Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) pada tahun 2008-2012, Ia menuturkan bahwa dirinya banyak belajar soal industri musik di Indonesia. Pun demikian, tugas Marulam pada jabatannya saat itu pun masih belum ada kaitannya dengan KI. Hingga akhirnya pada tahun 2013, Marulam memutuskan untuk membangun firma hukumnya sendiri yang mana cukup banyak menangani berbagai persoalan-persoalan terkait KI hingga saat ini.

Adapun Marulam menceritakan bahwa pada awalnya Ia tidak berencana untuk menspesialisasikan dirinya maupun firma hukumnya untuk menangani persoalan-persoalan KI. Akan tetapi, Ia merasa bahwa ‘jalan tuhan’ pada saat itu membawanya untuk menangani berbagai persoalan dengan isu-isu KI. Sehingga, hal tersebutlah yang kemudian membuat firma hukumnya kerap diasosiasikan sebagai lawfirm dengan spesialisasi KI.

“Sama sekali sebenarnya tidak ada maksud untuk spesialisasi di KI. Tuhan membuat jalur itu kesana dan saya menganggap itu bukan suatu hal yang kebetulan. Kalau dilihat kan saya dari pemain musik kok jalannya bisa kesitu. Jadi saya kan lebih tau nuansa kebatinan seorang pemain musik,” jelasnya.

Percaya Keras Daripada Kerja Keras

Professionality dan Integrity menjadi nilai kunci yang selalu Ia tanamkan kepada anak buahnya dalam menjalankan firma hukumnya. Dalam 5-10 tahun kedepan, Marulam percaya bahwa firma hukum yang Ia kelola akan menjadi jauh lebih besar. Besar bukan dari segi banyaknya jumlah pengacara yang dinaungi, melainkan kepada besarnya impact yang akan diberikan kepada masyarakat.

Kendati demikian, Ia menjelaskan bahwa dirinya tidak terlalu memiliki perencanaan yang sedemikian rupa terhadap apa-apa saja yang akan Ia dan firma hukumnya lakukan dalam 5-10 tahun kedepan tersebut.

Bukan berarti tanpa perencanaan, Marulam menuturkan bahwa dirinya selalu percaya bahwa arah perjalanan karir yang Ia dapatkan melalui ‘message’ yang diterima dari Tuhan akan selalu membawanya kepada kesuksesan.

Sebab sebagaimana diketahui, dari awal perjalanan hidupnya saat mulai menjadi musisi jalanan, advokat, professional industri musik, hingga konsultan KI seperti sekarang ini merupakan bagian yang tidak pernah Ia rencanakan sebelumnya.

“Saya tidak ada planning yang jelimet (kompleks), bukan berarti saya tidak buat planning, tetapi planning tersebut didasarkan oleh message yang saya terima dari Tuhan sendiri. Lakukan itu, maka saya lakukan itu. Tidak ada beban saya,” ungkapnya.

Marulam mengungkapkan bahwa dirinya selalu menganut god confidence daripada self confidence. Selain itu, Ia juga percaya bahwa ‘percaya keras’ itu lebih baik daripada kerja keras. Dengan demikian, Menurutnya, hal itu akan lebih memudahkannya dalam mengejar serta menggapai suatu tujuan dalam hidupnya.

“Bukan karena kemampuan kita, kita menjadi lebih baik. Salah satu contohnya diri saya. Kalau bicara IQ, saya dibawah normal. Kalau digantungkan pada kemampuan saya pada saat itu kan sudah jelas ujungnya dimana. Namun, saya percaya pada god confidence daripada self confidence karena yang akan mengerjakan segala sesuatu itu Tuhan yang kasih,” tutup Marulam.

 

AA

Dipromosikan