Siap Lakukan Rights Issue, Begini Prospek Saham Emiten Konstruksi ACST dan Emiten Energi MEDC

Siap Lakukan Rights Issue, Begini Prospek Saham Emiten Konstruksi ACST dan Emiten Energi MEDC

Siap Lakukan Rights Issue, Begini Prospek Saham Emiten Konstruksi ACST dan Emiten Energi MEDC

Bagi perusahaan yang membutuhkan dana, baik untuk ekspansi maupun pembayaran utang, pemilihan rights issue merupakan langkah yang tepat. Tetapi, untuk investor tidak semua rights issue itu menarik, semua  tergantung pada  tujuannya dan bagaimana pelaksanaannya.

Aksi penerbitan saham dengan hak memesan efek terlebih dahulu  (HMETD) atau rights issue menjadi salah satu pilihan emiten dalam mencari pendanaan. Dalam kondisi perlambatan ekonomi seperti saat ini, masih banyak emiten yang berencana melakukan rights issue. 

Dilansir dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, dalam waktu dekat ini ada dua perseroan di bidang sektor konstruksi dan energi yang akan melakukan rights issue. Pertama, PT Acset Indonusa Tbk (ACST), yang mana perseroan telah mendapatkan restu pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang berlangsung pada 8 Juni 2020 silam untuk menerbitkan maksimal 15 miliar saham melalui rights issue. Kedua, PT Medco Energi International Tbk (MEDC), yang mana perseroan juga sudah mendapat restu pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 25 Juni 2020 lalu untuk menerbitkan 7,5 miliar lembar saham baru. Lantas bagaimana prospek saham emiten-emiten yang akan melakukan rights issue tersebut?

Pertama, PT Acset Indonusa Tbk (ACST).

Menanggapi hal tersebut, Direktur PT Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya mengatakan, dalam kondisi saat ini perusahaan akan sulit mencari pinjaman bank untuk restrukturisasi utang. Menurutnya, hal tersebut dikarenakan likuiditas di perbankan juga masih ketat, dengan angka loan to deposit ratio (LDR) tinggi.

“Salah satu langkah yang bisa ditempuh untuk membayar sebagian utang adalah rights issue. Hanya saja, apakah pasar bisa menyerap, tentu kembali lagi ke prospek kerjanya,” ujarnya kepada wartawan, Minggu  (5/7) lalu.

William menuturkan, lantaran masih ada pandemi Covid-19, maka prospek sektor konstruksi tahun ini masih akan berat dan sejalan dengan prospek pasar saham secara umum yang juga belum cerah.

“Apalagi, jika melihat proyek-proyek konstruksi biasanya dikerjakan dalam jangka panjang. Sektor konstruksi tahun ini akan menantang. Bukan berarti setelah rights issue harga sahamnya akan langsung naik. Karena pembayaran untuk sektor konstruksi baru diterima setelah proyek selesai,” lanjutnya.

Ia memperkirakan, ACST kembali merugi di semester I 2020. Menurutnya, pandemi Covid-19 membuat proyek-proyek konstruksi terpaksa ditunda. Katanya, penundaan proyek ini bahkan bisa terus berlangsung hingga akhir tahun sehingga keterlambatan proyek ini juga berpotensi menambah beban biaya perusahaan.

“Investor harus siap mencermati kinerja ACST hingga jangka panjang. Sementara untuk tahun ini, prospek kinerja ACST minim sentimen positif.  Di pasar saham, volatilitas sedang tinggi dan kenaikan saham secara umum masih terbatas. Walaupun sudah ada beberapa saham konstruksi yang rebound, pergerakan sampai akhir tahun kemungkinan masih akan sideways. Saham ACST masih sangat volatile karena likuiditasnya juga tidak besar,” paparnya.

Untuk jangka panjang, William merekomendasikan hold saham ACST dengan target Rp380 per saham.

Di sisi lain, Kepala Riset Samuel Sekuritas, Suria Dharma mengatakan, proyek konstruksi, baik dari pemerintah maupun swasta bisa kembali berjalan jika ekonomi mulai membaik. “Sementara, prospek kinerja ACST akan bergantung dari berjalannya proyek konstruksi. Mengacu pada kinerja kuartal pertama tahun ini, pendapatan ACST didominasi oleh jasa konstruksi yang mencapai Rp329,07 Miliar atau 68,97 persen dari total pendapatan mereka. Adapun sisa pendapatannya berasal dari penunjang jasa konstruksi dan perdagangan. Jika tidak rights issue, beban bunga ACST akan cukup berat, apalagi  pembayaran proyek-proyek mungkin banyak tertunda juga,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee mengatakan, aksi rights issue biasanya membawa sentimen negatif bagi perusahaan. Menurut Hans, hal tersebut dikarenakan seperti menunjukkan bahwa perusahaan sedang kekurangan dana.

“Di samping itu,  rights issue biasanya dilaksanakan dengan  harga di bawah pasar, sehingga saham perusahaan akan cenderung turun setelah rights issue.  Jadi harus dilihat jumlahnya berapa, harganya berapa dan tujuannya apa. Kalau ekspansi, mungkin bisa kembali positif,” terangnya.

Hans menyebutkan, untuk jangka pendek dirinya merekomendasikan  membeli saham ACST dengan target Rp328 per saham.

Sebagai informasi, pada kuartal I 2020, pendapatan ACST tergerus 40,8 persen year on year (yoy) menjadi Rp477,61 Miliar. Perusahaan masih menanggung rugi sebesar Rp123,83 Miliar, lebih tinggi dari kerugian kuartal I 2019 senilai Rp90,81 Miliar. Saat ini ACST sedang menggarap beberapa proyek seperti pondasi Skysuites Mega Kuningan, proyek struktur di Apartemen Arumaya serta proyek PLTU di Karimun. ACST juga tergabung dalam konsorsium bersama PT Nusantara Infrastructure Tbk (META), PT Adhi Karya Tbk (ADHI) dan PT Triputra Utama Selaras untuk ikut tender proyek Jakarta Outer Ring Road (JORR) Elevated ruas tol Ulujami-Jati Asih. 

Kedua, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).

Menurut Analis Panin Sekuritas, William Hartanto, penerbitan rights issue MEDC terbilang menarik apabila harga pelaksanaan di bawah harga pasar dan tujuan sebagai modal kerja akan dipandang lebih positif.

“Saya juga mengingatkan investor untuk mewaspadai persediaan harga minyak. “Inventory minyak ke depannya patut diwaspadai. Kalau sampai mempengaruhi harga minyak mentah, maka akan menjadi sentimen pergerakan harga saham MEDC,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, dirinya merekomendasikan membeli saham MEDC dengan target masing-masing  Rp500 dan Rp665 per saham.

Ikut menambahkan, Analis Binaartha Sekuritas, Nafan Aji  mengatakan, bahwa jika nantinya MEDC melakukan rights issue, sahamnya akan menarik untuk dikoleksi investor.

“Selain harga sahamnya yang sudah turun lebih dari 45 persen secara year to date hingga Rabu (1/7), ekspansi bisnis juga menjadi daya tarik MEDC,” imbuhnya.

Nafan menerangkan, sepanjang 2020 ini yang patut diwaspadai adalah harga minyak yang rendah, yang mana hingga Rabu (1/7) lalu harga minyak berada di level US$ 41,75.

“Jika dibandingkan dengan hari sebelumnya memang ada kenaikan sekitar 1 persen yang didukung dengan stok minyak mentah di Amerika Serikat turun dan menunjukkan permintaan meningkat ketika wabah Covid-19 menyebar. Akan tetapi, dengan ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi, tentu harga minyak akan bergejolak,” tukasnya.

Senada dengan William, Nafan pun juga merekomendasikan membeli saham ini dengan target masing-masing  Rp500 dan Rp665 per saham.

Di lain pihak, Analis Sucor Sekuritas, Hasan Barakwan mengatakan, dalam riset bulan lalu diketahui bahwa kebijakan lockdown karena penyebaran wabah Covid 19 masih mengancam MEDC.

“Ini menjadi pukulan besar bagi permintaan minyak  Mei 2020. Bahkan, produsen menerapkan pemangkasan produksi bulanan terbesar,” papar Hasan.

Menurut Hasan, berdasarkan data dari Energy Information Administration (EIA), permintaan minyak global diperkirakan akan turun ke rekor terendah menjadi 9,3 juta barel per hari pada tahun 2020.

“Di sisi lain,  OPEC kemungkinan akan memangkas produksi hingga 9,7 juta barel per hari. Dengan latar belakang tersebut, Hasan percaya bahwa harga minyak tidak akan jatuh di bawah  US$ 30/bbl dalam jangka pendek hingga menengah,” lanjutnya.

Hasan menyebutkan, dirinya pun memangkas estimasi harga jual rata-rata minyak pada 2020 ini sekitar US$40/bbl. Katanya, harga ini turun sekitar 27,3 persen dari perkiraan harga minyak sebelum terjadi wabah Covid-19.

“Saya memperkirakan MEDC  hanya akan meraup laba sekitar US$9 juta tahun ini. Angka ini sebenarnya  turun 98 persen dari proyeksi sebelumnya. Namun demikian, capaian tersebut masih lebih baik dibanding angka rugi US$14 juta sepanjang 2019,” tandasnya.

Sebagai penutup, Hasan merekomendasikan tahan saham MEDC dengan target harga Rp430 per saham. 

Sebagai informasi, awalnya MEDC menganggarkan belanja modal sekitar US$340 Juta. Lantaran dampak pandemi yang tak menentu, MEDC pun menurunkan target belanja modalnya menjadi sebesar US$240 Juta. Dari nilai tersebut, sebesar US$180 Juta di antaranya dialokasikan untuk segmen minyak dan gas, sedangkan US$60 Juta untuk segmen kelistrikan (power).

Tahun ini, MEDC berkomitmen untuk mengembangkan bisnis melalui ekspansi internal maupun eksternal. Ekspansi internal dilakukan lewat pengembangan aset eksisting seperti pengembangan proyek Blok B, penyelesaian proyek Phase 4B di Bualuang Thailand, dan proyek pengembangan gas Meliwis di Jawa Timur. MEDC juga terus berupaya untuk menambah cadangan dan produksi migas melalui kegiatan eksplorasi. Sementara, untuk ekspansi eksternal, perseroan melihat peluang akuisisi.

Lalu, untuk bisnis kelistrikan, MEDC mengembangkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Riau yang ditargetkan rampung pada pertengahan 2021. Sementara di bidang tambang emas dan tembaga, perseroan menargetkan penyelesaian fase 7 Tambang Batu Hijau di PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) pada 2020.

Sebagai referensi, tahun 2019, MEDC membukukan kerugian bersih senilai US$27,34 Juta. Memang, jumlah ini termasuk membaik dibanding kerugian tahun 2018 yang mencapai US$51,3 Juta. Meski masih merugi, pendapatan MEDC justru meningkat 18,6 persen menjadi US$ 1,43 miliar selama tahun 2019.

 

SF

Dipromosikan