11 Tips Dalam Melakukan Negosiasi Utang-Piutang

0
111
11 Tips Dalam Melakukan Negosiasi Utang-Piutang

11 Tips Dalam Melakukan Negosiasi Utang-Piutang

Mulai dari perencanaan hingga transparansi perlu dilakukan agar negosiasi berjalan dengan baik.

Efek yang diberikan kepada sektor ekonomi selama penyebaran Covid—19  ini mengingatkan kepada keadaan krisis ekonomi di tahun 1998. Keadaan ekonomi terus memburuk, arus cash flow setiap pengusaha tidak membaik, banyak sektor usaha yang kemudian memilih untuk mengambil jalan alternatif seperti merumahkan sebagian pekerja untuk menjaga agar cash flow tetap berjalan, bahkan tidak sedikit pula yang menghentikan kegiatan usahanya. Belum lagi apabila adanya tagihan utang yang sudah jatuh tempo disaat yang bersamaan seperti ini.

Bezaliel Bazuki Erlan, Partner Armila & Rako Law Firm melalui webinar Surviving After Covid-19 yang diselenggarakan oleh Relatif Perspektif Media  menyadari bahwa saat ini sedang marak sekali penerapan mekanisme restrukturisasi dan pembiayaan kembali dalam dunia usaha. Sehubungan dengan ini, Bezaliel memberikan 11 tips dalam bernegosiasi selama proses restrukturisasi utang dengan kreditur, yaitu :

  1. Tenang

Para debitur harus tetap tenang selama proses negosiasi. Mengendalikan emosi menjadi sangat penting disini, karena apabila pihak debitur melakukan negosiasi dengan emosi yang tidak baik hasilnya pun tidak akan baik. Kepanikan yang berlebihan juga dapat memudahkan pihak debitur untuk dimanipulasi.

  1. Rencana

Permohonan restrukturisasi atau pembiayaan kembali yang dilakukan oleh debitur harus diikuti dengan perencanaan yang baik. Dalam beberapa hal, pihak kreditur atau pihak ketiga yang akan menanggung utang debitur dengan mekanisme pembiayaan kembali akan melihat program perencanaan yang diajukan oleh debitur sebagai itikad baik.

  1. Kajian Risiko

Kajian risiko ini berhubungan dengan program perencanaan yang diajukan oleh debitur sebelumnya. Disini debitur harus menjelaskan dengan baik risiko-risiko yang mungkin terjadi dikemudian hari dari pelaksanaan rencana tersebut.

  1. Transparansi dan Kejujuran

Transparansi dan kejujuran dari pihak debitur sangat diperlukan untuk memudahkan proses pelaksanaan negosiasi. Transparansi dan kejujuran ini sangat penting karena hasilnya akan menjadi pertimbangan bagi kreditur untuk melihat apakah debitur memang benar dapat melunasi kewajibannya kedepan.

  1. Orientasi pada Solusi

Orientasi pada solusi ini sering kali menjadi polemik pada saat proses negosiasi. Terdapat beberapa kasus dimana debitur sudah terlanjur pasrah dan sebaliknya dimana kreditur terlalu agresif untuk melikuidasi aset debitur. Untuk menyelesaikan permasalahan utang-piutang antara debitur dan kreditur baiknya kedua belah pihak sama-sama berorientasi pada solusi, sehingga tidak akan terjadinya manipulasi dan intimidasi.

  1. Pihak atau Perwakilan yang Tepat

Supaya tidak terjadinya manipulasi dan intimidasi oleh kedua belah pihak, masing-masing baik debitur maupun kreditur harus mengajukan perwakilan yang tepat atau sudah memiliki keahlian dibidang ini (pelunasan utang-piutang) supaya bisa mencapai tujuan bersama.

  1. Catat dan Arsip

Dalam proses negosiasi utang-piutang, baik dari pihak debitur maupun kreditur sangat penting untuk membuat Berita Acara Rapat atau Minutes of Meeting (MoM) yang dimana pencatatan ini harus diketahui oleh kedua belah pihak. Salah satu bentuk yang paling mudah untuk dilakukan adalah dengan penandatanganan para pihak di catatan proses negosiasi tersebut. Berita Acara Rapat ini menjadi sangat penting karena hasil akhir dari negosiasi adalah perjanjian kesepakatan baru yang sebelum ditandatangani, para pihak harus mengkaji terlebih dahulu apakah pandangan mereka sudah sesuai.

  1. Konsistensi

Konsistensi yang dimaksud disini adalah apabila memang sudah terjadi kesepakatan, para pihak harus tetap menjalankan kewajibannya sesuai dengan apa yang disepakati.

  1. Kesepakatan

Berhubungan dengan berita acara rapat tadi dan perjanjian yang dibuat sebagai kesepakatan bersama, para pihak harus benar-benar memastikan bahwa mereka memiliki pandangan yang sama atas suatu hal yang disepakati.

  1. Asertif

Selama proses negosiasi, para pihak diharapkan untuk berkomunikasi dengan cara yang tegas namun tetap menghormati pendapat pihak lawan. Tidak boleh ada unsur intimidasi maupun memanipulatif.

  1. Itikad Baik

Meskipun tolok ukur dari itikad baik sangat sulit dibuktikan, namun setidak-tidaknya para pihak sama-sama bekerja sama dan konsisten untuk menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi. 

BEL

Dipromosikan

TINGGALKAN JAWABAN

Masukkan komentar Anda!
Mohon masukkan nama Anda di sini

*