2 Hal yang Dapat Dilakukan Pengusaha Untuk Survive Menghadapi COVID-19

0
91
2 Hal yang Dapat Dilakukan Pengusaha Untuk Survive Menghadapi COVID-19

2 Hal yang Dapat Dilakukan Pengusaha Untuk Survive Menghadapi COVID-19

Dua hal ini dapat dijadikan strategi bagi pengusaha untuk bertahan di tengah ancaman resesi setelah pandemi.

Timbulnya suatu keadaan terpaksa atau force majeure dapat mengakibatkan penangguhan pelaksanaan dari suatu perjanjian. Salah satu akibat yang dapat disebabkan oleh timbulnya keadaan force majeure adalah berakhirnya suatu kontrak yang sudah ditetapkan oleh kedua pihak. Namun biasanya dalam hal harus terjadi pengakhiran suatu perjanjian karena force majeure akan menimbulkan cost yang lebih besar, lantaran pihak yang merasa dirugikan karena tidak menerima pemenuhan haknya akan membawa sengketa ini ke jalur hukum.

Sebagai alternatif untuk menghindari pembiayaan yang jauh lebih besar, Bezaliel Bazuki Erlan, Partner Armila & Rako Law Firm melalui webinar Surviving After Covid-19 yang diselenggarakan oleh Relatif Perspektif Media  menyarankan agar para pihak untuk melakukan renegosiasi perjanjian (11/05).

Renegosiasi perjanjian adalah dimana para pihak melakukan perundingan kembali dan memutuskan apa yang harus dilakukan agar para pihak tetap dapat melakukan pemenuhan kewajibannya meskipun adanya keadaan terpaksa. Menurut Bezaliel, terdapat dua hal yang bisa dilakukan oleh pengusaha pada kondisi saat ini, yaitu :

  1. Restrukturisasi hutang

Restrukturisasi adalah upaya untuk memperbaiki struktur modal yang harus dilakukan karena perusahaan sudah sampai di titik gagal bayar atau kondisi insolvency. Dengan melakukan restrukturisasi hutang tidak menangguhkan atau menghilangkan kewajiban pengusaha dalam melunasi hutang-hutangnya kepada pihak debitur. Disini debitur mencari dispensasi sementara namun tetap memiliki itikad baik untuk melunasi pinjaman. Mekanisme restrukturisasi utang sudah sering kali diterapkan, mulai dari melakukan penjadwalan ulang pembayaran, cuti pembayaran, sampai melakukan penambahan jaminan.

  1. Pembiayaan kembali  

Cara lain bagi perusahaan untuk bertahan dalam kondisi saat ini adalah melalui pembiayaan kembali. Karakteristik dalam upaya pembiayaan kembali adalah adanya keterlibatan pihak ketiga. Masuknya pihak ketiga ini adalah untuk membayar utang-utang debitur pada kreditur pertama sehingga pihak ketiga menggantikan kedudukan kreditur.

Pembiayaan kembali ini juga sering dikenal dengan konsep pendekatan ‘gali lubang-tutup lubang’, hanya saja pelaksanaan pembiayaan kembali lebih bijaksana karena para pihak akan mempertimbangkan analisis resiko keuangan yang lebih mendalam.

Mekanisme pembiayaan kembali dipandang lebih menguntungkan dibanding mekanisme restrukturisasi karena jangka waktu pelunasan hutang debitur akan lebih panjang. Dalam dunia bisnis waktu ini sangat berperan penting, sampai seringkali diibaratkan sebagai ‘emas’. Semakin panjang jangka waktu yang dimiliki oleh debitur untuk melakukan pelunasan, semakin besar kemungkinan bagi debitur untuk melakukan pelunasan hutang tanpa adanya likuidasi aset yang ia miliki.

 

BEL

Dipromosikan

TINGGALKAN JAWABAN

Masukkan komentar Anda!
Mohon masukkan nama Anda di sini

*