Andi Gunawan, Analis Kimia Yang Berkarir Sebagai Corporate Lawyer

0
647

Andi Gunawan, Analis Kimia Yang Berkarir Sebagai Corporate Lawyer

“… prinsip dan metode pelajaran yang saya lakukan di bidang kimia banyak membantu proses belajar dan perkembangan profesi saya di bidang hukum.”

Andi Gunawan, yang mulanya bercita-cita menjadi seorang ilmuwan akhirnya mantap berkarir sebagai corporate lawyer. Kepada KlikLegal Andi yang mengaku tidak memiliki cita-cita untuk bekerja sebagai corporate lawyer menceritakan kisahnya.

Bermula pada tahun 1989, Andi terdaftar sebagai mahasiswa analis kimia dari Akademi Analis Bogor (AKA Bogor). Di tahun 1991 yang merupakan tahun terakhir masa studinya di AKA Bogor, Andi masih berkeinginan untuk belajar dan memutuskan untuk mempelajari disiplin ilmu yang baru dan berbeda untuknya di ranah ilmu sosial. Tidak ada peristiwa spesial yang menginspirasi untuk mengambil langkah tersebut.

Andi memilih fakultas hukum dan fakultas ekonomi dalam proses pendaftarannya, namun ia diterima di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) pada tahun 1991. Mulanya dia agak ragu untuk belajar ilmu hukum karena  lebih tertarik belajar ekonomi. Namun, setelah mendapat pencerahan dari seorang kawan, Andi mantap melanjutkan studinya di fakultas hukum dan memilih program kekhususan hukum ekonomi. Pada tahun terakhirnya di AKA Bogor, Andi mulai menjalani kuliah tahun pertamanya di FHUI.

Pada tahun kedua dan ketiganya di FHUI, Andi menjalaninya sambil bekerja sebagai tenaga pemasaran di perusahaan kimia di Jakarta setelah lulus sebagai analis kimia dari AKA Bogor. Pada tahun keempatnya, Andi memutuskan untuk berhenti bekerja dan berkonsentrasi untuk menyelesaikan kuliahnya di FHUI. Rencana tersebut tidak berjalan mulus karena pada awal tahun 1995 ia mendapat kesempatan untuk magang di salah satu law firm ternama di Jakarta, Lubis Ganie Surowidjojo (LGS).

“Pada awal tahun 1995 ada pembukaan lowongan magang dan itu diperuntukan bahkan bagi mereka yang belum lulus atau sudah semester akhir. Jadi saya melamar  kesana, dan ternyata diterima,” terang Andi. Andi menyelesaikan skripsinya dan resmi menyandang gelar Sarjana Hukum (S.H.) pada bulan Februari 1996 dan mengantongi izin sebagai pengacara praktek tahun 1997. Saat ini Andi adalah seorang lawyer berlisensi dari Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia.

Andi menuturkan banyak sekali pengalaman berharga yang didapatkannya kala bekerja di LGS, khususnya dalam bidang hukum korporasi. Ada dua pengalaman yang paling berkesan selama berkarir di sana. Pertama, pada saat terjadi krisis 1998 (krisis moneter Asia) yang memicu dibentuknya Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Lembaga ini dibentuk dengan tugas penyehatan perbankan, penyelesaian aset bermasalah dan mengupayakan pengembalian uang negara yang tersalur di sektor perbankan.

“Waktu itu Saya baru tiga setengah tahun bekerja di LGS dan LGS ditunjuk oleh pemerintah sebagai Penasehat Hukum BPPN,” tukasnya.

Andi menjelaskan, saat itu LGS membentuk satu unit khusus untuk berkantor di BPPN yang kala itu masih berkantor di komplek Bank Indonesia, Thamrin dan ia menjadi bagian dari unit khusus LGS tersebut. Menurutnya, untuk seorang lawyer pemula dia merasa hal tersebut merupakan kesempatan berharga untuk mendapatkan pelajaran dan pengalaman di bidang hukum korporasi pada level tertinggi dan dari para lawyer korporasi terbaik pada saat itu.

“Waktu itu banyak bank-bank yang ambruk ya. Itu para pemilik-pemiliknya dipanggil oleh BPPN dan mereka datang. Saya sering diajak ikut meeting dengan mereka dan bertugas jadi notulen. Saya bertemu dengan banyak tokoh-tokoh bisnis di Indonesia dan para konglomerat saat itu. Sangat berkesan dalam posisi sebagai junior lawyer dan tim  yang waktu itu dipimpin oleh Pak Arief T. Surowidjojo, dengan Prof. Hikmahanto Juwana, Ahmad Fikri Assegaf dan Abdul Haris M. Rum, sebagai atasan saya,” ungkapnya.

Masih di era yang sama, hal berkesan lainnya saat bekerja di LGS adalah waktu pembentukan Bank Mandiri.

“Proses pembentukannya waktu itu LGS yang mengkoordinasikan. Bank Mandiri merupakan hasil dari konsolidasi 4 Bank pemerintah yang terdiri atas Bank Exim, BDN, BBD, dan Bapindo, yang jika dilakukan dalam kondisi normal akan memakan waktu berbulan-bulan lamanya.  Namun dalam kondisi krisis moneter saat itu, pemerintah ingin mempercepat proses pembentukan Bank Mandiri. Sehingga pembentukan Bank Mandiri waktu itu dapat diselesaikan dalam hitungan minggu. Buat saya, pengalaman waktu 3.5 tahun pertama bekerja di LGS itu merupakan pengalaman yang luar biasa untuk terlibat menangani dan terlibat dalam berbagai kejadian penting, termasuk pembentukan BPPN dan pendirian bank yang kemudian menjadi bank terbesar di Indonesia,” sebut Andi.

Selama di LGS Andi menemukan keasyikan tersendiri, dia mengatakan bisa bekerja di kantor selama 24 jam sampai 36 jam non-stop. Sampai akhirnya setelah lima tahun bekerja di LGS, Andi sadar bahwa memang garis tangannya telah menuntunnya berkecimpung dalam ranah hukum.

“Karena memang pekerjaannya banyak dan menuntut kesiapan mental dan fisik sehingga membuat keasyikan. Faktor ekonominya, (baca:kompensasi) juga lebih bagus daripada menjadi analis kimia,” tukas Andi.

Melanjutkan Studi Hingga Mendirikan Law Firm

Setelah enam tahun di LGS, pada awal tahun 2001 Andi memutuskan untuk mundur dan ikut dengan para pendiri Assegaf Hamzah & Partners selama lebih kurang tiga tahun. Di awal 2004 Andi melanjutkan studinya di Melbourne Business School, Australia dan mendapatkan gelar Master of Business Administration (MBA) pada pertengahan tahun 2005.

Scholarship dari perusahaan. Saya memilih belajar manajemen bisnis karena pekerjaan saya banyak berhubungan dengan dunia usaha, dan saya keinginan untuk belajar lagi saat itu masih tinggi, saya ambil program S2 di bidang manajemen bisnis,” ujar Andi.

Setelah menyelesaikan studi S2-nya, Andi bergabung dengan dengan law firm Makes & Partners, dengan spesialisasi yang sama yaitu terkait hukum korporasi seperti financial restructuring, corporate finance, capital market, merger dan akuisisi (M&A) sampai  akhir tahun 2008. Setelah itu, Andi memutuskan rehat sebagai praktisi hukum dan bergabung dengan perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) terbesar di Indonesia yaitu PT Unilever Indonesia Tbk sebagai sebagai General Counsel selama 4.5 tahun.

Pada awal tahun 2013, Andi bergabung sebagai partner pada law firm Widyawan & Partners. “Sebenarnya saya direkrutnya oleh Linklaters, law firm dari Inggris, sebagai counsel di kantor Linklaters-Singapura. Namun ditugaskan di Jakarta dan ditunjuk sebagai partner di Widyawan & Partners, yang berafiliasi dengan Linklaters, selama kurang lebih dua tahun,” sebut Andi.

Barulah pada April 2015, Andi mendirikan law firm sendiri dan sekaligus menjadi Managing Partner dengan nama Andi Gunawan & Associates. Saat ini jumlah pasukan law firm ini terdiri dari partners, counsel, dan associates yang berjumlah 15 orang, dengan 2 orang partner, Andi sendiri dan Ferry Rajagukguk SH., LL.M (FHUI 2000), yang merupakan putra dari Prof. Erman Rajagukguk, SH., LL.M, Ph.D, guru besar hukum ekonomi FHUI.

Spesialis firma hukum Andi Gunawan & Associates masih seputar bidang yang sama dalam hukum korporasi seperti: financial restructuring, corporate finance, capital market, dan M&A.

Andi mengatakan sebagai corporate lawyer dia lebih banyak mengerjakan pekerjaan hukum yang berhubungan dengan transaksi bisnis. “Itu kerjaannya bermacam-macam mulai dari membantu investasi, pembiayaan, akuisisi, joint venture, project finance dan restrukturisasi,” lanjutnya.

Berbagai klien “kakap” pernah ditangani Andi dan tim, termasuk Indika Resources Group, PT Danareksa Sekuritas, PT Unilever Indonesia Tbk, PT Fajar Surya Wisesa Tbk, PT Astra Graphia Information Teknologi, PT Victoria Care Indonesia, Dana Pensiun Pertamina dan beberapa grup perusahaan internasional lainnya.

Mulai awal tahun 2020 law firm Andi Gunawan & Associates  menjalin kerjasama strategis dengan law firm asing  Rödl & Partner suatu integrated firm berbasis di Nuremberg, Jerman. “Kalau pengalaman kerjasama dengan law firm asing itu sudah saya alami sejak dari awal bekerja, di LGS dan law firm tempat bekerja lainnya yang memang bekerjasama dengan law firm asing. Kami berharap bahwa kerjasama strategis ini dapat memberikan peluang pengembangan kantor kami yang lebih baik ke depannya dan menjadi langkah awal dalam strategi pengembangan kantor kami ke depannya,” tandasnya.

Passion Sebagai Pengajar

Selain berkarir sebagai corporate lawyer, Andi juga pernah menjadi asisten dosen di FH UI dan saat ini juga aktif sebagai dosen tamu di berbagai kampus, serta pembicara dalam forum-forum pelatihan hukum. Andi juga tergabung dalam kepengurusan Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal (HKHPM) 2018-2021 yang membawahi bidang pendidikan dasar.

“Di awal karir, saya sempat mengajar di Fakultas Hukum UI periode 1997-2001 sebagai asisten dosen Pak Arief Surowidjojo untuk mata kuliah Kontrak Dagang. Setelah itu berhenti, namun ternyata mengajar itu adalah bagian dari passion saya. Saya senang kalau diminta mengajar topik yang saya kuasai. Cuma saya tidak punya waktu yang cukup untuk menjadi pengajar tetap.” kata Andi.

Hingga kini, Andi tetap mengajar sebagai instruktur di beberapa forum pelatihan dan dosen tamu untuk topik-topik sekitar hukum korporasi, seperti: Jimly School of Law and Governance (JSLG), ET Asia, Intrinsic, Justitia Training Center, Universitas Prasetiya Mulya (S1 dan S2), dan tentunya mengajar pendidikan dasar pasar modal di HKHPM.

Tak luput juga, selain hobby membaca, Andi juga mempunyai hobby melakukan adventure cycling and travelling. “Saya pernah bersepeda berkeliling Pulau Bali dan sebagian wilayah Sumatera Barat (Padang, Maninjau, Bukittinggi) yang bisa memakan waktu berhari-hari,”  ucap Andi. Namun, untuk hobby di atas tidak rutin dilakukannya karena harus menyesuaikan dengan kondisi pekerjaan. Akan tetapi menurutnya bersepeda di daerah Sentul, Bogor masih menjadi alternatif yang ia coba lakukan secara rutin.

Analis Kimia  dan Corporate Lawyer

Dengan latar belakang akademik dan karir singkat di bidang analis kimia, Andi menjelaskan bahwa disiplin ilmu kimianya tersebut menjadi sebagai salah satu faktor yang membantunya dalam menjalani karirnya pada saat ini.

“Kalau untuk pengetahuan teknisnya (kimia) memang sudah hilang karena tidak dipakai lagi, tapi dari prinsip dan metode pelajaran yang saya lakukan saat belajar kimia banyak yang saya terapkan dalam proses belajar dan pengembangan profesi saya di bidang hukum, misalnya terkait dengan analisis informasi, berpikir kritis dan akurasi pengungkapannya. Saya banyak melakukan proses legal due diligence (uji tuntas aspek hukum) di awal karir saya dan tipe pekerjaan ini membutuhkan suatu sistem bekerja yang sistematik, detil dan methodical, yang biasa saya terapkan saat belajar kimia,” ujar Andi menjelaskan.

Menurutnya dalam melakukan uji tuntas harus memahami regulasinya dan membutuhkan analisis atas informasi yang diperoleh. Analisis adalah bidang yang dienyam saat kuliah Kimia. Dia terbiasa menganalisis data dan fakta, secara detil dengan sistimatis dan menggunakan metode analisis dan berpikir kritis.

Sebagai penutup, Andi menyampaikan pesan-pesan untuk lawyer muda yang ingin memasuki profesi di bidang hukum.

“Kita semua tahu bahwa dalam praktinya hukum itu umumnya selalu tertinggal perkembangannya dari dunia bisnis. Seringkali dalam dunia bisnis sudah ada prakteknya, tapi aturannya belum ada atau belum memadai. Dengan adanya teknologi yang mendorong digitalisasi proses bisnis saat ini, hukum bisa makin jauh ketinggalan. Misalnya, dunia usaha sudah melakukan bicara mekanisme transaksi keuangan secara elektronik dengan segala variasi aspek teknisnya, hukum baru mengatur tanda tangan elektronik dan data protection, dan menurut saya memang sepertinya pakemnya begitu, hukum selalu di belakang dunia usaha yang menuntut inovasi yang cepat dan terus menerus,” terang Andi.

Tips Andi bagi lawyer muda yang ingin memasuki profesi sebagai lawyer hukum korporasi. Pertama, seorang calon lawyer hukum korporasi sebaiknya harus mempunyai multi disiplin ilmu yang komplementer dengan area spesialisasi yang ingin dijalani. Menurutnya itu adalah  bekal untuk masuk, berkompetisi dan berkembang dalam profesi konsultan hukum korporasi saat ini. Artinya, jangan hanya menguasai ilmu hukumnya saja, tapi juga pengetahuan penunjang juga perlu dimiliki (pajak, keuangan, teknologi, marketing, dll). Prosesnya bisa belajar secara formal atau  bisa juga melalui pekerjaan yang dijalani.

“Misalnya, kalau anda ingin masuk hukum korporasi seperti saya, anda perlu tahu sedikit yang namanya keuangan, pajak dan ekonomi. Kalau anda misalnya, ingin jadi ahli hukum lingkungan, anda perlu memahami aspek teknisnya, seperti engineering, landscape. Karena sekarang, bidang hukum semakin banyak spesialisasinya sehingga lawyer perlu memiliki pengetahuan mendalam dan komprehensif di area spesialisasinya tersebut,” ungkap Andi.

Kedua, jagalah integritas profesi konsultan hukum.

Foundation antara hubungan klien dengan konsultan hukum adalah trust (kepercayaan). Kalau klien menaruh rasa percaya pada konsultan hukum maka harus dijaga, jangan disepelekan. Kalau soal skill, teknis itu anda akan dapat peroleh seiring dengan pengalaman menjalani profesi sebagai konsutan hukum. Seberapa cepat dan seberapa lama bisa memperoleh pengalaman yang mumpuni itu sangat tergantung pada mindset dan kemampuan orang tersebut untuk belajar dari setiap kesempatan yang dipunyai. Banyak lawyer yang cerdas dan pintar, namun belum tentu dapat dipercaya oleh kliennya. Menjadi cerdas dan terpercaya membutuhkan suatu proses yang panjang dan waktu yang tidak sedikit, dan hal itu seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi lawyer yang sedang mengejar kesuksesan dalam berkarir,” tutup Andi.

SF

Dipromosikan

TINGGALKAN JAWABAN

Masukkan komentar Anda!
Mohon masukkan nama Anda di sini

*