DJKI Lakukan Pengadaan Alat Penyelidikan, Guna Pelindungan Kekayaan Intelektual Yang Optimal

0
1
DJKI Lakukan Pengadaan Alat Penyelidikan, Guna Pelindungan Kekayaan Intelektual Yang Optimal

DJKI Lakukan Pengadaan Alat Penyelidikan, Guna Pelindungan Kekayaan Intelektual Yang Optimal

Alat penyelidikan ini nantinya tidak hanya digunakan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas, tetapi juga memperkuat eksistensi DJKI.

Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual secara khusus Direktorat Penyidikan dan Penyelesaian Sengketa menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema Upaya Peningkatan Kualitas Penegakan Hukum Kekayaan Intelektual melalui Pengadaan Alat Penyelidikan. Acara ini diadakan di Aula Oemar Seno Adji, Lantai 18, Gd. Ex Sentra Mulia dan virtual melalui aplikasi Zoom, Pada Jumat (16/4).

Acara ini juga dihadiri secara virtual melalui aplikasi zoom oleh Kepala Biro Pengelolaan Barang Milik Negara Kementerian Hukum dan HAM, Iwan Santoso; Inspektur Wilayah V, Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum & HAM, Budi Ateh; Kasubdit 3 Siber Bareskrim Mabes Polri, Kombes Pol Dani Kustoni; Koordinator Forensik Digital dan Pengembangan Kapasitas Pengawasan Bidang Investigasi, Totok Prihantoro; dan Staf Ahli Badan Intelijen Negara, Irjen Faisal Thayeb.

FGD ini diadakan untuk mendiskusikan perihal penanganan perkara tindak pidana kekayaan intelektual dengan menggunakan pendekatan sarana Informasi dan teknologi menggunakan alat material khusus dan proses pengadaan alat material khusus.

Anom Wibowo selaku Plt. Direktur Penyidikan dan Penyelesaian Sengketa KI membuka acara ini dengan menjelaskan tingkat urgensi alat penyelidikan di Direktorat Penyidikan dan Penyelesaian Sengketa, karena perlindungan kekayaan intelektual sekarang ini dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan penegakan hukum nasional maupun global.

Dalam 3 (tiga) tahun berturut-turut, yaitu 2018, 2019, 2020, PNBP DJKI naik sebesar 130% dengan realisasi anggaran 789 Miliar dari target 608 Miliar. Akan tetapi, capaian tersebut belum diikuti oleh citra perlindungan atas hak kekayaan intelektual yang optimal.

“Aspek pelayanan filing, komersialisasi dan pelindungan kekayaan intelektual harus berjalan beriringan. Dalam konteks pelindungan KI, DJKI pada dasarnya telah melengkapinya dengan perangkat perundang-undangan dan struktur hukum,” ucap Anom.

Fungsi penegakan hukum KI harus dioptimalkan dengan penggunaan alat penyelidikan. Alat penyelidikan ini menurut Anom tidak hanya digunakan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas penanganan perkara, namun juga memperkuat eksistensi DJKI dalam bidang penegakkan hukum kekayaan intelektual.

Alat penyelidikan ini tentunya harus dioperasionalkan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) yang mumpuni dengan pengawasan dan supervisi dari tenaga ahli yang bersumber dari Kepolisian Republik Indonesia hingga Badan Intelijen Negara. Sehingga kolaborasi antar instansi terkait dalam pemanfaatan alat ini menjadi penting, demi merealisasikan alat yang bisa bekerja secara optimal, efisien, efektif, tepat sasaran dan berdaya guna.

 

RW

Dipromosikan

TINGGALKAN JAWABAN

Masukkan komentar Anda!
Mohon masukkan nama Anda di sini

*