Irfan Aulia, Dari Musisi Mendirikan Perusahaan Penerbit Lagu Hingga Belajar Hukum Secara Otodidak

0
833
Irfan Aulia, Dari Musisi Mendirikan Perusahaan Penerbit Lagu Hingga Belajar Hukum Secara Otodidak

Irfan Aulia, Dari Musisi Mendirikan Perusahaan Penerbit Lagu Hingga Belajar Hukum Secara Otodidak

“Kuasai commercial terms dan legal terms secara self-taught, merupakan kunci sukses Irfan dalam membangun bisnis music publisher terbesar di industri musik indonesia.”

Irfan Aulia, Sarjana Komputer (S.Kom) dari Universitas Bina Nusantara (BINUS)  yang kini menjelma sebagai founder dan managing director salah satu music publisher atau penerbit lagu. Kepada KlikLegal Irfan bercerita, music publisher adalah perusahaan yang mengeksploitasi, mengadministrasi, memproteksi, dan mengelola hak cipta lagu.

“Jadi kalau saya bilang, misalnya saya mau mengelola lagu-lagunya Naif, berarti saya bekerjasama dengan para pencipta lagu Naif. Saya kerjasama dengan David Bayu dan Fajar. Bukan band Naif-nya, dimana mereka pencipta lagu yang dinyanyikan oleh band Naifnya,” katanya di Jakarta Selatan, Kamis (12/3) lalu.

Irfan mengatakan mulanya terjun di industri musik pada tahun 2005 sebagai guitarist dan composer grup band Samsons. Jikalau bernostalgia lagu-lagu seperti “Kenangan Terindah” dan “ Naluri Lelaki”  menjadi primadona pada waktu itu, dan bahkan sampai saat ini menjadi suatu karya yang entitasnya terus hidup mewarnai para pecinta dan penikmat lagu-lagu Samsons di mana pun berada.

Seiring waktu, tahun 2006 Irfan membentuk Massive Music Entertainment (MME) sebagai minor label dan terus berkembang sampai akhirnya pada tahun 2013 sebagai professional publisher. Divisi di MME sendiri terdiri atas Licensing dan Marketing; Membership, Documentation and Distribution (MDD), HR, Finance, dan Legal. Menurutnya, MME dalam kurun waktu 2006-2013 tidak melayani pengelolaan hak cipta kecuali untuk katalog Massive Music yang mana diantaranya lagu-lagu Samsons dan Seringai.

“Tapi setelah 2013 kita officially membuka diri untuk mengelola lagu-lagu lainnya dari teman-teman pencipta lagu,” lanjut Irfan.

Adapun yang menjadi latar belakang Irfan membentuk ini, karena terlalu banyak, khususnya musisi yang tidak memperhatikan industri hak cipta.

“Hak cipta sendiri memang sudah ada UU-nya, tapi memang game play-nya, bagaimana ini menjadi industri yang baik, industri yang melandaskan pada kesejahteraan para pencipta lagu pada saat itu memang belum marak. Kebetulan juga saya memang dibesarkan oleh industri musik, buat saya ini sebagai bentuk bakti kembali kepada industri yang membesarkan saya,” terang Irfan.

Irfan mengungkapkan terkait hak ekonomi yang dikelola oleh MME sendiri merujuk pada Pasal 9 (1)  UU 28/2014 tentang Hak Cipta yang menyebutkan Pencipta atau Pemegang Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 memiliki hak ekonomi untuk melakukan: penerbitan ciptaan, penggandaan ciptaan dalam segala bentuknya, penerjemahan ciptaan; pengadaptasian, pengaransemenan, atau pentransformasian ciptaan, pendistribusian ciptaan atau salinannya, pertunjukan ciptaan; pengumuman ciptaan, komunikasi ciptaan; dan penyewaan ciptaan.

Namun, guna menyederhanakannya, MME merujuk pada Digital Millennium Copyright Act (DMCA), yaitu aturan yang mengatur tentang hak cipta atas konten digital di Amerika Serikat, setidaknya ada empat hak ekonomi pencipta lagu yang dapat dikelola di Indonesia: Pertama: Hak Reproduksi; Kedua: Hak Derivatif, Ketiga: Hak Distribusi Keempat: Hak Menampilkan Kepada Publik (Performing Rights). Tiga hak pertama dikelola langsung oleh MME, sedangkan performing rights dikelola oleh LMK dan LMKN yang dikuasakan oleh MME dan Pencipta lagu. Terkait penjelasan lebih lanjut, menurut Irfan dapat dilihat pada website maupun sosial media MME.

Berikutnya, Irfan menjelaskan saat  ini  hampir 500 pencipta dan 5000 lagu yang dikelola hak ekonominya oleh MME. Banyak sekali pencipta lagu papan atas yang berada di bawah naungannya.

“Misalnya lagu-lagunya Tulus, Raisa, Near, Afgan dan Rossa, juga dari lagu dari grup band Naif, Andra and the Backbone, dan Koes Plus, termasuk juga lagu dangdut dari Lesti (Kejora) dan Rita Sugiarto, dst,” ujarnya.

Kesuksesan Irfan bersama MME-nya bukan tanpa sabab, dia mengungkapkan rahasia dalam membangun bisnis ini. Di berbagai kesempatan Irfan banyak mendapat apresiasi karena kepiawaiannya dalam menjelaskan bisnis pada industri musik bahkan termasuk pada aspek hukumnya.

“Pada prinsipnya dalam bisnis itu ada 2 hal yaitu  commercial terms dan legal terms, kalau kita bicara commercial terms bagaimana bisnis itu menjadi logic secara komersial untuk dilakukan. Saya punya mug tumbler, jri gua mau jual sama lo harganya 2 Miliar, lu bisa ambil ni, mau gak beli? ndak mau dong. Berarti function sama harga dua hal yang berbeda, itu commercial terms. Dalam konteks tersebut sama seperti hak cipta, saya mau pakai lagu dong, saya promosikan ndak usah bayar deh, yang anda jawab sebenarnya logika. Saya misalnya memberikan ini for free berarti saya harus invest dong dalam produksi kamu, itu hal logic kita bicarakan. Sehingga ketika bicara sama pengguna seperti platform-platform digital dan itu dirasa sama-sama make sense kan tinggal dirajut dalam bentuk legal terms” jelas Irfan.

Semua hal diatas dipelajari Irfan secara self-taught (otodidak) karena menurutnya terbentuknya suatu bisnis dalam industri musik di awali dari satu disrupsi. Bahkan Irfan mempelajari legal terms dalam industri musik dari teman dan orang-orang hebat yang  berlatar belakang sarjana hukum disekitarnya, termasuk pelajaran berharga didapatkannya dari pengacara kondang Hotma Sitompul yang merupakan orang tua dari mantan vokalis Samsons.

“Dulu waktu dengan Samsons, kebetulan salah satu personil kami orang tuanya (Hotma Sitompul) pengacara. Saya tidak diajarin hak cipta sama beliau, tapi saya diajari hal yang lebih kritikal lagi “melihat masalah”. Itu buat saya paling berharga. Jadi ilmu yang diberikan itu bagaimana saya melihat masalah dan bagaimana menyelesaikannya tanpa masalah,” terangnya.

Irfan juga mengatakan selain dirinya, musisi lain yang fokus dengan pengelolaan hak cipta ada lagi, namanya Candra Darusman, beliau bukan Sarjana Hukum tapi Sarjana Ekonomi (FE UI). Sama dengan Irfan baik legal terms maupun commercial terms beliau menguasainya secara kontekstual.

Selain itu, berbagai penghargaan telah diraihnya bersama MME, yang mana pencipta lagu yang berada dibawah naungannya, Eross dan Yura Yunita dua tahun berturut-turut sebagai pencipta lagu terbaik dalam ajang Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards, kemudian lagunya Judika “Jikalau Kau Cinta” juga memenangkan Anugerah Planet Muzik (APM) di Singapura, termasuk juga berbagai penghargaan lainnya yang dapat dilihat pada website MME.

Lebih lanjut, Irfan menjelaskan MME sendiri saat ini bergabung dengan Asosiasi Penerbit Musik Indonesia (APMINDO) yang telah berdiri sejak tahun 1997 dan merupakan yang terbesar di Indonesia. Melalui organisasi ini para anggota dan organ terkait bersepakat untuk merawat industri musik, mensejahterakan anggotanya, dan melakukan good governance dalam industrinya.

MME juga rutin melakukan edukasi seperti: seminar, informasi di media sosial, dan website. “Jadi kita itu harus berbicara bukan hanya pada pencipta tapi juga pengguna. Kepada pencipta kita berbicara apa saja yang menjadi hak mereka yang diproteksi, dan sejauh apa di eksploitasi. Pada user juga sama ketika mereka ingin menggunakan lagu seperti apa sih selayaknya penggunaan lagu yang baik dan benar,” jelasnya.

Terkait isu yang cukup fenomenal sekarang ialah fenomena cover yang banyak sekali dilakukan di Indonesia. Menurutnya selama berizin harusnya tidak ada masalah, namun banyak pelaku mengcover lagu tanpa izin dari penciptanya.

“Buat saya, cover itu promosi atau pelanggaran jawabannya juga normatif, selama pencipta merasa tidak dirugikan, maka sepertinya tidak bisa disimpulkan pelanggaran. Tapi menjadi tidak relevan ketika pencipta merasa dirugikan artinya dilanggar. Hak moral sederhananya, sedikit sekali peng-cover lagu yang menyebutkan penciptanya, yang disebutkan hanya performer-nya. Ini satu saja sudah melanggar hak moral,” tukasnya.

Sebagai penutup, Irfan menyampaikan saran bagi pencipta lagu diluar sana yang belum mendaftarkan hak ciptanya untuk dikelola oleh penerbit lagu. Dewasa ini, banyak sekali fenomena pencipta di hari tuanya tidak mempunyai keuangan yang cukup atau setelah meninggal dunia ahli warisnya tidak memperoleh manfaat ekonomi dari karya ciptanya. Hal ini terjadi karena pencipta tidak melakukan pengelolaan hak ekonomi atas hak cipta berupa lagu kepada penerbit lagu atau music publisher.           

“Saran saya, yang perlu dilakukan mencari tahu sebenarnya profesimu itu ngapain aja, kenalilah profesimu lebih baik, kalau kamu pencipta lagu selain membuat lagu yang baik adalah bagaimana menjaga lagu tersebut secara baik. Karena tidak ada lagi yang bisa mendorong pencipta lagu untuk mempelajari lagu atau hak cipta atau haknya dia atas lagu tersebut selain pencipta itu sendiri,” tutup Irfan.

 

SF

Dipromosikan

TINGGALKAN JAWABAN

Masukkan komentar Anda!
Mohon masukkan nama Anda di sini

*