Kisah Inspiratif, Semangat Kartini Masa Kini Dalam Berkarir Di Dunia Hukum

0
0
Kisah Inspiratif, Semangat Kartini Masa Kini Dalam Berkarir Di Dunia Hukum

Kisah Inspiratif, Semangat Kartini Masa Kini Dalam Berkarir Di Dunia Hukum 

Banyak kartini muda di sektor hukum yang lahir dengan gagasan dan perjuangannya masing-masing. 

Setiap tahunnya tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Setiap tahunnya pula, gagasan-gagasan Kartini untuk mewujudkan emansipasi dan pemberdayaan perempuan dari surat-suratnya juga terus digaungkan. Dengan pondasi yang diletakkan oleh Kartini melalui suratnya dan bergulirnya dinamika kehidupan masyarakat, perempuan kini juga dapat memiliki kesempatan yang sama untuk berperan dan memiliki pengaruh besar dalam berbagai sektor dan profesi.

Tidak terkecuali untuk sektor hukum, saat ini cukup sering terlihat pengacara perempuan hadir mewakili klien di ruang-ruang persidangan. Tentu kehadiran perempuan di bidang hukum bukan hanya pada profesi advokat saja, tetapi banyak profesi hukum lainnya. Banyak kartini muda di sektor hukum yang lahir dengan gagasan dan perjuangannya masing-masing. Untuk itu Kliklegal mencoba menyajikan bagaimana beberapa kartini muda dunia hukum menginternalisasi idenya dalam memberikan manfaat untuk masyarakat. Oky Wiratama Siagian, Pengacara Publik Lembaga Bantuan Hukum Jakarta (LBH Jakarta); Liza Farihah, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian dan Advokasi Independensi Peradilan (LeIP); dan Rahmi Triani, Pengacara Litigasi, berangkat dari latar belakang yang berbeda dan memiliki caranya tersendiri dalam memberi nilai positif bagi perkembangan hukum di Indonesia.

Dimulai dari alasan untuk terjun di profesi masing-masing, ketiganya pun memiliki alasan yang bervariatif. Bagi Oky, menjadi pengacara publik merupakan suatu panggilan hati untuk mengabdikan dirinya membela masyarakat yang buta hukum dan tertindas. Menurutnya, tidak banyak orang yang terpanggil untuk melakukan hal tersebut. 

Padahal, menurut pandangannya, akses hukum dan keadilan bagi masyarakat miskin dan buta hukum sangatlah timpang dibandingkan masyarakat menengah ke atas yang memiliki akses untuk membayar pengacara ketika berhadapan dengan kasus hukum. 

“Oleh karenanya, saya bersedia menjadi pengacara publik di LBH Jakarta untuk bisa berkontribusi terhadap bantuan hukum struktural dan juga bisa berkontribusi membantu keadilan bagi masyarakat yang buta hukum, miskin, dan tertindas,” ujar Oky.

Dengan menjadi pengacara publik, Oky berharap ia dapat berkontribusi untuk membuat suatu perubahan hukum, salah satunya melalui pendekatan bantuan hukum struktural. Berdasarkan penuturannya, pendekatan yang diterapkan oleh LBH Jakarta ini tidak hanya berfokus pada penanganan kasus, melainkan juga pada pemberdayaan dan menyasar pada adanya perubahan kebijakan publik.

Lain halnya dengan Oky, pengalaman Liza untuk akhirnya berkecimpung dalam dunia penelitian hukum berangkat dari pengalaman magangnya menjadi asisten peneliti di lembaga tempatnya bekerja sekarang, yaitu LeIP. Pada saat itu, Liza merasa bahwa kegiatan riset hukum di LeIP sesuai dengan ketertarikannya di bidang kekuasaan kehakiman sehingga ia pun merasa cocok menjadi peneliti hukum di lembaga tersebut.

“Dari situ lah terus jadi peneliti LeIP, terus lulus, waktu itu asisten peneliti, (tahun -red) 2012 lulus ditawari jadi peneliti, terus sampai sekarang karena ternyata memang nyamannya riset dan advokasi hukum,” ujar Liza.

Lebih lanjut, Liza menuturkan bahwa peran peneliti hukum sangat vital terhadap suatu fenomena yang muncul di bidang hukum. Terlebih, hukum adalah hal yang berkembang sangat cepat sehingga memunculkan banyak permasalahan di lapangan, mulai dari regulasinya atau dari aparat penegak hukum itu sendiri. Dalam hal ini, peneliti hukum berperan untuk membantu mengobservasi dan mengidentifikasi masalah di lapangan, mengadvokasikannya dengan lembaga penegak hukum, hingga bersama-sama membuat peraturan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi.

“Jadi goals-nya kita (LeIP -red) adalah bagaimana kita membuat satu perubahan hukum lewat kebijakan hukum dan peradilan,” tegas Liza.

Berbeda dengan Oky dan Liza, perjalanan Rahmi hingga menjadi seorang pengacara litigasi bermuara dari dorongan sang ayah untuk dirinya menjadi seorang pengacara. Ayahnya memberikan inspirasi yang membuat dia berkeinginan menjadi seorang lawyer. Sehingga, Rahmi juga mengaku bahwa ia sendiri juga merasa cocok dengan dunia lawyering.

“Dedikasi saya memang jadi lawyer dan khususnya litigasi. Kenapa? Karena saya merasa cocok, sekarang akhirnya saya mengerti lawyering itu passion saya,” jelas Rahmi.

Dengan menjadi lawyer, khususnya litigasi, Rahmi berharap ia dapat membantu orang-orang yang memiliki kesulitan dalam masalah hukum.

“Yang diharapkan membantu orang dalam mendapatkan keadilan, karena tidak semua masyarakat memiliki pemahaman tentang hukum ketika berhadapan dengan hukum,” tukas Rahmi.

Dalam menjalani profesinya masing-masing, perjalanan ketiganya tentu tidak selalu berjalan mulus. Baik Oky, Liza, dan Rahmi pernah dan sering menghadapi berbagai rintangan, terlebih karena pekerjaan menuntut mereka untuk berinteraksi dengan banyak orang yang beragam karakternya, mulai dari klien, masyarakat, hingga aparat penegak hukum.

Dari pengalaman Oky, pengacara publik sering dihadapkan dengan berbagai macam permasalahan. Oky menceritakan bahwa pengacara publik seringkali dipersulit ketika mendatangi kepolisian untuk mendampingi kliennya. Selain itu, ia juga mengungkapkan pengalaman rekan sejawatnya yang pernah mengalami penangkapan sewenang-wenang oleh kepolisian saat mendampingi klien. 

Tidak hanya itu, selama Oky bekerja di LBH Jakarta, pernah sekali waktu kantornya mengalami penyerangan dari masyarakat karena adanya isu bahwa LBH Jakarta mendukung Partai Komunis Indonesia (PKI), hanya karena penyelenggaraan diskusi terkait korban-korban yang terstigma PKI. Juga, ancaman-ancaman lain seperti diikuti orang lain dari belakang turut membayangkannya sebagai pengacara publik.

Meskipun begitu, tidak pernah terbesit sedikitpun pikiran untuk menyerah dalam diri Oky. “Gak pernah terpikirkan untuk menyerah. Justru dengan adanya ancaman dan hal-hal seperti tadi yang saya sebutkan, itu membuat saya semakin semangat menghadapi berbagai bentuk ancaman,” tegas Oky, “semangat dalam artian, ‘oh berarti kita harus punya langkah-langkah preventifnya, mitigasi keamanan buat pengacara publik itu sendiri,” tambahnya.

Lain halnya dengan Oky, sebagai peneliti hukum yang sering bersinggungan dengan aparat penegak hukum, Liza juga menghadapi tantangan-tantangannya tersendiri. Menurut Liza, terdapat empat tantangan terbesar menjadi peneliti hukum. Pertama, peneliti harus lincah dan cepat tanggap terhadap apapun isu hukum yang terjadi. Kedua, peneliti harus bisa sabar, terlebih ketika berhadapan dengan aparat penegak hukum. Ketiga, dalam menyatakan stance-nya terhadap suatu isu, peneliti hukum harus melakukannya dengan bahasa dan narasi yang diplomatis. Keempat, proses advokasi kebijakan kepada aparat penegak hukum tidaklah semudah yang dibayangkan.

“Sering banget ada reluctance sana-sini. Misalkan menurut mereka ini nggak menguntungkan mereka, ini susah dilakukan dan segala macem. Jadi prosesnya itu walaupun nanti goals-nya adalah ada rekomendasi kebijakan, peraturan yang dikeluarkan, itu prosesnya gak segampang itu,” tutur Liza. “Prosesnya berdarah-darah lah ngomong sama aparat penegak hukum,” sambungnya.

Sementara itu, Rahmi yang merupakan pengacara litigasi sekaligus pendiri law firm, Kandara Law, juga harus berhadapan dengan berbagai tantangan, salah satunya ketika berhadapan dengan klien yang tidak jujur. Rahmi bercerita ia pernah berhadapan dengan kasus yang kliennya tidak menceritakan secara utuh kepadanya. Padahal ketika lawyer ingin membantu menyelesaikan masalah klien, maka harus mengetahui secara utuh dari kasus tersebut agar langkah yang diambil sesuai.

“Jika tidak, dapat berujung hasilnya tidak maksimal karena klien tidak jujur dari awal. Sehingga seorang lawyer tidak bisa percaya 100% sama klien,” tukas Rahmi.

Terakhir, dalam rangka memperingati Hari Kartini, Oky, Liza, dan Rahmi memiliki harapannya masing-masing bagi rekan sejawat perempuan di sektor hukum. Mulai dari Oky, ia berharap teman-teman perempuan yang berprofesi di bidang hukum memiliki prinsip untuk membela ketidakadilan, tidak hanya money-oriented. Ia berharap supaya lebih banyak lagi perempuan di bidang hukum untuk memiliki concern terhadap kasus-kasus ketidakadilan gender terhadap perempuan. 

“Apapun profesi kita, setiap perempuan bisa punya semangat untuk berkontribusi dalam keadilan,” tegas Oky, “semoga banyak perempuan di bidang hukum juga yang punya keinginan untuk saling membantu kasus-kasus ketidakadilan gender terhadap perempuan,” harapnya.

Sementara itu, Liza berpesan bahwa apapun profesi yang dijalankan, hal yang terpenting adalah untuk melakukannya dengan sepenuh hati. Liza juga menambahkan bahwa terlepas dari profesi hukum apa yang dilakukan, ia berharap semuanya tetap bisa berkontribusi terhadap penegakan hukum. Ia juga mengingatkan agar tidak memandang hukum sebagai suatu hal yang sakral karena pada dasarnya hukum itu mengikuti manusia.

“Jadi yang dilihat adalah strategi dan caranya bisa beda-beda yang penting tujuannya sama, bisa berkontribusi untuk penegakan hukum,” pungkas Liza. “Cara pandangnya juga melihat bahwa hukum itu bukan sesuatu yang saklek atau sakral atau suci. Balik lagi kalau mengutip Satjipto Rahardjo, hukum itu mengikuti manusia, bukan manusia mengikuti hukum. Jadi, ngeliatin perkembangan kebutuhan manusia, butuhnya apa dan bagaimana mendorong hukum yang misalnya dia memanusiakan manusia,” tambahnya.

Adapun dari Rahmi, ia juga menyampaikan harapannya bagi rekan-rekan sejawatnya, khususnya pengacara litigasi, untuk selalu menjunjung integritas. “Semoga para perempuan yang berprofesi sebagai lawyer litigasi bisa menjunjung integritas. Dengan bekerja secara jujur dan ikhlas, saya yakin para perempuan yang berprofesi sebagai lawyer akan dapat memberikan yang terbaik,” jelas Rahmi. 

NM

Dipromosikan

TINGGALKAN JAWABAN

Masukkan komentar Anda!
Mohon masukkan nama Anda di sini

*