Resmi Tercatat, Pradiksi Gunatama Gunakan Dana IPO Rp103,5 Miliar Untuk Belanja Modal Pembangunan Infrastruktur

Resmi Tercatat, Pradiksi Gunatama Gunakan Dana IPO Rp103,5 Miliar Untuk Belanja Modal Pembangunan Infrastruktur

Resmi Tercatat, Pradiksi Gunatama Gunakan Dana IPO Rp103,5 Miliar Untuk Belanja Modal Pembangunan Infrastruktur

Adapun belanja modal pembangunan infrastruktur tersebut terdiri atas: pembukaan lahan, pengembangan dermaga, pengerasan jalan, dan untuk membangun fasilitas perumahan karyawan dan sisanya akan digunakan sebagai modal kerja.

Perusahaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (7/7) lalu. Dilansir dari keterbukaan informasi BEI, pada perdagangan perdana, harga PGUN melonjak 34,78 persen menjadi Rp155 per saham dari harga Initial Public Offering (IPO) Rp115 per saham. Lewat IPO, Pradiksi Gunatama melepas 900 juta saham atau setara 18 persen dari seluruh modal ditempatkan dan disetor  penuh. Dengan demikian, Pradiksi Gunatama mengantongi dana segar Rp103,5 Miliar. Perseroan kini merupakan emiten ke 32 yang mencatatkan sahamnya di BEI tahun ini, sehingga total perusahaan tercatat hingga saat ini menjadi 696 perusahaan.

Menanggapi hal ini, Direktur Utama Pradiksi Gunatama, Indra Irawan mengatakan, dalam aksi korporasi ini, perseroan akan menggunakan dana hasil IPO saham setelah dikurangi biaya-biaya emisi untuk belanja modal pembangunan infrastruktur seperti membuka lahan dan pengembangan dermaga.

“Dana juga dimanfaatkan untuk pembangunan berupa pengerasan jalan, serta untuk membangun fasilitas perumahan karyawan,” ujar dia dalam pembukaan perdagangan virtual BEI, Selasa (7/7). 

Adapun rinciannya sebagai berikut:

Pertama, 50 persen akan digunakan untuk membuka lahan seluas 443 hektare (ha) dan tanaman baru.

Lokasinya berada di Muara Petangis Estate Desa Saing Prupuk seluas 203 Ha dan di Muara Benongan Estate Desa Bai Jaya seluas 240 Ha. Pengerjaannya akan dimulai pada Juli 2020 dan ditargetkan selesai pada Desember 2020.

Kedua, 25 persen ditujukan untuk pengembangan dermaga (jetty) pengangkutan hasil produk Tandan Buah Segar TBS dan Pabrik Kelapa Sawit (PKS).

Lokasinya terletak di Desa Langgai dan pengerjaan proyek ini akan berlangsung pada Juli 2020 sampai dengan Januari 2021. Sebagai informasi, PKS tersebut beroperasi sejak Agustus 2019. Kapasitas produksinya mencapai 60 ton TBS per jam dan dapat ditingkatkan menjadi 90 ton per jam atau setara 100.000 ton CPO per tahun.

Ketiga, 12,5 persen akan dimanfaatkan untuk pembangunan berupa pengerasan jalan.

Proyek ini akan menghubungkan lokasi perkebunan dengan Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Totalnya sepanjang 76.670 meter dengan rincian sebagai berikut: sepanjang 23.300 meter berlokasi di Muara Benongan Estate, 3.430 meter di Muara Langgai Estate, dan 49.940 meter di Muara Merang Estate. Pekerjaan akan dilakukan mulai Maret 2020 sampai dengan Desember 2020.

Keempat, sekitar 12,5 persen untuk membangun fasilitas perumahan karyawan tahap kedua.

Berada di sekitar lokasi operasional Pradiksi Gunatama. Fasilitas perumahan karyawan terletak di Muara Apar Estate dan Muara Langgai Estate di Desa Petangis dan Desa Langgai

Semantara itu, Direktur Keuangan dan Administrasi Pradiksi Gunatama Tamlikho mengatakan, pencatatan saham ini merupakan realisasi dari komitmen manajemen untuk go public melalui mekanisme perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sebagai referensi, berdasarkan informasi Investindo Nusantara Sekuritas, sebanyak 1.860 investor memesan saham perseroan. Dari total tersebut, sejumlah 211 Juta lebih saham merupakan permintaan yang berasal dari pooling allotment yang mencerminkan kelebihan permintaan sebanyak 23,54 kali dari porsi pooling tersebut, atau secara keseluruhan terjadi oversubscribed sebesar 1,23 kali. 

Hingga akhir 2019, perseroan membukukan kenaikan penjualan bersih menjadi Rp229,25 Miliar, dibandingkan dengan periode sama di tahun sebelumnya Rp84,51 Miliar. Peningkatan ini seiring dengan selesainya pabrik minyak kelapa sawit perseroan yang sudah beroperasi sejak Agustus 2019. 

Terkait pembagian dividen, perseroan mengusulkan mulai tahun 2023 atau dari raihan laba bersih tahun buku 2022. Dengan ketentuan laba bersih setelah pajak Rp50 Miliar sampai dengan Rp100 Miliar dividen yang dibagikan sebesar 15 persen dan laba bersih setelah pajak di atas Rp100 Miliar dividen yang dibagikan sejumlah 20 persen.

Hingga 31 Desember 2019, total aset perseroan sebesar Rp1,93 Triliun dan total Liabilitas Perseroan tercatat sebesar Rp1,19 Triliun. Total Ekuitas pada tanggal 31 Desember 2019 adalah sebesar Rp745,81 Miliar. 

Perseroan yang didirikan pada 1995 ini memiliki kegiatan usaha utama bidang perkebunan dan pengolahan kelapa sawit terpadu. Saat ini, perseroan menguasai perkebunan kelapa sawit seluas 22.586 Ha yang berlokasi di Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur dengan areal tanam seluas 12.869 ha dengan tanaman telah menghasilkan seluas 11.669 Ha (51,66 persen ) dan tanaman belum menghasilkan seluas 1.200 Ha (5,31 persen). 

 Selain itu, luas areal tanam milik perseroan yang masih dapat dikembangkan seluas 5.993 Ha (26,53 persen) dan areal yang tidak dapat ditanam sebesar 3.725 Ha (16,49 persen). Perseroan memiliki pabrik minyak kelapa sawit dengan kapasitas 60 ton per jam dan masih dapat ditingkatkan menjadi 90 ton per jam atau setara dengan +/- 100 ribu MKS per tahun.

 

SF

Dipromosikan