BPOM Ingatkan Pola Pengamanan Distribusi Obat

0
45
Ilustrasi : https://pixabay.com/

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperingatkan para pemegang izin pedagang besar farmasi (PBF) meningkatkan pengawasan distribusi dan kontrak hukum dengan jasa pengiriman.

Direktur Pengawasan Distribusi dan Pelayanan Obat, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor BPOM, Hardaningsih menuturkan terjadi peningkatan laporan kehilangan obat di jasa pengiriman yang diterima otoritas.

Kehilangan ini akan meningkatkan risiko penyalahgunaan karena dapat beredar bebas di tengah masyarakat. Produk farmasi dalam penggunaannya harus berada di bawah kontrol pihak tersertifikasi seperti dokter atau tenaga apoteker.

Meski tidak menyebutkan besaran peningkatan penyimpangan dalam jalur distribusi, BPOM kata Hardaningsih, tidak dapat menerima penjelasan hanya dengan melampirkan surat kehilangan dari kepolisian. Para distributor harus mampu memilih jasa distribusi yang baik hingga mekanisme pengamanan lainnya untuk memastikan tidak terjadi kehilangan produk selama proses distribusi.

“PBF harus bisa membuktikan itu murni sebagai kejahatan atau kami akan kejar pertanggung jawabnya,” kata Hardaningsih dalam acara sosialisasi Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) di Jakarta, Kamis (31/5/2018).

Kejahatan melalui jasa distribusi ini, kata dia, baru saja diungkap oleh BPOM di Jawa Tengah pada akhir Mei. Salah satu produsen farmasi ilegal menyamar sebagai ekspedisi untuk mengelabui otoritas. Karena memahami jalur distribusi, produsen produk ilegal ini juga memasukan produknya ke jalur resmi.

“[Untuk itu] Dalam perjanjian ekspedisi obat, kehilangan jangan hanya ganti ruginya namun juga tanggung jawab hukumnya [karena BPOM akan kejar tanggung jawab hukumnya],” katanya lebih lanjut.

PHB

TINGGALKAN JAWABAN

Masukkan komentar Anda!
Mohon masukkan nama Anda di sini

*